
Anggota Komunitas SHOKL Bandung
JawaPos.com – Tampil beda, aneh, unik dari kebanyakan orang pada umumnya menjadi daya tarik tersendiri. Itulah Komunitas Suara Hati Orang Kolong Langit (SHOKL) Bandung. Anggota Komunitas ini begitu percaya diri dengan penampilannya.
Shokl merupakan komunitas seniman, khususnya pelukis Kota Bandung. Ada keunikan tersendiri dari Skokl. Yaitu, sejumlah anggotanya berdandan unik dengan aksesoris hampir menghiasi seluruh tubuh.
Misalnya, Gustaf. Anggota Shokl yang satu ini mengenakan aksesoris di hampir seluruh anggota badannya dengan berbagai biji-bijian yang dirangkai menjadi gelang di tangan, kalung, anting, cincin dan gelang kaki.
Gusnaf sudah konsisten dengan hobinya tersebut. “Dengan memakai ini semua saya lebih percaya diri. Aneh pasti tapi ini yang menjadi pembeda antara saya dan orang lain,” jelasnya saat ditemui Jawapos.com di Car Free Day (CFD) Dago, Minggu (17/12).
Gusnaf memakai asesoris dari biji-bijian yang dirangkainya sendiri. Asesoris yang dipakainya beratnya mencapai hampir 4 kilogram yang terdiri dari 54 gelang tangan, 40 kalung dan 20 gelang kaki. Semua asesoris terbuat dari biji-bijian yang ada di Jawa Barat dan Nusantara.
Adapun jenisnya yaitu biji palem, ganitri, kelapa cina, kelapa jepang dan lainnya. Semua biji tersebut didapat tidak dengan memetik tapi mengambil biji yang memang sudah jatuh di tanah. “Jadi semuanya saya peroleh secara alami,” ungkap Gusnaf sambil memperlihatkan semua asesorisnya.
Memakainya pun tidak sembarangan. Karena setiap asesoris memiliki makna dan filosofinya sendiri. Gelang diartikan bahwa setiap pegangan harus selalu bulat dan teguh. Kalung sebagai kepatuhan karena terletak di dada, dan cincin sebagai cinta abadi yang diletakkan di jari tengah.
Setiap apa yang dipakai baik asesoris maupun yang lainnya yang memperlihatkan seni dan budaya Nusantara harus tahu dan paham. Sehingga tidak hanya sekerdar memakai namun ikut memperkenalkan dan melestarikan budaya Indonesia. ''Jadi yang saya kenakan ini penuh makna,'' ujarnya
Gusnaf, yang lahir dan besar di Bandung konsisten memakai dan melestarikan budaya Sunda sejak 1993. “Aksesoris pertama saya di tahun 1993, saya konsisten dan terus menambah asesoris lainnya sampai sekarang,” katanya.
Bahkan begitu ektrimnya, waktu tidurpun, Gusnaf tetap memakai semua Asesoris 4 kilogram itu. Hal ini dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Namun dalam satu minggu satu atau dua kali Gusnaf melepas aksesoris tersebut untuk kesehatan tubuhnya.
Awal perjalanan berpenampilan aneh tersebut, Gusnaf mendapatkan respon negatif dari keluarganya. Namun lambat tahun keluargapun memakluminya. Bahkan ke undangan, melayat dan pergi ke luar kota tetap dengan penampilan uniknya.
Selain biji-bijian Gusnaf pun memanfaatkan batang pohon palem untuk dijadikan tempat serba guna yang bisa dibawa kemana-mana. Kalung dari tengkorak rusa dan burung yang didapat dari luar jawa.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
