alexametrics

Siapakah Pemula?

Oleh HENDRO WIYANTO*
13 September 2020, 10:22:37 WIB

GOENAWAN Mohamad (GM) pernah menulis, di dalam ”produksi seni rupa” ia adalah seorang novice, pendatang baru, seseorang yang belum berpengalaman atau banyak kerjanya. Ia memang belum lama mulai melukis. Tetapi, sebutan ”pendatang baru” atau pemula juga disertai penjelasan bahwa ia diundang ke pameran ini dan itu, memperoleh ajakan bekerja sama dengan ”salah seorang perupa terbaik Indonesia”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Lho, kok bisa begitu?

Dengar-dengar karyanya juga memperoleh apresiasi sejumlah kalangan, termasuk laris manis diborong penggemarnya tiap kali berpameran, sejak 2016. Dalam pamerannya berdua dengan pelukis Hanafi, dua tahun lalu, sebagai pendatang baru ia lagi-lagi merasa memperoleh penghargaan dari pelukis yang ”hampir tiap kali” membikinnya ”terpesona”. Bahwa GM mengagumi lukisan-lukisan Hanafi sejak lama sudah kita tahu dari salah satu esainya. Akan tetapi, kita belum pernah mendengar alasan yang sesungguhnya dari Hanafi kenapa mengajak GM berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia (Hanafi-Goenawan Mohamad, 57 x 76, 2018).

Lho, kok bisa begitu ya? Sambutan Ir Ciputra dalam pembukaan pamerannya di Galnas petang itu bahkan menyebut-nyebut perlunya para kolektor mengoleksi karya-karya GM, merujuk pada pengalamannya sendiri ketika mengoleksi lukisan-lukisan Hendra Gunawan, yang setelah beberapa puluh tahun kemudian berharga ”miliaran rupiah”. ”Jangan sampai menyesal nanti….” Begitu lebih kurang kata tokoh kolega lama GM ini.

Kalau kelak lukisan-lukisan GM menjadi bernilai miliaran, bayangkan saja berapa nilai lukisan Hanafi? Kira-kira begitu kesimpulan saya yang biasanya ngawur ketika mendengar petuah semacam itu. Tapi, Pak Ci sama sekali memang tidak menyinggung kemungkinan para kolektor seni rupa memborong karya Hanafi. Tapi, eh, bukankah kalau orang membeli karya GM di pameran itu sama saja dengan membeli karya Hanafi juga, karena karya mereka adalah ”Satu Kontrapung, Dua Tanda Tangan”, seperti tulis kurator pamerannya, Agung Hujatnikajennong?

*

Pada tulisannya ”Perupa?” di koran Jawa Pos yang kemudian bertubi-tubi beredar di sejumlah grup WhatsApp, GM menyinggung lagi soal seniman ”pemula” itu. Tapi kali ini dengan ”kontranada” menyangsikan omongan yang menganggapnya sebagai pelukis ”pemula” yang belum layak diundang ke dalam pameran seperti Biennale Jawa Tengah (2018). Ya, betul akan aneh kalau ada biennale seni rupa mengundang ”pemula”, karena setahu saya memang tidak ada biennale yang membagi-bagi kategori perupa menjadi ”perupa (biasanya tanpa disertai kata ”pemula)” dan ”pemula” (biasanya disebut begitu saja, mungkin untuk menghormati kata ”perupa”).

Maka bagi GM seorang perupa hendaknya tidak perlu dipertimbangkan mengenai ke-pemula-annya, atau ke-novice-annya, atau ke-belum berpengalaman-nya, melainkan karyanya saja. Katanya, sebutan ”pelukis”, ”perupa”, atau ”penyair” tidak ada artinya bagi seseorang yang memang tidak ingin menjadi ”pelukis”, ”perupa”, atau ”penyair”. Dan kalau orang mencampur aduk predikat-predikat semacam itu dengan karyanya, yang terjadi adalah ”distorsi” bahasa. Kesimpulan dari tulisan GM, yang perlu dilihat adalah karya pelukis, perupa, atau penyairnya terlebih dulu, bukan semua yang berbau embel-embel seperti ”pelukis”, ”perupa”, ”penyair”, dan seterusnya. Wah, ini menarik juga, tapi kayaknya perlu diskusi lain lagi, yang tidak cuma soal subjek-predikat dalam bahasa atau perihal ”pokok-tokoh” –untuk meminjam judul sebuah antologi puisi Indonesia modern yang kondang.

