Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Oktober 2017 | 12.51 WIB

Tak Ada Tanda Kekerasan, Keluarga Praja IPDN Urungkan Autopsi

Keluarga saat menabur bunga di atas makam Dhea Rahma Amanda (17) di Taman Pemakaman Keluarga Jalan ZA Pagar Alam,Bandarlampung Senin (2/10). - Image

Keluarga saat menabur bunga di atas makam Dhea Rahma Amanda (17) di Taman Pemakaman Keluarga Jalan ZA Pagar Alam,Bandarlampung Senin (2/10).

JawaPos.com - Setelah melihat kondisi jenazah Dhea Rahma Amanda, praja IPDN tingkat I angkatan 28 tahun 2017 yang berpulang saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar), pada Minggu (1/10), pihak keluarga mengurungkan niatan untuk autopsi.


"Kami dari keluarga sudah tak menginginkan otopsi. Kami ikhlas. Kasihan almarhumah (Dhea, Red)," ungkap Herniyanto, paman Dhea.


Menurut dia, pihak keluarga tidak melihat adanya tindak kekerasan terhadap almarhumah. Alasan itulah yang melatarbelakangi pihak keluarga menerima kepergian Dhea untuk selama-lamanya.


''Kemarin sore adek saya nelfon, setelah selesai melihat almarhumah di rumah sakit, dia bilang tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tapi, memang dulu almarhumah pernah sakit sesak napas dan sudah sembuh,'' ucapnya.


Berdasar pantauan di rumah duka, ratusan pelayat menyambut jenazah di rumah duka. Tampak juga Kapolresta Bandar Lampung Kombes Murbani Budi Pitono yang menunggu kedatangan almarhumah. Jenazah Dhea tiba di rumah duka sekitar pukul 10.50 WIB dengan menggunakan ambulans serta dilakukan upacara penyambutan.


Setelah sampai di rumah duka, tak lama kemudian jenazah dibawa ke Masjid Nurul Yaqin untuk disalati. Jenazah lantas dikebumikan di makam keluarga Jambat Bungui.


Edi Hanafia, ayah Dhea, mengaku menerima kematian putri pertamanya saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) IPDN. ''Ya, kami menerima. Itu mungkin ajal dan garisan takdir. Awalnya, memang kami minta otopsi. Tapi, saya mendengar keterangan gubernur Akpol dan IPDN bahwa tidak terjadi apa-apa,'' terangnya di pemakaman.


Menurut dia, gubenur Akpol dan gubenur IPDN menyaksikan langsung dan menyakinkan bahwa tidak terjadi apa-apa seperti tindak kekerasan. ''Jadi, saya ikhlas dan membatalkan otopsi. Dulu memang waktu kecil pernah sesak napas dan sampai besarnya masih ada alergi,'' jalasnya.


Kepala Biro Administrasi Keprajaan IPDN Dr Andi Oni P. MSi menyatakan, untuk menangani kasus meninggalnya Dhea, dilakukan pemeriksaan sesuai dengan SOP yang berlaku. ''Hasilnya tidak ada apa-apa. Namun, memang sebelumnya tidak sakit apa-apa,'' katanya setelah pemakaman.


Mengenai pemeriksaan kesehatan, Andi menuturkan, setiap praja melalui seleksi yang ketat, dari tingkat daerah hingga pusat. ''Di daerah ada dua kali. Hingga ke IPDN pun dilakukan tes kesehatan oleh dinas TNI Angkatan Darat. Nah, setelah itu baru pelaksanaan di Akpol,'' lanjutnya.


Pihak Akpol, sambung dia, juga memiliki fasilitas kesehatan untuk para praja yang mengikuti pendidikan dasar. ''Jadi, selalu dilakukan pengecekan kepada setiap praja yang mengikuti Diksar Mendispra secara rutin. Terakhir kami kunjungan ke sana untuk memonitoring praja, yang bersangkutan (Dhea, Red) tidak sakit,'' ucapnya. 

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore