Jumpa pers pertunjukan teater
JawaPos.com - Indonesia Kita dan Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menggelar pertunjukan teater. Dalam pementasan ke-39 ini, akan digelar pertunjukkan dengan lakon 'Julini Tak Pernah Mati'. Lakon ini digelar di Taman Ismail Marzuki Jakarta selama dua hari berturut-turut, Jumat dan Sabtu, 16-17 Juni 2023.
Pertunjukan ini secara khusus didedikasikan untuk mendiang Nano Riantiarno yang merupakan pendiri Teater Koma. Pertunjukan ini dikembangkan dari 'Opera Kecoa' ditulis oleh Penulis sekaligus Direktur Artistik Indonesia Kita, Agus Noor.
Salah satu pemeran dalam lakon ini, Cak Lontong, mengatakan jika dirinya tidak bisa hanya berpaku pada dialog naskah saja. Dia wajib melakukan improvisasi untuk tujuan semakin menghidupkan suasana. Kendati demikian, pria 52 tahun tetap memiliki panduan supaya tidak keluar dari pakem.
"Tampilan saya kali ini beda dengan episode-episode Indonesia Kita sebelumnya. Pokoknya ini surprise," ujar Cak Lontong di bilangan Cikini Jakarta Pusat, Jumat (16/6).
Untuk nama karakter, Cak Lontong menggunakan nama sendiri. Namun peran yang dimainkannya dijanjikan spesial. Dengan persiapan yang cukup matang, dia pun optimistis bisa tampil dengan sempurna.
"Latihan masing-masing sudah dilakukan dari jauh-jauh hari, tapi latihan bareng bareng yang benar-benar latihan sekitar 5 hari terakhir," paparnya.
Lakon 'Julini Tak Pernah Mati' atau merupakan lakon yang dikembangkan dari lakon 'Opera Kecoa' karya mendiang Nano Riantiarno. Dalam lakon 'Opera Kecoa', Julini, sang tokoh utama, digembarkan meninggal dunia. Namun pada pementasan 'Julini Tak Pernah Mati', Julini ditemukan dalam keadaan masih utuh saat kuburannya digali.
Keberadaannya pun menggemparkan sekaligus memunculkan polemik. Ada yang menganggapnya sebagai orang sakti, ada juga yang menilainya sosok yang berbahaya bahkan mengancam.
Hal ini dikarenakan kemunculannya langsung memikat banyak pengikut dan dipuja, sehingga banyak yang mencoba memanfaatkan keajaiban Julini.
Di lain pihak, Julini hanya memiliki keinginan sederhana. Dia ingin bertemu kawan-kawan dan kekasihnya. Tapi mereka semua sudah mati. Tinggal anak keturunan mereka.
Julini kemudian terperangkap dalam bermacam kepentingan politik. Dia dipuja tapi juga dihujat. Masa lalunya sebagai waria digugat. Apalagi ketika banyak orang menghubung-hubungkan masa silam Julini dengan perjalanan hidup seorang tokoh politik yang akan maju dalam pemilihan pimpinan kota. Kemunculan Julini membuka banyak kisah yang selama ini ditutupi atau disembunyikan dari sejarah.
Agus Noor, penulis sekaligus sutradara pertunjukan teater mengatakan, pertunjukan Julini tidak hanya akan mengingatkan penonton pada sosok Nano Riantiarno, tapi juga pada perjalanan seni teater di Indonesia.
"Selain untuk mengenang Mas Nano Riantiarno, kisah Julini yang kami angkat kali ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjalanan seni teater kita, bertumbuh dengan keberadaan Teater Koma bisa dikatakan adalah bukti sejarah bahwa seni pertunjukan dalam sosok teater di atas panggung, sempat mengalami masa keemasan dan menjadi salah satu dari tontonan yang menghibur sekaligus mengasah pemikiran-pemikiran kritis masyarakat Indonesia," paparnya.
Selain Cak Lontong, pertunjukan ini juga diperkuat sejumlah pemain lain yaitu Butet Kartaredjasa, Akbar, Marwoto, Mucle Wisben, Joned, Joind Bayu Winanda, Rangga Riantiarno, Netta Kusumah Dewi, Jajang C. Noer, Sri Krishna Encik, Sruti Respati dan aktor-aktor Teater Koma.