alexametrics

Goenawan Mohamad Merupakan Don Quixote

18 Juni 2019, 08:55:36 WIB

PADA Jumat sore, 8 Februari 2019, untuk kali kedua proses kurasi, saya bertandang ke studio Goenawan Mohamad (GM) di sebuah sudut gedung Komunitas Salihara. Sebagaimana sebelumnya, selepas melihat dan mendiskusikan karya-karya, baik yang sudah maupun yang belum rampung, yang diproyeksikannya untuk pameran tunggal di Galeri Semarang (15 Juni–14 Juli 2019), kami akan melanjutkan baku bicara tentang hal-hal apa saja yang terlintas saat itu dalam sepeminuman es kopi susu di Kedai Kopi Kecil Salihara.

Sore itu, ketika memesan es kopi susu, saya berkata kepada GM:

“Pak, kita perlu judul untuk pameran tunggal Anda di Galeri Semarang, ada ide?”

Tampak kurang yakin, GM menjawab, “Kata-Rupa …”

“Bagaimana kalau Don Quixote dan Hal-Hal yang Belum Sudah,” usul saya.

“Ya, itu saja!” sahut GM.

Jauh-jauh hari sebelum ke Jakarta, saya sudah menyiapkan sejumlah alasan pemilihan judul itu. Kenyataannya, alasan itu tak jadi terucapkan. Kami justru lebih asyik berbicara tentang Kota Lama Semarang sebagai tempat perjumpaan estetis yang tidak diperantarai nilai tukar, perdagangan, dan keuntungan. Apalagi, saat di Kedai Kopi Kecil sore itu, ikut pula mengobrol bersama kami arsitek yang penyair Avianti Armand.

Oleh karena itu, izinkan saya mengutarakan sejumlah alasan pemilihan judul Don Quixote dan Hal-Hal yang Belum Sudah di sini. Pertama, pengakuannya: “Don Quixote diciptakan Cervantes untuk diolok-olok. Kemudian sejumlah pengarang lain melihatnya berbeda: kita tercengang dan kita merasa tak mampu menghakimi dan mencemoohnya. Tokoh fiktif ini majenun karena imajinasi dan imajinasi tak bisa selesai. Saya ikut dibayanginya.”

Bisa dimengerti jika GM menjadi penyair, penulis, dan perupa Indonesia yang berdaya cipta meruah, terutama guna pengkajian dan penciptaan Don Quixote dalam sajak, esai, dan lukisan atau sketsa.

Sejak pertama kali menyebutnya dalam Catatan Pinggir berjudul “Che” (3 Mei 1980), kesatria bahlul itu menjelma semacam api inspirasi GM yang tak kunjung padam. Itu sebabnya, pembaca akan menjumpai lagi sosok khayali itu disebut atau direnungkannya dalam Catatan Pinggir berjudul “Bung Karno” (24 September 1988), “Zapatista” (29 Juli 2001), “Sancho” (22 September 2002), “Bermula dengan Menolak” (17 November 2002), “Gubernur” (15 Juli 2007), “Majenun” (29 Agustus 2010), “Don Quixote” (12 Juli 2015), “Fidel” (11 Desember 2016), dan “Aletheia” (18 November 2018).

Tak hanya dalam Catatan Pinggir, Don Quixote pun menuntunnya menggubah sajak. Di antara 2007–2010 GM menganggit 19 buah puisi di seputar riwayat petualangan Don Quixote. Pada 2011, 19 sajak itu dihimpun ke dalam satu buku berjudul Don Quixote yang diterbitkan Tempo dan PT Grafiti Pers, Jakarta. Dua tahun kemudian, pada 2013, Tempo menerbitkan kumpulan sajak itu dalam dwibahasa, Indonesia-Inggris.

Tak berhenti sampai di situ, pada 2016, GM kembali menggubah dua sajak berpokok soal Don Quixote dengan judul “Pertanyaan-Pertanyaan untuk Don Quixote” dan “Tamu”. Dua sajak tersebut dapat kita temukan dalam buku Fragmen (September 2016) terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Melengkapi pemikiran dan penghayatannya akan Don Quixote dalam esai dan sajak, GM membuat telaah atas karya Miguel de Cervantes itu sebagai “sebuah perkenalan”. Sebab, karya itu akan terbit dalam versi Indonesia, dalam buku kecil setebal 205 halaman berjudul Si Majenun dan Sayid Hamid terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2018.

Kedua, seperti tak cukup dengan Catatan Pinggir, kumpulan sajak, dan telaah itu, GM membikin lukisan, gambar, atau sketsa berpokok perupaan Don Quixote. Lebih dari sekadar bermanfaat sebagai sampul buku atau ilustrasi untuk kumpulan-kumpulan sajaknya, pokok perupaan Don Quixote, sebagaimana sudah saya singgung sebelumnya, bermakna penting dalam proses kreatif GM sebagai perupa.

Pokok perupaan itulah, terutama yang termuat dalam kumpulan sajak Don Quixote (2011), yang membikinnya “makin ‘gemar menggambar’” dan menggugahnya untuk pameran. Dengan kata lain, pokok perupaan itu adalah titik berangkat yang meyakinkannya untuk berdaya cipta di dunia seni rupa Indonesia.

Bisa dipahami jika pokok perupaan itu selalu mendapat perhatian saksama darinya sejak mula dia berkarya dan berpameran seni rupa pada 2016. Secara kuantitatif, pokok perupaan itulah yang paling banyak dibuat dan dibuat ulang olehnya, baik dengan media kertas maupun kanvas.

Dalam pameran tunggalnya kali ini di Galeri Semarang, GM membawa 33 karya berpokok perupaan Don Quixote. Perinciannya, gambar dan puisi bertarikh 2018 yang terjuktaposisi dengan media akrilik di kertas berukuran 70 x 51 sentimeter dan 96 x 51 sentimeter sebanyak 22 buah. Sketsa bertahun 2018 dengan media akrilik di kertas berukuran 50 x 45 sentimeter dan 42 x 50 sentimeter sebanyak 7 buah.

Satu di antaranya menggambarkan sosok Dulcinea, kekasih Don Quixote. Lukisan potret Don Quixote bertitimangsa 2018 dengan media akrilik di kanvas berukuran 100 x 100 sentimeter sebanyak 1 buah. Gambar dan teks puisi “Pertanyaan-Pertanyaan untuk Don Quixote” berwarsa 2017 dengan media pena dan tinta di kertas berukuran 37 x 29,5 sentimeter sebanyak 2 buah. Dan sepotong lukisan potret “Sancho” berukuran 100 x 100 sentimeter buatan tahun 2019.

Ketiga, berdasar penjelasan di atas, saya ingin menegaskan pokok perupaan Don Quixote, dengan pemahaman dan penghayatannya dalam telaah, Catatan Pinggir, dan sajak, sebagai hal-hal yang belum-sudah dalam proses kreatif GM. Terbukti, bertolak dari 22 buah gambar dan sajak Don Quixote, GM membuat pentas sastra Don Quixote, dengan penampil: Andra Karim, Carmen C. Fernandes, Landung Simatupang, Ninik L. Karim, Rebecca Kezia, Sri Hanuraga, dan Syam Maarif, selama dua hari, 23-24 Oktober 2018, di Teater Salihara. Setelah itu, konon, GM tengah merancang pertunjukan Wayang Golek Don Quixote.

Selain Don Quixote dan cerita-peristiwa di seputar riwayatnya, pokok perupaan potret, antara lain potret pelukis Meksiko Frida Kahlo dan komposer Tony Prabowo, merupakan pemahaman dan penghayatan yang terbilang belum-sudah dalam proses kreatif Goenawan Mohamad sepanjang empat tahun belakangan. Apa-apa yang belum-sudah itu adalah ikhtiar kreatifnya menolak repetisi.
“Tak ada repetisi, yang ada adalah ‘beda’ yang tertangkap dalam repetisi,” kata Goenawan Mohamad.

“Saya tak bisa menirukan Affandi yang berulang melukis potret diri atau Popo Iskandar dengan kucing. Saya tak bisa mengulang. Tiap kanvas membuka kemungkinan berbeda. Saya selamanya melawan pola. Saya memilih eklektik,” tandas mantan pemimpin redaksi Tempo kelahiran Batang, Jawa Tengah, 1941, itu.

(*) Wahyudin, kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads