alexametrics

Pada ’’Binatang’’ Goenawan Mohamad

Oleh: Wahyudin *)
17 November 2019, 18:48:40 WIB

SEJAK memasuki gelanggang seni rupa Indonesia pada 2016, intensitas dan produktivitas Goenawan Mohamad dalam berkarya dan berpameran seni rupa terbilang mengesankan. Bahkan, jika dibandingkan dengan sejumlah perupa Indonesia lainnya yang berjam terbang tinggi.

Betapa tidak, selama tiga tahun terakhir, Goenawan Mohamad telah melahirkan 300-an karya kertas, 50-an lukisan di kanvas, dan 200-an karya kolaborasi. Dia pernah ikut dalam 6 ekshibisi solo (di Jakarta, Jogjakarta, dan Semarang), 6 pameran grup (di Jakarta, Semarang, dan Magelang), dan 2 pergelaran duo (dengan perupa Hanafi dalam 57 x 76 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dan Komaneka Fine Art Gallery, Bali).

Saya ingin menggarisbawahi, intensitas dan produktivitas mantan pemimpin redaksi majalah Tempo itu sebagai ikhtiar penuh seluruh untuk berdaya cipta di dunia seni rupa Indonesia. Bukan sekadar hobi di waktu senggang seorang elite kebudayaan berkantong tebal. Apalagi, ikhtiar itu didorong oleh sebuah ’’panggilan’’ untuk mengalami kembali suasana ketika cat, kuas, pena, kanvas, dan kertas hadir menyambut tubuh perupa. Suasana yang hampir-hampir sirna di dunia seni rupa Indonesia hari-hari ini yang marak dengan karya-karya yang canggih, instalasi-instalasi yang seakan-akan parade spektakel (pertunjukan).

Atas panggilan itu, kata Goenawan Mohamad, ’’Yang saya rasakan semacam nostalgia.’’ Maka, bisa dimengerti jika penulis Catatan Pinggir itu berpendirian, ’’Melukis bukan sebuah loncatan ke depan, tapi ke samping.’’

Pada hemat saya, pendirian itu merupakan kesadaran sejarah seorang perupa pendatang baru yang tahu diri untuk tak berambisi memberikan kejutan ke dalam kebaruan (kemajuan) yang seru. Apalagi berhendak menentang kemajuan itu dengan ingin kembali ke corak lama, sehingga rela ’’minggir ke samping’’, sekalipun itu berarti tak bisa kembali ke daya tarik yang kuat dari karya-karya besar masa lalu.

Dengan kesadaran sejarah itulah, Goenawan Mohamad menggelar pameran tunggalnya bertajuk Binatang di Museum Dan Tanah Liat, Bantul, 2 November hingga 1 Desember 2019.

Pameran itu menghimpun 48 karya seni rupa (lukisan, gambar, dan sketsa) Goenawan Mohamad yang bertitimangsa 2018–2019. Pokok perupaannya adalah wayang, wajah dan tubuh binatang, Don Quixote, dan potret, terutama potret orang-orang yang dekat di sekitar hidup Goenawan Mohamad.

Mengapa binatang?

’’Saya menyimpan rasa bersalah di masa lalu dengan binatang. Suatu ketika saya menembak mati seekor burung. Saya gegabah melakukannya dan karena itu saya menyesal,’’ ungkap Goenawan Mohamad ketika kami baku bicara di Salihara pada siang 17 Oktober lalu.

Dengan itu, saya beroleh pengetahuan yang meyakinkan tentang pokok perupaan binatang yang disaksamai Goenawan Mohamad dalam belasan kanvasnya sekitar satu tahun terakhir. Di luar pengakuannya tersebut, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa binatang merupakan makhluk yang menakjubkan, bahkan tak terhingga. ’’Saya suka. Apalagi, saat kecil dulu saya dekat dengan cerita-cerita binatang,’’ kata Goenawan Mohamad.

Jadi, dengan melukis potret atau wajah binatang, Goenawan Mohamad melakukan bukan hanya kesenangan estetis, melainkan juga ’’penebusan dosa’’.

Saya kira dua hal itu merupakan semacam panggilan yang membedakan lukisan binatang Goenawan Mohamad dengan lukisan binatang pelukis Indonesia lain sebelumnya. Antara lain, Djoko Pekik, Ugo Untoro, dan Agapetus Kristiandana.

Dalam pameran di Museum Dan Tanah Liat itu, Goenawan Mohamad mengusung 12 lukisan binatang yang tak berpretensi menjadi majas, alih-alih tampil sebagai apa adanya binatang, sebagai diri mereka sendiri, atau sebagai alam-benda. Enam di antara 12 lukisan tersebut memperlihatkan ikhtiar Goenawan Mohamad dalam olah teknik dengan memanfaatkan bahan baru, yaitu cat minyak dan kolase kain atau kertas.

Dengan ikhtiar itu, Goenawan Mohamad memperlihatkan perkembangan estetis dan pencapaian artistik yang mengesankan berupa kematangan teknik melukis. Dalam hal itu, Goenawan Mohamad bahkan lebih dulu mencapai itu dengan gambar-gambar wayang.

Barangkali, setelah Danarto berkalang tanah dan Ugo Untoro asyik masyuk dengan nostalgia, tak ada lagi pelukis kontemporer Indonesia yang menaruh perhatian secara saksama terhadap wayang sebagaimana Goenawan Mohamad.

Apa yang memanggil Goenawan Mohamad menggambar wayang?

’’Saya menggambar wayang berdasar ingatan pada wayang kulit, watak tokoh-tokohnya, dan imajinasi untuk mendalami ceritanya,’’ katanya.

Dalam pameran Binatang itu, Goenawan Mohamad menampilkan sepuluh gambar wayang yang merupakan potret Bhisma, Durna, Karna, Kresna, Kunti, Surti Kanti, Togog, Usinara, Yudhistira, dan Gandari. Semuanya bertarikh 2019 dan berbahan pena serta tinta di kertas berukuran 37 x 29,5 sentimeter. Semuanya disertai kata yang memungkinkan pemirsa masuk-menemu permenungan akan sosok dan pokok wayang-wayang tersebut.

Selain binatang, wayang, dan Don Quixote, pokok perupaan potret manusia merupakan pemahaman dan penghayatan yang terbilang intens dalam proses kreatif Goenawan Mohamad sepanjang tiga tahun belakangan.

Dalam pameran di Museum Dan Tanah Liat itu, Goenawan Mohamad membawa tujuh lukisan potret manusia. Salah satu di antaranya, TP (2019, akrilik di kanvas, 50 x 70 sentimeter).

TP adalah lukisan potret komposer Tony Prabowo, salah seorang rekan kerja terbaik Goenawan Mohamad dalam berkesenian, terutama dalam pertunjukan musik dan teater. Sejak pertama melihatnya, saya bergeming bahwa TP adalah contoh terbaik lukisan realisme Goenawan Mohamad.

Dengan itu, kerap saya kemukakan kepada Goenawan Mohamad bahwa TP merupakan secara meyakinkan apa yang pernah dikatakan Paul Klee: Seni tak meniru yang terlihat, tapi membuat sesuatu menjadi terlihat. Sesuatu itu, pada hemat saya, adalah aura keakraban yang intens dalam pergaulan insani Goenawan Mohamad dan Tony Prabowo. (*)

*) Wahyudin, kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads