
KREATIF: Drumer Dimas Dwi Ananto (kiri) dan Sabina Thipani tampil dalam pertunjukan Melambat.
JawaPos.com – Jika kesibukan hanya dimaknai sebagai aktivitas kegiatan fisik, ia telah kehilangan kedalamannya. Dunia bergerak begitu cepat, serbuan informasi menyibukkan pikiran. Arus informasi datang bertubi-tubi, membombardir dan mendobrak masuk tak terkendali.
Pertunjukan musik Melambat oleh musikus Sabina Thipani lahir sebagai respons atas segalanya yang serba terburu-buru dan instan. Melambat akan hadir dalam Jagongan Wagen episode 149 hari ini (23/9) di Gedung Diponegoro Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).
Melambat merupakan refleksi yang merangkum pengalaman musikus 33 tahun itu. Dalam penyajiannya, tujuh lagu dinyanyikan perdana di depan umum dan lagu yang tak pernah diperdengarkan sebelumnya.
Fafa, panggilan Sabina Thipani, berkolaborasi dengan seniman dari berbagai disiplin seni pertunjukan. Mereka adalah Anne Shakka (monolog), Ficky Tri Sanjaya (pantomim), dan Dimas Dwi Ananto Yuwono (drum).
"Seperti tawaran untuk hening sebentar dari dunia yang serbacepat," ujar perempuan yang sudah berkarya sejak 2012 itu kemarin (22/9) dalam gladi bersih.
Menurut dia, dibutuhkan waktu bagi seseorang untuk merenung atau sekadar hening melamun. Tujuannya, menyublim dan merilis banyak perasaan seperti trauma, marah, dan sedih. Jika hal itu tidak dilakukan, potensi relasi dengan orang lain bisa rusak.
REFLEKSI PERJALANAN: Musikus Sabina Thipani menggelar penampilan Melambat dalam Jagongan Wagen episode 149 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul.
Dalam Melambat tersebut, Fafa juga mengkritik pemakaian gawai yang berlebihan bagi manusia. Gawai disebut Fafa sudah seperti organ tubuh manusia. Menempel dan merasuk di setiap aspek. ’’Saya sendiri belum lama memiliki gawai,” kata Fafa.
Nah, proses penciptaan lagu terasa seakan lebih sulit bagi Fafa karena banyaknya distraksi dari gawai yang seperti organ tubuh. Namun, sekali lagi, meski dekat, tetapi bukan organ tubuh sebenarnya.
Tujuh lagu yang diperdengarkan perdana melalui pertunjukan kolaborasi itu merupakan hasil ’’peperangan’’ Fafa. ’’Peperangan’’ sejak arus informasi membanjiri pikiran dan menggerus kebiasaan refleksi yang menjauhkan dari dirinya.
’’Saya selalu merasa seni, atau musik, adalah jalan untuk sembuh. Atau, kalau nggak sembuh, ya (setidaknya) menemani orang,’’ ungkap Fafa.
Baca Juga: Penghibur Acara Orang Mati
Sementara itu, Manajer Program PSBK Istifadah Nur Rahma menyatakan, PSBK memiliki komitmen terhadap keberlangsungan karya seni. Itu sesuai dengan spirit maestro seni Indonesia Bagong Kussudiardja. PSBK mewujudkan diri sebagai art center dengan misi mendukung pengembangan kreatif seniman dan masyarakat umum.
’’PSBK punya jalur hibah yang dedikasi untuk karya, karya baru, jadi mau seniman lawas atau baru. Mensyaratkan karya-karya harus baru, nggak pernah dipentaskan di tempat lain. Perdana. Jadi sifatnya selalu perdana,’’ jelasnya. (lan/c12/dra)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
