Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 19.38 WIB

Kisah Nenek Kartini, Memeluk Batang Pohon di Tengah Gulungan Banjir Bandang

Kartini, perempuan berusia 60 tahun itu nyaris kehilangan nyawa ketika banjir datang mendadak. - Image

Kartini, perempuan berusia 60 tahun itu nyaris kehilangan nyawa ketika banjir datang mendadak.

JawaPos.com - Banjir bandang yang terjadi di delapan desa di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, menyimpan cerita pedih. Kartini, perempuan berusia 60 tahun itu nyaris kehilangan nyawa ketika banjir datang mendadak.

Minggu sore (22/1) seperti biasa, Kartini, warga Desa Citenjo, berada di dalam rumah usai melaksanakan salat ashar. Kedua cucunya yang menemani selama ini sedang bermain di luar rumah. Kartini tidak menyangka jika hari itu bakal kedatangan tamu tak diundang, yakni banjir bandang.

Sekitar pukul 16.30, Kartini baru menyadari jika ada air yang mulai masuk ke rumahnya. Awalnya dia tak begitu mempedulikan karena menganggap sudah biasa. Terlebih rumahnya hanya berjarak sekitar seratus meter dari sungai Cijangekol. Namun makin lama, air tersebut kian membesar.

Menyadari banjir, Kartini lantas keluar rumah. Dia kaget melihat air deras mendatangi rumahnya. Dia berusaha untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, air bah lebih cepat menerjang tubuh ringkihnya. Di tengah kesadarannya, Kartini melihat sebatang kayu yang mengapung di atas air sungai yang terus membesar.

Tangannya lantas meraih batang kayu tersebut dan dipeluk erat. Selain memegang batang kayu, rupanya dia juga berhasil meraih kandang yang terbawa banjir. Selama beberapa menit, Kartini terombang-ambing di tengah derasnya banjir bandang.


Sampai akhirnya dia terdampar di jalan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Kartini mengaku selama terbawa banjir, dia melihat banyak kayu-kayu yang terbawa banjir. Bagi Kartini, kejadian tersebut tidak mungkin dilupakannya seumur hidup.


“Nenek sangat ketakutan ketika melihat gulungan air dari arah sungai menuju rumah. Tadinya saya keluar rumah mau mencari kedua cucu yang sedang bermain, malah terbawa arus sungai,” ceritanya.

Kartini mengatakan, ketika terbawa arus sungai, jantungnya berdegup kencang. Dia hanya bisa berdoa untuk diselamatkan sambil memeluk erat batang kayu serta kandang yang ikut terbawa arus. Pikirannya masih mengingat kedua cucunya yang belum ditemukan ketika banjir terjadi.

Beruntung arus sungai membawanya ke pinggiran hingga terkapar di jalan desa. Dia tak bisa membayangkan jika terbawa arus ke tengah sungai yang sedang meluap. “Alhamdulillah saya selamat. Batang pohon yang saya pegang dan kandang menjadi penopang tubuh ketika terbawa banjir,” ujarnya.

Meski rumahnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, namun Kartini kehilangan semua harta bendanya. Mulai dari ternak peliharan sampai barang elektronik. Yang tersisa hanya magicom. Namun yang membuat gembira, kedua cucunya diselamatkan tetanganya dalam kondisi selamat.

“Soal harta benda masih bisa dicari. Saya senang ketika mendengar kedua cucu saya selamat. Kejadian banjir ini tidak mungkin saya lupakan seumur hidup. Puluhan tahun tinggal di sini, baru kali ini merasakan banjir yang begitu hebat dan dasyhat,” ungkapnya. (Agus Panther/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore