Hari Pertama Seseorang setelah Pandemi Berakhir
Tiba-tiba ia bangun dari haribaan
mimpi buruk. Beker keparat
berdering keras di ufuk timur
menggantikan matahari.
Seperti pagi sebelum pandemi, langit
abu-abu penuh debu, udara menguarkan
aroma kejahatan, jalanan macet,
sementara seekor burung phoenix
di batok kepalanya menggelepar ingin
meledakkan diri untuk lahir kembali.
Tiba-tiba ia membayangkan
kesepian Adam ketika baru tiba
di bumi terkutuk ini. Lama
ia terbengong-bengong
dan tampak begitu beloon.
Orang-orang mengendarai
kendaraan tapi seperti ada remot
yang mengontrol arah dan kecepatan
mereka, gerak-gerik mereka,
senyum muslihat yang tersungging
di antara mereka.
”Ke neraka masih jauh, Pak?” tanyanya
pada patung polisi di perempatan.
Tiba-tiba tubuhnya terseret
arus massa yang sepertinya terkontrol,
gelak tawa mereka juga terkontrol,
air mata mereka terkontrol, tepuk
tangan mereka terkontrol, kebebasan
yang dinyanyikan musisi di atas
gemerlap panggung itu terkontrol,
ketengilan dan semua dagelannya
terkontrol.
Diam-diam, ia raba isi celana seseorang
di sebelahnya. ”Eh, kont … rooolll!” sergah
orang itu dengan amarah terkontrol.
Ia lari terbirit-birit menuju sebuah
universitas, tapi yang ditemukannya
cuma pabrik onderdil. Ia lari ke gunung,
tapi yang dilihatnya dari ketinggian cuma
gedung-gedung pencakar yang serupa
makam raksasa.
Ia lari kesetanan mencari
keluarga besar di kampung halaman,
mencari kebun, mencari sawah …
Sial betul, yang ia temukan
cuma bekas-bekas galian tambang
dan orang-orangan dengan gaya
pakaian rombeng terkontrol.
Ia lari ke lautan luas untuk mencari
paus, untuk memasuki mulutnya,
untuk meluncur ke lambungnya, dan
tidur dengan lelap sentosa di sana
seperti dalam kisah sakral yang pernah
ia dengar di masa kecilnya.
Tapi di laut plastik
yang ia temukan
tak ada apa pun
selain limbah plastik
yang tidak terkontrol.
Ia berbalik dan lari tanpa tentu arah
sementara mulutnya tak henti-henti
menyemburkan sumpah serapah,
seperti burung phoenix, seperti
bom bunuh diri, seperti ketika
kau mencari dirimu yang telah hilang
bersama pandemi.
2021
---
Perjalanan Malam
Seperti kantuk, malam ini
kau pun tidak datang.
Seperti kutuk, setiap malam
di manakah ujung jalan.
2021
---
Hikayat Perang dan Cinta
Misalkan, cinta diri sendiri
adalah muasal penyakit memalukan
yang namanya harus dengan repot
kaukutip dari kamus klasik Yunani: narsis
Bayangkan juga, nyata-nyatanya
jatuh cinta pada yang lain
mungkin saja jadi alasan seseorang
mengakhiri hidupnya sendiri
Untuk membuktikan cintanya
pada ilmu pengetahuan, Sokrates
menenggak secangkir racun hemlock
ketimbang manut pada keyakinan
hakim-hakim goblok
Dan tak kalah tabah dari hujan bulan
Juni, bukan, para pencinta harta dan jabatan,
sekalipun kerajaan masa depan mereka
kerap dibayang-bayangi kaum nyinyir
tentang ganasnya sengatan tujuh matahari
serta jilatan jahanam api neraka
Memang tidak ada yang sedingin hati
para utusan, penerjemah firman Tuhan
atau penyebar kebajikan, yang mana
semasa hidupnya lebih sering dikerumuni
gerombolan musuh daripada pengikut setia
Kekasihku, jangan molor dulu, dengarlah
sebentar dengkingan anjing kampung
dari balik gelapnya gua purba di dadaku:
”Jika cinta tidak pernah ada, apakah
kau dan aku mungkin ada?”
Benar belaka, cinta kadang-kadang
serombeng rayuan iklan sabun,
sebab tidak seluruhnya tertampung—
bahkan oleh mimpi liar sekalipun,
oleh sekalian kisah adiluhung
serta imajinasi muluk tentangnya
Tapi jika kau percaya janji Nietzsche
bahwa perang adalah pelajaran terbaik
bagi umat manusia, adakah cinta
yang diperjuangkan sejak lahir leluhur
kita, Adam dan Hawa, dapat kita terima
sebagai pertempuran paling menjanjikan.
Seperti kemarin, seperti peta terbuka
tanpa kenaifan tapi tetap syarat rahasia,
kuharap kauberbaring di atas meja kayu itu,
junjunganku, tanpa takut bilur biru
apalagi cuma oleh butiran debu
2021
DERI HUDAYA
Lahir 3 September 1989 di Singajaya, Garut. Saat ini bekerja sebagai pengajar di Ilmu Komunikasi Universitas Garut. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Karyanya yang telah terbit berupa buku, antara lain, novel terjemahan Déng (2016) karya Godi Suwarna, cerpen bahasa Sunda Lalakon Kadalon-dalon (2018), dan antologi puisi bahasa Sunda Lalayaran Luhureun Heulang (2020).