
ILUSTRASI
Oleh BAGUS DWI HANANTO
---
Begitu tiba di acara pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Instruksi yang ditekankan kepada kami adalah bahwa siapa menangis paling baik dapat memperoleh bayaran yang menjanjikan. Indikator menangis yang baik dalam acara pemakaman yakni sejauh mana penghayatan yang kami tampilkan mampu merenggut perhatian pelayat lain.
SEBAGAI pelayat profesional, perkara menangis sudah bukan lagi tahap yang sulit dalam pekerjaan ini. Menangis sampai meraung-raung, sampai tangan kami menggapai-gapai ketiadaan supaya impresi yang kami hadirkan begitu mengena perasaan orang-orang sekitar. Begitulah tetek bengek yang mesti kami kuasai. Tangisan yang dibikin sealamiah mungkin mengafirmasi keberadaan si mati sebelum pada akhirnya menjelma abu.
Terhitung hari ini, aku sudah tujuh tahun menekuni profesi sebagai pelayat. Suatu hari, sehabis tak kuasa bekerja di perusahaan gelap yang manipulatif dan kerap menyiksa karyawannya secara keji, aku memilih menyerah dan meninggalkan Seoul. Begitu sampai kampung halaman, ibu sudah menyambutku dengan aneka makanan dan pelbagai acar. Sudah ada berbotol-botol minuman buat teman kami ngobrol.
”Ikut ibu saja. Tidak usah pikirkan masa lalumu di kota besar. Di sini juga tidak apa-apa,” buka ibu.
Aku langsung berpikir, berarti sudah ketok palu. Aku sadar tidak ada jalan selain melakoni pekerjaan yang ditawarkan ibu. Aku tidak perlu memikirkannya lebih lanjut ketika itu.
”Apa aku mampu, Bu?” tanyaku.
Ibuku mendecakkan lidah. ”Ketika ayahmu meninggal dulu, kau sering kubawa setiap kali aku bekerja. Kau tentu sudah hafal betul bagaimana kami bekerja. Aku rasa tidak perlu latihan dulu, tidakkah begitu?”
Aku menghela napas. Kuserobot sebotol minuman langsung menenggaknya begitu saja.
”Cobalah menangis,” kata ibu.
Aku memasang mimik sedih lantas tersedu.
Ibu mendesah. ”Kurang penghayatan. Perhatikan bagaimana ibumu melakukannya.”
Ibu mendadak menampilkan air muka sengsara. Kadar kesengsaraan yang sudah dilatihnya dan juga sudah dijalaninya lantaran hidup kami dari mula memang sengsara; berpadu membentuk ekspresi yang mengagumkan. Lantas dia tersedu-sedu sembari mengiba. Diumpamakan meja makan yang kami hadapi adalah meja yang memajang foto si mati lengkap dengan dupa dan ria-ria kedukaan. Ibu memang pelayat profesional, pertunjukannya memukauku tanpa makan waktu lama.
Pekerjaan pertama yang kujalani membutuhkan paling tidak tujuh orang pelayat profesional sebab si mati kurang punya banyak teman. Yang akan menangisi kepergian si mati boleh jadi bisa dihitung jari bilamana mengecualikan para pelayat yang dipesan jasanya oleh orang dekat si mati.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
