Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 November 2017 | 05.27 WIB

Minyak "Pembesar" Laris di Pesta Seni dan Budaya se-Kalimantan

Stan milik Hernawati, dari dewan adat Palangkaraya, Kalimantan Tengah dalam acara PSBDK XV di Gedung Pusat Kebudayaan Hardjosoenantri, UGM Yogyakarta. - Image

Stan milik Hernawati, dari dewan adat Palangkaraya, Kalimantan Tengah dalam acara PSBDK XV di Gedung Pusat Kebudayaan Hardjosoenantri, UGM Yogyakarta.

JawaPos.com - Hari pertama membuka stan di Pesta Seni dan Budaya se-Kalimantan (PSBDK) XV di Gedung Pusat Kebudayaan Hardjosoenantri, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Hernawati sudah kehabisan stok minyak buntal ukuran 25 dan 60 mililiter. Minyak yang digunakan untuk memperbesar dan memperpanjang alat vital pria itu banyak diminati oleh bapak-bapak.


"Tidak ngitung berapa stoknya. Tapi sudah habis baru hari pertama ini. Saya juga kaget. Yang beli bapak-bapak," kata Hernawati dari dewan adat Palangkaraya, Kalimantan Tengah kepada Jawapos.com, Rabu (15/11).


Minyak buntal dengan ukuran 25 mililiter dijualnya seharga Rp 200.000. Untuk 60 mililiter seharga Rp 500.000. Tinggal yang botol yang berharga Rp 100.000. "Tinggal yang kecil saja," tuturnya.


Selain buntal, minyak yang unik dijualnya adalah bulu perindu. Ini untuk penglaris atau memikat pasangan. Cara menggunakannya, cukup dioleskan ke tubuh pengguna dan pasangan yang dituju. "Zaman dulu, ini digunakan untuk penglaris, tapi kemudian untuk pelet," jelasnya.


Mereka yang tertarik untuk membeli minyak bulu perindu, harus dijelaskan dulu apa maharnya (tujuan membeli). Ingin digunakan sebagai penglaris atau pelet. "Ini kan masih `kosong`. Kami harus tahu dulu, dimaharkan untuk apa. Kalau untuk penglaris tidak bisa digunakan sebagai pelet," katanya.


Minyak-minyak itu terbuat dari herbal dan merupakan budaya yang hampir tenggelam di daerah asalnya. Ia juga menjual berbagai pernak-pernik dari daerah Kalimantan Barat, Timur, dan Selatan. "Ini tradisional semua, kami angkat kembali. Karena kami anggap sudah hampir punah," ujar Hernawati.


Stan Hernawati, merupakan salah satu diantara beberapa stan yang ada di Gedung Pusat Kebudayaan Hardjosoenantri, UGM Yogyakarta. Dalam even yang digelar selama tiga hari kedepan, PSBDK XV yang bertema "Harmonisasi Budaya Dayak Melalui Kolektifitas Kearifan Lokal" menghadirkan beberapa acara.


Seperti atraksi budaya, aransemen lagu dan komposisi musik etnik dayak, ritual dange, sumpit, pangka gasing, kemudian permainan peheding. "Selain itu juga ada seminar budaya, resistensi masyarakat dayak dalam kerusakan ekologi," tutur Divisi Publikasi PSBDK XV Yovensius Yoni Diannanda.


Acara ini digelar oleh Himpunan Pelajar Mahasiswa Dayak Kapuas Hulu (HPMDKH). Selaku organisasi mahasiswa Dayak asal Kalimantan Barat yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore