
Tim gabungan Polsek dan Koramil Sekayam saat memantau patok batas negara di Megundu, Sanggau, Kamis (9/11).
JawaPos.com - Upaya Bhabinkamtibmas dalam membina desa memang penuh lika-liku. Tidak hanya soal jarak tempuh desa yang berpuluh-puluh kilometer, terkadang Bhabinkamtibmas juga harus berdamai dengan hukum adat di desa. Pelanggar pidana kerap kali juga menerima hukum adat.
Seperti yang terjadi di desa Suruh Tembawang, Entikong, di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Masyarakat dipimpin ketua suku yang kemudian bersama-sama menjalankan hukum adat. Beberapa tahun lalu, terjadi pembunuhan di desa yang jaraknya 40 km dari Entikong tersebut.
Bhabinkamtibmas Desa Suruh Tembawang Polsek Entikong Bripka Fransisco Redy menuturkan, saat pembunuhan itu terjadi, pelaku ditangkap masyarakat. Lalu, diserahkan kepada petugas Polsek. ”Pelaku dipidana, tapi di desa keluarganya terkena hukum adat,” ujarnya.
Hukum adat di Suruh Tembawang begitu unik. Bila melakukan pembunuhan, maka keluarga yang membunuh itu harus menggantikan dengan berbagai barang sehari-hari.
”Orang yang dibunuh itu semua anggota tubuhnya harus digantikan dengan barang. Misal, kepala digantikan tempayan, tangan diganti mangkok dan sebagainya. Ya, sepaket barang-barang sehari-hari,” urainya ditemui di Polsek Entikong, Kamis (9/11).
Namun, hukum adat memang tidak sepenuhnya mengatur fenomena yang terjadi di desa. Pernah suatu kali Redy membahas hukum pidana dan adat dengan kepala suku.
”Boleh hukum adat itu berlaku di desa, tapi ada beberapa yang tidak diatur. Misalnya, soal narkotika. Saya tanya itu ketua suku, ada tidak hukum adat soal narkotika. Padahal, di desa beberapa kali masuk narkoba. Kepala suku geleng-geleng, tidak ada hukum adat soal narkotika,” tuturnya.
Oleh sebab itu, hukum ada tidak berlaku di sana. Tetapi, bukan berarti para pemadat atau pengedar narkoba bisa enak-enakan. Sebab, polisi tetap dengan tegas melakukan penindakan.
Untuk informasi, Entikong merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia. Entikong memiliki jalur perbatasan darat dengan Malaysia khususnya Sarawak. Wilayah Entikong memiliki luas 506,89 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 13.346 jiwa.
Ikuti artikel bersambung tentang peran polisi di perbatasan Entikong, hanya di JawaPos.com.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
