Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 18.51 WIB

Ajakan Menepi dari Keramaian Dunia di Melambat

KREATIF: Drumer Dimas Dwi Ananto (kiri) dan Sabina Thipani tampil dalam pertunjukan Melambat. - Image

KREATIF: Drumer Dimas Dwi Ananto (kiri) dan Sabina Thipani tampil dalam pertunjukan Melambat.

JawaPos.com – Jika kesibukan hanya dimaknai sebagai aktivitas kegiatan fisik, ia telah kehilangan kedalamannya. Dunia bergerak begitu cepat, serbuan informasi menyibukkan pikiran. Arus informasi datang bertubi-tubi, membombardir dan mendobrak masuk tak terkendali.

Pertunjukan musik Melambat oleh musikus Sabina Thipani lahir sebagai respons atas segalanya yang serba terburu-buru dan instan. Melambat akan hadir dalam Jagongan Wagen episode 149 hari ini (23/9) di Gedung Diponegoro Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).

Melambat merupakan refleksi yang merangkum pengalaman musikus 33 tahun itu. Dalam penyajiannya, tujuh lagu dinyanyikan perdana di depan umum dan lagu yang tak pernah diperdengarkan sebelumnya.

Fafa, panggilan Sabina Thipani, berkolaborasi dengan seniman dari berbagai disiplin seni pertunjukan. Mereka adalah Anne Shakka (monolog), Ficky Tri Sanjaya (pantomim), dan Dimas Dwi Ananto Yuwono (drum).

"Seperti tawaran untuk hening sebentar dari dunia yang serbacepat," ujar perempuan yang sudah berkarya sejak 2012 itu kemarin (22/9) dalam gladi bersih.

Menurut dia, dibutuhkan waktu bagi seseorang untuk merenung atau sekadar hening melamun. Tujuannya, menyublim dan merilis banyak perasaan seperti trauma, marah, dan sedih. Jika hal itu tidak dilakukan, potensi relasi dengan orang lain bisa rusak.

REFLEKSI PERJALANAN: Musikus Sabina Thipani menggelar penampilan Melambat dalam Jagongan Wagen episode 149 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul.

Dalam Melambat tersebut, Fafa juga mengkritik pemakaian gawai yang berlebihan bagi manusia. Gawai disebut Fafa sudah seperti organ tubuh manusia. Menempel dan merasuk di setiap aspek. ’’Saya sendiri belum lama memiliki gawai,” kata Fafa.

Nah, proses penciptaan lagu terasa seakan lebih sulit bagi Fafa karena banyaknya distraksi dari gawai yang seperti organ tubuh. Namun, sekali lagi, meski dekat, tetapi bukan organ tubuh sebenarnya.

Tujuh lagu yang diperdengarkan perdana melalui pertunjukan kolaborasi itu merupakan hasil ’’peperangan’’ Fafa. ’’Peperangan’’ sejak arus informasi membanjiri pikiran dan menggerus kebiasaan refleksi yang menjauhkan dari dirinya.

’’Saya selalu merasa seni, atau musik, adalah jalan untuk sembuh. Atau, kalau nggak sembuh, ya (setidaknya) menemani orang,’’ ungkap Fafa.

Sementara itu, Manajer Program PSBK Istifadah Nur Rahma menyatakan, PSBK memiliki komitmen terhadap keberlangsungan karya seni. Itu sesuai dengan spirit maestro seni Indonesia Bagong Kussudiardja. PSBK mewujudkan diri sebagai art center dengan misi mendukung pengembangan kreatif seniman dan masyarakat umum.

’’PSBK punya jalur hibah yang dedikasi untuk karya, karya baru, jadi mau seniman lawas atau baru. Mensyaratkan karya-karya harus baru, nggak pernah dipentaskan di tempat lain. Perdana. Jadi sifatnya selalu perdana,’’ jelasnya. (lan/c12/dra)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore