Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Mei 2017 | 14.07 WIB

Jika Sembuh Ingin Jadi Guru, Bocah Penderita Kanker Tulang Butuh Biaya

Jika Sembuh Ingin Jadi Guru, Bocah Penderita Kanker Tulang Butuh Biaya - Image

Jika Sembuh Ingin Jadi Guru, Bocah Penderita Kanker Tulang Butuh Biaya

JawaPos.com - Namanya Hajar Nasifa (8). Semangatnya menjadi guru masih tetap menggebu-gebu. Meskipun, saat ini Nasifa harus melawan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Berikut laporan M Hadiyan, wartawan Radar Pekalongan (Jawa Pos Group).



Kisah gadis mungil penderita kanker tulang asal Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan ini cukup menguras air mata. Kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya mengancam cita-citanya yang ingin menjadi seorang guru.



Sungguh cita-cita yang sangat mulia. Tapi apa daya, dia divonis kangker ganas. Orangtuanya yang hanya bekerja buruh serabutan belum mampu mengobatinya. Kondisi orangtuanya, Warno (31) dan Andriyani (28) sangat memprihatinkan.



Setiap hari, ia menghabiskan waktunya hanya di atas tempat tidur. Mulai dari makan, minum hingga BAB. Hal ini membuatnya terpaksa putus sekolah satu tahun lalu. Waktu itu ia baru menginjak kelas 2 SD. Sudah hampir dua tahun ini, ia mengalami sakit yang belum terobati.



Menurut Andriyani, awal penderitaan Nasifa tersebut terjadi sekitar tahun 2015. Saat anaknya masih berusia 7 tahun,  masih duduk di bangku kelas 1 SD. "Saat itu, anak saya terjatuh saat main. Tangan kirinya sakit. Akan saya bawa ke tempat pijat, anaknya bilang tidak usah. Namun semakin lama, tangannya membengkak," tutur Andriyani mengenang keceriaan putri pertamanya itu.



Karena kondisi tangan putrinya semakin membengkak, kedua orangtuanya lantas memeriksakannya di sebuah Klinik di Jalan Gajahmada Kota Pekalongan. Dari situlah, diketahui adanya benjolan yang diduga tumor pada anaknya itu. "Hasil rontgen ternyata tanganya tidak patah, tapi ada benjolan yang diperkirakan tumor itu," kata Andriyani.



Karena takut terjadi apa-apa pada tangan kiri putri sulungnya, oleh keduanya dibawa ke RS ARO Batang. Di RS ARO itu kemudian diambil sampelnya, ternyata tumor ganas menyerang tulang kiri gadis tersebut. "Saat itu langsung dirujuk ke RS Karyadi Semarang. Dan benjolan ditangannya semakin membesar," terangnya.



Upaya penyembuhan telah beberapa kali dilakukan dengan kemoterapi, namun belum juga ada hasilnya, karena terlanjur ganas. Proses penyembuhan membuat rambutnya satu persatu rontok, hingga kepalanya plontos. "Kita sudah habis-habisan, Mas. Satu motor kami jual, tapi usaha kami belum ada hasilnya,” tamah Warno, ayah Nasifa.



Diakui Warno, pengobatan anaknya memang menggunakan BPJS. Namun, kedua orangtua Nasifa ini keberatan biaya hidup yang harus ditanggung selama masa pengobatan di Semarang. “Ya, akhirnya hanya dirumah saja,” terangnya lemas.



Kondisi Nasifapun makin lemas. Nasifa kerap menangis dan tidak ceria seperti sebelumnya. Cita-citanya menjadi seorang pengajar kini harus tertunda dulu karena melawan penyakitnya. Jangankan untuk bersekolah, untuk berdiri dan bercakap saja, kini sulit dilakukan.



"Kita hanya bisa pasrah saja. Kita tetap berdoa. Kita inginkan anak saya itu, ceria kembali sehat seperti sebelumnya,” celetuk Warno.



Setiap malam, Nasifa sering menangis karena merasakan sakit di tangan kirinya. “Saat malam, Nasifa menangis kesakitan. Istri saya yang tidak tau harus berbuat apa, malah sering ikut-ikutan menangis,” jelas Warno lirih.



Warno dan Andriyani ini masih berharap atas kesembuhan anak pertamanya itu. Mereka ingin kembali melihat senyum bahagia buah hatinya tersebut. "Kami hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya,” harap Warno. (yuz/JPG)


Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore