
Museum PD II di Morotai yang terbengkalai
JawaPos.com - Memprihatinkan. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan kondisi Museum Perang Dunia II yang dibangun tahun 2012. Padahal di dalam museum yang diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono kala itu, menyimpan banyak situs sejarah perang dunia kedua.
Muhlis Eso, warga Morotai yang dipercayakan untuk menjaga museum tersebut mengaku pasrah ketika pihak Perusahan Listrik Negara (PLN) datang melakukan pemutusan terhadap listrik di Musem tersebut. Padahal Muhlis mengaku, meteran listrik yang menggunakan sistem voucher pulsa itu selalu diisi.
Namun entah kenapa pihak PLN datang dan lakukan pemutusan. "Katanya kita mencuri aliran listrik. Padahal aliran listrik itu dipasang sejak tahun 2012 dan pulsanya selalu diisi," akunya ketika ditemui di Museum Perang Dunia (PD) II di Desa Juanga Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), Rabu (1/03).
Museum yang terletak di Desa Juanga Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) itu, kata Muhlis, masih diperhatikan saat Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi masih dijabat Nurlaila Armaiyn. Namun setelah Nurlaila dicopot dari jabatannya, Museum PD II seperti kehilangan penghuni.
"Saya hanya disuruh jaga. Tanpa digaji tapi sangat disayangkan situs sejarah yang begitu banyak ditampung dalam museum tapi tidak diperhatikan oleh Pemkab Morotai maupun Pemprov Malut," katanya seperti dilansir dari Malut Post (Jawa Pos Group).
Bangunan yang berukuran 20x20 meter persegi itu, saat ini atapnya sudah bocor, plafonya rusak. Sehingga saat musim hujan tiba, di dalam gedung museum tergedang air dan beberapa baliho Lukisan PD II mulai rusak karena tergenag air. Bahkan dalam ruangan museum saat ini sangat gelap karena pihak PLN sudah melakukan pemutusan aliran listrik. Kalau masuk ke museum harus menggunakan alat penerangan. "Kalau ada turis yang mau berkunjung saya malu, karena kondisi ruangan bau dan tidak terurus," keluhnya.
Muhlis mengaku, dirinya merasa kecewa terhadap Pemprov Malut dan Pemkab Pulau Morotai karena setelah bangunan museum itu dibangun, katanya ada anggaran perawatan untuk bangunan museum, tapi setelah Ila Armain tidak menjabat lagi di tahun 2015, hingga saat ini anggaran perawatan dari provinsi maupun pemkab tidak lagi diberikan. "Morotai dikenal karena situs sejarah PD II, tapi kalau isi dari museum ini dicuri dan tidak ada lagi apa yang mau dilihat di dalam museum tersebut," cetus lelaki yang saat ini berusia 36 tahun itu.
Muhlis berharap, pemkab maupun pemprov segera memperbaiki museum tersebut. Kalau tidak dirinya bersama rekan-rekannya menarik semua situs sejarah PD II yang ada di dalam museum dan dikembalikan lagi di gubuk musem. “Karena di museum itu, jauh dari pemukiman warga, sehingga kalau ada pencuri yang masuk, maka tidak diketahui,” ujarnya.
(din/jfr/sad/JPG)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
