
Kondisi speedboat
JawaPos.com - Kecelakaan Speedboat atau kapal cepat 'Awet Muda' di Sumsel memberikan rasa trauma kepada korban selamat. Salah satunya bagi Rizal Muchtar, 52 warga Primer Dua Karang Agung, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel.
Ini merupakan kali keduanya menjadi korban dalam kecelakaan. Namun, baginya apa yang terjadi kali ini sangatlah memilukan. Karena ia harus kehilangan tiga keponakannya karena terbawa arus sungai.
Rizal yang bekerja sebagai pegadang sepatu ini mengaku, sebelum digulung ombak kapal yang ditumpanginya mengalami kerusakan patah as pada mesin. Sehingga dari semula dua mesin yang beroperasi menjadi hanya satu mesin saja.
"Kerusakan terjadi setengah jam setelah speedboat jalan," katanya saat ditemui di lokasi pencarian korban hilang, Kamis (4/1).
Speedboat yang ditumpanginya ini berangkat pada pukul 13.30 WIB dari Karang Agung menuju Kota Palembang. Setelah rusak, pengemudi speedboat atau serang memaksa kapal untuk terus berjalan sembari menunggu kapal lain untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
"Akhirnya kami berhenti di Lopak, menunggu diperbaikinya mesin," ujarnya.
Pukul 16.30 kondisi kapal kembali normal. Kapal pun langsung melaju kencang meski arus deras. Hingga akhirnya pada pukul 18.00 kapal dihantam ombak yang mengakibatkan moncong kapal patah dan kapal yang penuh dengan penumpang itupun tenggelam. "Kami seisi kapal panik dan keluar dari kapal dengan meloncat," terangnya.
Sebahian penumpang meloncat, ada sebagian penumpang terbawa arus kemudian ada jugapenumpang yang tidak sempat melompat sehingga ikut tenggelam. Pasca kapal tenggelam kemudian kapal kembali terapung dan akhirnya penumpang langsung mendekati kapal sebagai pertolongan pertama.
"Kami hanya berpegang di kapal saja karena tidak ada alat pelampung," ujarnya.
Selama 20 menit akhirnya ada kapal getek melintas dan memberikan pertolongan. Meskipun dirinya selamat. Namun, ketiga ponakannya terseret arus dan sampai sekarang Belum ditemukan.
“Ketika keponakannya itu, Hari, Willi dan Diko,” terangnya.
Menurutnya, salah satu penyebab tenggelamnya kapal karena Serang atau nahkoda kapal mengambil jalur yang terlalu luas. Padahal ada jalur lainnya yang lebih sempit yang biasanya dilewati.
“Biasanya bukan lewat jalur kemarin tapi jalur satu lagi yang agak kecil. Sayan juga bingung kenapa serangnya mengambil jalur tersebut,” tutupnya
Sementara itu Kepala Kantor SAR Palembang, Toto Mulyono mengaku, pihaknya telah melakukan pencarian hampir 10 jam di lokasi kejadian. Pencarian dilakukan dengan menurunkan 15 anggota Basarnas dibantu dengan Polair, Polres Banyuasin dan lain sebagainya.
“Total anggota dalam pencarian ini sebanyak 50 orang,” katanya saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Lago, Banyuasin usai melakukan pencarian.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
