Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Juni 2021 | 19.03 WIB

Sajak Deri Hudaya  

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Hari Pertama Seseorang setelah Pandemi Berakhir


Tiba-tiba ia bangun dari haribaan

mimpi buruk. Beker keparat

berdering keras di ufuk timur

menggantikan matahari.

Seperti pagi sebelum pandemi, langit

abu-abu penuh debu, udara menguarkan

aroma kejahatan, jalanan macet,

sementara seekor burung phoenix

di batok kepalanya menggelepar ingin

meledakkan diri untuk lahir kembali.

Tiba-tiba ia membayangkan

kesepian Adam ketika baru tiba

di bumi terkutuk ini. Lama

ia terbengong-bengong

dan tampak begitu beloon.

Orang-orang mengendarai

kendaraan tapi seperti ada remot

yang mengontrol arah dan kecepatan

mereka, gerak-gerik mereka,

senyum muslihat yang tersungging

di antara mereka.

”Ke neraka masih jauh, Pak?” tanyanya

pada patung polisi di perempatan.

Tiba-tiba tubuhnya terseret

arus massa yang sepertinya terkontrol,

gelak tawa mereka juga terkontrol,

air mata mereka terkontrol, tepuk

tangan mereka terkontrol, kebebasan

yang dinyanyikan musisi di atas

gemerlap panggung itu terkontrol,

ketengilan dan semua dagelannya

terkontrol.

Diam-diam, ia raba isi celana seseorang

di sebelahnya. ”Eh, kont … rooolll!” sergah

orang itu dengan amarah terkontrol.

Ia lari terbirit-birit menuju sebuah

universitas, tapi yang ditemukannya

cuma pabrik onderdil. Ia lari ke gunung,

tapi yang dilihatnya dari ketinggian cuma

gedung-gedung pencakar yang serupa

makam raksasa.

Ia lari kesetanan mencari

keluarga besar di kampung halaman,

mencari kebun, mencari sawah …

Sial betul, yang ia temukan

cuma bekas-bekas galian tambang

dan orang-orangan dengan gaya

pakaian rombeng terkontrol.

Ia lari ke lautan luas untuk mencari

paus, untuk memasuki mulutnya,

untuk meluncur ke lambungnya, dan

tidur dengan lelap sentosa di sana

seperti dalam kisah sakral yang pernah

ia dengar di masa kecilnya.

Tapi di laut plastik

yang ia temukan

tak ada apa pun

selain limbah plastik

yang tidak terkontrol.

Ia berbalik dan lari tanpa tentu arah

sementara mulutnya tak henti-henti

menyemburkan sumpah serapah,

seperti burung phoenix, seperti

bom bunuh diri, seperti ketika

kau mencari dirimu yang telah hilang

bersama pandemi.

2021

---

Perjalanan Malam


Seperti kantuk, malam ini

kau pun tidak datang.

Seperti kutuk, setiap malam

di manakah ujung jalan.

2021

---

Hikayat Perang dan Cinta


Misalkan, cinta diri sendiri

adalah muasal penyakit memalukan

yang namanya harus dengan repot

kaukutip dari kamus klasik Yunani: narsis

Bayangkan juga, nyata-nyatanya

jatuh cinta pada yang lain

mungkin saja jadi alasan seseorang

mengakhiri hidupnya sendiri

Untuk membuktikan cintanya

pada ilmu pengetahuan, Sokrates

menenggak secangkir racun hemlock

ketimbang manut pada keyakinan

hakim-hakim goblok

Dan tak kalah tabah dari hujan bulan

Juni, bukan, para pencinta harta dan jabatan,

sekalipun kerajaan masa depan mereka

kerap dibayang-bayangi kaum nyinyir

tentang ganasnya sengatan tujuh matahari

serta jilatan jahanam api neraka

Memang tidak ada yang sedingin hati

para utusan, penerjemah firman Tuhan

atau penyebar kebajikan, yang mana

semasa hidupnya lebih sering dikerumuni

gerombolan musuh daripada pengikut setia

Kekasihku, jangan molor dulu, dengarlah

sebentar dengkingan anjing kampung

dari balik gelapnya gua purba di dadaku:

”Jika cinta tidak pernah ada, apakah

kau dan aku mungkin ada?”

Benar belaka, cinta kadang-kadang

serombeng rayuan iklan sabun,

sebab tidak seluruhnya tertampung—

bahkan oleh mimpi liar sekalipun,

oleh sekalian kisah adiluhung

serta imajinasi muluk tentangnya

Tapi jika kau percaya janji Nietzsche

bahwa perang adalah pelajaran terbaik

bagi umat manusia, adakah cinta

yang diperjuangkan sejak lahir leluhur

kita, Adam dan Hawa, dapat kita terima

sebagai pertempuran paling menjanjikan.

Seperti kemarin, seperti peta terbuka

tanpa kenaifan tapi tetap syarat rahasia,

kuharap kauberbaring di atas meja kayu itu,

junjunganku, tanpa takut bilur biru

apalagi cuma oleh butiran debu

2021




DERI HUDAYA

Lahir 3 September 1989 di Singajaya, Garut. Saat ini bekerja sebagai pengajar di Ilmu Komunikasi Universitas Garut. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Karyanya yang telah terbit berupa buku, antara lain, novel terjemahan Déng (2016) karya Godi Suwarna, cerpen bahasa Sunda Lalakon Kadalon-dalon (2018), dan antologi puisi bahasa Sunda Lalayaran Luhureun Heulang (2020).
Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore