alexametrics

Selamat Jalan, Ni Tanjung

18 Juli 2020, 05:16:38 WIB

JawaPos.com – Penyair dan Kurator Bentara Budaya Bali Warih Wisatsana pada Sabtu (18/07) mewartakan kabar duka, Ni Tanjung meninggal. Ni Nyoman Tanjung berpulang pada 17 Juli 2020 lalu setelah lama terbaring lemah seiring usia lanjutnya. Kepergian Ni Tanjung adalah kehilangan bagi seni rupa di Indonesia. Ni Tanjung merupakan orang pertama di Indonesia yang karyanya menjadi koleksi Museum Collection d’Art Brut di Lausanne, Swiss. Di sana, karya Ni Tanjung berdampingan dengan karya para perupa art brut dunia seperti Gustav Mesmer, Giovanni Bosco, Antonio Roseno de Lima, Monsieur Kashinath, dan Ezekile Messou.

Ni Tanjung tidak memiliki latar belakang pendidikan seni secara formal. Di desa tempat tinggalnya di Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Ni Tanjung dikenal sebagai warga yang mengalami gangguan jiwa. Ni Tanjung lahir dari keluarga petani miskin. Kehilangan tiga anaknya saat masih belia, menjadi korban bencana letusan Gunung Agung tahun 1963, hingga mengalami kecamuk peristiwa 1965 konon menjadikan jiwanya terguncang. Ni Tanjung pernah dipasung selama dua tahunan karena kondisi kejiwaannya yang labil.

Di luar kelabilannya, Ni Tanjung dikenal sebagai warga desa yang rajin mengumpulkan batu dari sungai di dekat rumahnya. Batu-batu itu lantas dia gambari beragam wajah. Tidak satu pun wajah di atas sekian banyak batu itu sama. Warga setempat tidak terlalu memperhatikan aktivitas tersebut. Maklum, di antara aktivitas itu Ni Tanjung lebih banyak diam, melamun, dan bicara melantur atau menari dengan bebas beriringan lantunan tembang dari bibirnya.

Ni Tanjung mulai dikenal oleh kalangan seni rupa setelah tanpa sengaja pelukis Made Budhiana berjumpa dengannya pada 1990-an. Saat itu, pelukis asal Bali lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut tengah berproses mencari obyek lukisan. Tanpa sengaja Budhiana bertemu Ni Tanjung dan batu-batunya. Budhiana diingatkan warga tentang siapa Ni Tanjung. Namun, Budhiana dan Ni Tanjung ternyata dapat berinteraksi. Sejak itu Ni Tanjung muncul dan jadi pembicaraan. Batu-batu berisi gambarannya banyak yang lantas berpindah tangan ke kolektor.

Ni Tanjung tak hanya memberi wajah pada batu berdasar ingatan rumpangnya. Tangannya juga mencipta wayang dengan karakter-karakter unik yang tak ada dalam kamus wayang manapun. Wayang-wayang tersebut kerap dimainkannya sembari melantunkan tembang atau menirukan suara dalang. Beberapa wayang kertas Ni Tanjung tersebut menjadi koleksi Museum Collection d’Art Brut yang menampung berbagai karya seni brut dari berbagai negara di dunia.

Jean Cocteau, kurator seni asal Prancis yang menetap di Bali menyebut karya-karya Ni Tanjung tampak terang berada di jalan seni brut. Genre itu dicetuskan Jean Dubuffet pada 1948 usai melakukan perjalanan mengumpulkan karya-karya dari panti dan rumah sakit jiwa di Eropa. Seni brut yang dalam bahasa Prancis berarti mentah lantas berkembang menjadi Outsider Art. Inilah genre karya seni yang lahir dari tangan otodidak, menggunakan media atau materi tak wajar, tak taat konvensi seni rupa tinggi, dan tidak bertendensi akan laku dijual atau tidak.

George Bregues, antropolog asal Swiss yang menjadi kurator pameran Artist from Else Where berisi karya Ni Tanjung dan Pakwi Dwi Putro di Bali pada 2014, memberi kesaksian kesehatan mendiang sudah mulai surut dari 2009. Surutnya kesehatan fisik Ni Tanjung membuatnya tak bisa lagi menembang atau menari sembari memainkan wayang-wayang ciptaannya. Memberi wajah pada batu-batu kali juga tak lagi dilakukannya.

Kini Ni Tanjung telah beristirahat dengan tenang. Orang boleh saja menyebutnya sakit jiwa berikut bermacam stereotip negatif bagi disabilitas psikososial. Lewat karya, Ni Tanjung menunjukkan stigma bagi mereka yang tak sama dengan kebanyakan orang sama sekali luput. Senyatanya, kepergian Ni Tanjung telah meninggalkan warisan penting bagi dinamika dunia seni rupa di Indonesia. Selamat jalan, Ni Tanjung. (tir)

Editor : tir



Close Ads