
Ilustrasi
JawaPos.com- Kolam galian C di Ngawi kembali menelan korban jiwa. Kali ini nahas menimpa Bella Nurlita, bocah asal Desa Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Korban ditemukan tewas mengambang di kolam galian itu pada Senin malam (30/1).
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ngawi, Bella sejatinya tidak bermain sendirian di lokasi berbahaya tersebut. Melainkan dengan teman sekelasnya, Bunga. Nah, saat bermain sekitar pukul 14.00, korban tiba-tiba terpeleset dan tercebur ke galian sedalam 3 meter itu. Tubuh mungil korban langsung ditelan derasnya air galian tersebut. Mengetahui hal itu, Bunga panik dan ketakutan.
’’Karena ketakutan melihat temannya tenggelam, Bunga langsung berlari pulang dan sembunyi di rumah hingga keduanya dianggap hilang,’’ kata Kapolsek Widodaren AKP Juwahir.
Karsini, ibu korban, khawatir karena hingga pukul 17.00 Bella tidak kunjung pulang. Apalagi, saat dicari ke rumah tetangga dekat, tidak membuahkan hasil. ’’Namanya anak-anak mau bagaimana lagi. Karena sore tidak pulang, ibunya khawatir dan mencarinya,’’ tambahnya.
Karsini, lanjut Juwahir, terus mencari putri keduanya itu ke rumah teman anaknya. Sayang, Bunga tidak ada di tempat. Dia mulai dilanda kepanikan, apalagi pencarian selama sejam tersebut belum kunjung membuahkan hasil. Dia pun mendatangi lokasi galian C yang berada 300 meter dari rumahnya.
Hati Karsini mulai tidak tenang setelah melihat rambut terurai di dalam air. Dia lantas histeris mendapati anaknya sudah tidak bernyawa dan kaku. Para tetangga lalu membantu melakukan evakuasi. ’’Selanjutnya, kejadian itu dilaporkan ke polisi,’’ imbuhnya.
Mantan Kasatreskoba Polres Ngawi tersebut menjelaskan, penyebab meninggalnya korban murni karena kecelakaan. Dari hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Hanya, kondisi tubunya membiru dan bengkak karena terlalu lama berada di dalam air.
’’Setelah divisum, korban selanjutnya dibawa ke rumah duka,’’ tambahnya.
Menurut Juwahir, galian C itu milik Supadi. Meski tambang galian C miliknya merenggut korban jiwa, pria asal Desa Sidomakmur, Kecamatan Widodaren, Ngawi, tersebut tidak dinyatakan bersalah. Sebab, galian itu legal lantaran sudah berizin dan peristiwa tersebut terjadi secara tidak disengaja.
’’Air itu ada karena hujan deras sehari sebelumnya. Sedangkan galiannya baru dua harian ini berjalan. Hanya, kami minta setiap muncul genangan disedot atau dipasang papan peringatan agar tidak dijadikan lokasi bermain,’’ terang Juwahir. (odi/pra/c22/end)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
