
DUA PERSPEKTIF: Karya Patricia Piccinini berjudul The Supporter yang dipajang di Museum Macan, Jakarya menyoroti relasi manusia dengan alam.
Petualangan seni perupa Australia Patricia Piccinini ternyata telah sampai pada titik yang mengejutkan. Mengeksplorasi chimera, kemudian mengombinasikan pemikiran dan estetika dituangkan dalam pameran tunggalnya, Care, yang berlangsung sejak 23 Mei lalu hingga 6 Oktober mendatang di Museum Macan, Jakarta.
PERSONA patung yang terletak di tengah ruangan Museum Macan itu salah satu yang paling menyedot perhatian. Garis wajahnya demikian nyata, bahkan terasa lebih indah daripada manusia kebanyakan. Mungkin kata yang tepat menggambarkannya adalah hiperrealis. Dengan bentuk tubuh yang seakan terbalik, kepala hingga dada menyangga kaki yang berada di atas. Di kakinya entah ada apa, bisa jadi potongan kayu atau malah gumpalan daging. Yang di atas gumpalan itu bertengger tupai.
Kurator pameran Tobias Berger menilai bahwa sosok yang digambarkan dalam karya tersebut memang sulit disebut sebagai laki-laki atau perempuan. Namun, seorang ahli yoga menyebutkan bahwa perempuan hampir tidak mungkin untuk melakukan gerakan semacam itu. ’’Yang pasti, ini salah satu patung kesukaan saya. Menggambarkan ide tentang cinta dan alam,’’ ujar Tobias.
Yang paling membetot perhatian adalah tingkat kesulitan untuk menciptakan karya yang terbalik semacam itu. Membutuhkan perhitungan yang luar biasa untuk membuat karya tersebut menjadi seimbang. ’’Itu bagian penting dalam karya ini,’’ jelas Tobias.
Karya berjudul The Supporter itu mencoba menghubungkan antara nama karya dan penampakannya. Sang perupa, Patricia, menganggap bahwa manusia merupakan pendukung dari keberlangsungan alam.
Yang terjadi justru sering kali manusia kebalikannya. Merusak, merampas, dan merampok alam tanpa memedulikan dampaknya. ’’Memang kita juga melihat kekacauan dalam karya ini, sungguh kompleks,’’ kata Tobias.
AGAK LAIN: The Couple karya Patricia Piccinini terinspirasi dari magnum opus Mary Shelly, Frankenstien.
Semakin berkeliling pameran, semakin banyak karya yang tidak disangka-sangka. Patricia mempersembahkan 40 patung ukuran hidup, tiga instalasi video, dan sebuah instalasi ribuan bunga. Patung lainnya yang memang begitu menyegarkan terpasang di sebuah kamar yang begitu Indonesia.
Dengan tembok bambu alias gedek, dengan beragam barang yang begitu nyata yang tergeletak di meja tidur. Pulpen, jam, dan telepon genggam. Di samping meja terdapat sebuah kasur dan sepasang manusia tengah tertidur dalam keadaan berpelukan.
Yang aneh, wajah dari kedua orang yang tertidur. Wajahnya menonjol semacam serigala, tetapi bertubuh manusia. Patricia menuturkan, karya berjudul The Couple tersebut terinspirasi dari novel berjudul Frankenstein yang ditulis Mary Shelly.
Novel itu berkisah upaya seorang tokoh ilmuwan bernama Victor untuk menciptakan makhluk hidup. Makhluk hidup yang dibuatnya dari berbagai potongan tubuh manusia itu kemudian diberi nama Frankenstein.
Dari karya tersebut, terbaca Patricia tengah menjalankan petualangan spiritual. Hal itu juga terlihat dari sejumlah karyanya yang memang seakan mempertanyakan asal usul manusia.
Kondisi itu dipertegas dengan karyanya yang berjudul Kindred. Sebuah patung seorang ibu yang terkesan masih berwajah kera yang menggendong dua anaknya. Kedua anaknya berbeda, satu anak masih memiliki kesan berwajah kera, tetapi satu lainnya sempurna berwajah manusia.
Menurut dia, memang itu adalah sebuah perjalanan pemikiran. Dalam dunia sains telah berkembang penelitian soal chimera, sebuah makhluk yang awalnya khayali. Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ternyata bisa ke arah sana. ’’Ini juga bagian dari evolusi manusia. Bagaimana bisa tidak percaya dengan ide ini,’’ ujar Patricia.
Akhir pameran itu menjadi puncak dari perjalanan religius Patricia. Sebuah karya berjudul Celestial Field atau bila diartikan ladang surgawi. Ruangan tersebut dipenuhi ribuan bunga Venus flytrap, tumbuhan pemakan lalat.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
