
Seorang Ibu bernama Cicih, 78, di Kota Bandung, Jawa Barat, digugat empat anak kandungnya sebesar Rp 1,6 miliar.
JawaPos.com - Seorang Ibu bernama Cicih, 78, di Kota Bandung, Jawa Barat, digugat empat anak kandungnya sebesar Rp 1,6 miliar. Hal ini lantaran dia menjual harta warisan keempat anak yang sudah diasuhnya sejak kecil.
Berawal dari harta warisan peninggalan almarhum suaminya bernama S Udin yang dijual demi kebutuhan hidup sehari-hari. Cicih di usia senjanya harus menerima kepahitan hidup dan beban yang sangat berat.
Empat dari lima anak kandungnya menggugat dirinya karena menjual harta warisan yang diklaim hak istri dari almarhum suaminya. Mereka yakni Ai Sukawati, Dede Rohayati, Aji Rusbandi dan Ai Komariah menggiring Ibu kandungnya hingga ke ranah hukum yang sampai saat ini terus diproses.
"Saya sangat sedih, kenapa anak-anak malah menggugat saya. Padahal itu adalah hak saya dari peninggalan almarhum suami," Kata Cicih kepada JawaPos.com, di kediamannya Jalan Emah Jaksa, Kecamatan Cipadung, Bandung, Sabtu (24/2).
Pengakuan Ibu Cicih menjual tanah seluas 91 meter kepada seorang Bidan Iis Rila Sundari karena terlilit hutang. "Jadi saya sering pinjam uang ke bu bidan untuk kebutuhan hidup, karena semakin gede jadi dijual buat lunasin," ungkapnya.
Sebelum menjual, kata dia sudah memberitahu kepada anak-anaknya. Katanya, Ada pihak yang setuju ada pun yang berpendapat belum tahu kabar tanah tersebut akan dijual. Sehingga respon empat anak Ibu Cicih memilih membawa ke jalur hukum.
"Sebelum dijual sudah kasih tahu, saya datangi anak-anak. Saya datangi Ai Sukawati, setuju saja tapi malah ikut menggugat," sebutnya.
Tanah yang terletak bersebelahan dengan rumah Ibu Cicih luas tanah 332 meter dijual seluas 91 meter dengan harga Rp 250 juta. Nominal hutang kepada Bidan Iis sebesar Rp 15 - Rp 20 juta.
Dari hasil penjualan tanah, Ibu Cicih menggunakan uang tersebut tidak hanya untuk kebutuhan pribadinya namun juga untuk anak-anaknya termasuk penggugat. "Sisa bayar hutang, uangnya diserahkan ke anak tergugat untuk renovasi rumah yang sekarang jadi kontrakan," tuturnya.
Sebelum diserahkan kepada anak salah satu penggugat sebesar Rp 138 juta untuk renovasi rumah yang akan dijadikan kontrakan, adanya perjanjian. Yakni pinjam dan akan dikembalikan dengan dicicil. "Tapi sampai sekarang belum ada uang cicilan yang masuk," sebutnya.
Ibu sekaligus nenek bagi cucu dari anak kandungnya kini tinggal bersama putri bungsunya yang kelima yakni Alit Karmilah,46 di Jalan Embah Jaksa Rt 01 Rw 01, Kecamatan Cipadung Kota Bandung. "Di rumah ini ada 8 orang termasuk anak yang menggugat, Dede Rohayati yang masih TK," ujarnya.
Setelah menjual sebidang tanah kehidupan Ibu Cicih tidak cukup membaik, dirinya kerap menghutang kembali kepada tetangganya untuk kebutuhan sehari-hari.
"Sering ngutang ke warung si aa di depan, bayarnya setiap bulan. Jadi kalau ada uang bayar terus hutang lagi," tandasnya.
Kini Ibu Cicih menanggung biaya hidupnya dari pensiun almarhum suaminya senilai Rp 1,2 juta dan separuh uang kontrakan yang sebelumnya telah direnovasi.
Namun karena nominalnya tidak cukup untuk 8 orang tanggungannya dan kebutuhan yang semakin besar maka untuk mengcover kebutuhan pangan sehari-hari harus hutang.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