Setidaknya, mari kita sepakati secepatnya saja bahwa ”pelukis”, ”perupa”, dan ”penyair” tidak ujuk-ujuk ada lho. Di balik sebutan tertentu, apalagi jenis-jenis kesenimanan, ada yang biasanya disebut ”pengalaman” meski ini memang tidak pernah kelihatan berendeng bersama judul-judul atau embel-embelnya. Kan ada juga ”biennale sastra” yang keberatan kalau mengundang penyair yang belum ber-”pengalaman”? Atau sebaliknya, ada saja penyair ber-”pengalaman” yang protes kalau namanya tidak ada dalam undangan sebuah festival? Lagi, serombongan penulis ramai-ramai teken untuk menolak penulis ber-”ideologi” tertentu diganjar hadiah ini-itu? Waduh, tetapi saya tidak akan terburu-buru menyamaratakan segala jenis pengalaman adalah ideologi…

Bahkan dulu ada juga pelukis yang mengancam akan mengundurkan diri ikut pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat, 1990/1991) ”hanya” gara-gara ada nama pelukis yang dianggap pernah berada di bawah payung Lekra? Maka terkadang saya berpikir, seniman-bukan-seniman itu sebenarnya bukan soal predikat atau embel-embelnya, tetapi mesti ditambahkan lagi dengan kategori ”lekas ketersinggungannya”.

*

Mbakyu, karya Goenawan Mohamad

Saya ingin melanjutkan alur pikiran GM dalam tulisannya soal undangan pameran biennale untuk pelukis/perupa ”pemula”. Hemat saya, istilah ”pelukis” atau ”perupa” sama sekali tidak nirmakna, dan hanya mungkin mengalami ”distorsi” atau diselewengkan artinya kalau istilah-istilah itu tidak digunakan untuk sebuah konteks peristiwa yang jelas. Salah satu contoh terkenal sudah saya sebut, yaitu kasus undangan seniman Indonesia untuk pameran KIAS.

Baca juga: Pada ’’Binatang’’ Goenawan Mohamad

Saya tunjukkan satu contoh yang lebih sederhana, yang belum lama diunggah di grup media sosial yang berjuluk ”Pasar Ngelindur”, yang hebohnya minta ampun. Serombongan anak muda tampak bersukaria melukis bersama-sama di alam bebas. Mereka berfoto bersama dan menulis begini, ”Pelukis dan pemula melukis bareng-bareng.”

Kira-kira kita tahu arti ”pelukis” di situ, tapi harus menebak apa arti kata ”pemula”. ”Pemula” yang pertama kali ikut rombongan melukis bareng-bareng? Meski setelah mengamat-amati foto itu –semua orang menunjukkan jempol dan pamer lukisan masing-masing– kita mulai bisa menebak arti ”pemula”, tapi menarik juga cara pelukis menarik batasnya dengan para ”pemula”, padahal kelihatannya lukisannya sama saja…Ya, sama buramnya.

Mudah-mudahan maksud saya terpahami: bukan hanya istilah ”pelukis/perupa” yang mengalami ”distorsi”, tapi kata ”pemula” menderita hal yang sama. Pada ”grup WhatsApp” ”Pasar Ngelindur”, saya ditertawakan karena dianggap kurang pintar memahami bahasa Indonesia…Asik!

*

Secara harfiah (pelukis) ”pemula” memang ada, seperti diakui GM sendiri pada esai di katalog pamerannya. GM adalah pelukis ”pemula” karena itu belum layak diundang untuk sebuah pameran biennale. Omongan itu juga bisa kita anggap benar, karena tiap ”hidung” (kata almarhum Danarto) boleh saja menilai lukisan-lukisan GM dan menghasilkan kesimpulan begitu. Tapi, yang saya ragukan bukan soal hak tiap ”hidung” untuk menilai karena itu sudah jelas juga.

Baca juga: Goenawan Mohamad Merupakan Don Quixote

Yang justru ingin saya perpanjang adalah pernyataan GM. Begini pertanyaan saya: ”Lha, apakah kurator Biennale Jateng –nama itu kok mirip nama bank ya? –memang mengundang GM sebagai ”perupa” (bukan pemula) atau karena memang ”nama besar”-nya di ranah yang lain, misalnya sastra, sebagai penyair dan esais? Dengan kata lain, si kurator diam-diam menganggap GM tetap sebagai ”pelukis pemula”, tapi punya ”nama besar” yang kalau diundang di dalam biennale akan membuat peristiwanya sendiri jadi ikut-ikutan membesar. Dalam hal begini, siapa bilang mengundang GM sebagai ”perupa” atau ”pemula” tidak mengalami kemungkinan distorsi?

Tapi, soalnya seperti kebanyakan peristiwa ”sebesar” biennale, sangat langka kurator menunjukkan dengan terang semua argumennya untuk memilih perupa. Dan di biennale-biennale mana pun –dari Kassel sampai Klaten– kurator tidak akan membikin kategori baru yang aneh, yang membeda-bedakan antara ”perupa” dan ”pemula” yang akan menyebabkan pekerjaan mereka makin runyam. Mereka pastilah bukan jenis pelukis yang gemar melukis bareng, tapi lugas saja menyambar istilah-istilah ”pelukis” dan ”pemula” yang terdengar tidak berdamai di tengah alam raya… (*)

Hendro Wiyanto

Jakarta, 6 September 2020


*) Kurator dan Pemerhati Seni

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra



Close Ads