Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 November 2024 | 16.36 WIB

Dimensi Visual Terrascape Houseuyang Pertahankan Struktur Atap Lama, Ada Kontras Terakota-Beton-Kayu

MEMBUMI: Suansana taman belakang dengan material tarakota dan kayu yang memberikan kesan kaya akan tekstur dan warna alami. Ada unsur perapian yang menambah sisi unik. (Dokumentasi Samitrayasa) - Image

MEMBUMI: Suansana taman belakang dengan material tarakota dan kayu yang memberikan kesan kaya akan tekstur dan warna alami. Ada unsur perapian yang menambah sisi unik. (Dokumentasi Samitrayasa)

Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga cerminan jiwa dan kenangan. Renovasi hunian masa kecil di Jakarta ini mempertahankan bagian existing yang sarat nilai sentimental. Elemen lama dipadukan dengan konsep baru yang membumi.

HUNIAN di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, itu berdiri sejak 1990-an. Kesan old dan rustic terpancar kuat dari luar. Fasadnya merupakan gabungan dari elemen lama dan baru.

”Pembentukan komposisi desain sengaja pada sisi bawah full treatment oleh elemen-elemen baru. Lantai 2 dibiarkan dengan fasad asli untuk menunjukkan harmoni kontras antara elemen lama dan baru,” ujar arsitek Samitrayasa Doddy Aswarie.

Konsep membumi menonjolkan tampilan yang jujur dan apa adanya. Maka, dipilihlah elemen-elemen material yang terbuka untuk memperlihatkan keindahan material mentah.

Ubin terakota yang mencakup bagian fasad dan lanskap rumah menjadi sorotan utama. Pengaplikasiannya dapat ditemukan pada taman teras, dinding fasad, halaman belakang, dan dapur.

”Terakota memberikan kesan kaya akan tekstur dan warna alami. Kombinasi ini dengan elemen beton dan kayu menciptakan kontras yang menarik antara kekerasan dan kehangatan sehingga memperkaya dimensi visual pada desainnya,” lanjut Doddy.

Masuk ke dalam rumah, banyak sentuhan rustic di tiap sudutnya. Desain interiornya dibuat selaras dengan existing rumah lama. Uniknya, kuda-kuda yang menopang atap diekspos tanpa plafon.

SENTIMENTAL: Struktur atap sejak 1990-an tetap dipertahankan sebagai artwork yang sarat kenangan. Kuda-kuda yang menopang atap diekspos tanpa beton. (Dokumentasi Samitrayasa)

”Struktur atap itu sudah ada dari tahun 1990-an. Owner mau mempertahankannya karena cukup sensitif dan sentimental bagi owner. Begitu pun dengan railing-nya, Jadi, sekalian dijadikan artwork,” sambung PIC desain interior Chicco Geraldy.

Lantai 1 terdiri atas ruang tamu, ruang makan, dapur, area servis, dan studio kerja owner. Ruangan dengan skala besar makin terasa lega tanpa adanya penyekatan.

Tim desain mencoba bereksperimen dengan menampilkan ekspresi interior yang kasar dan disatukan dengan furnitur yang polished. ”Misalnya, area belakang yang harusnya tertutup, kami buka. Jalur listriknya juga diperlihatkan, kabel-kabelnya diekspos,” lanjutnya.

Desain interiornya sedikit banyak juga dipengaruhi budaya Jepang dari pengalaman owner tinggal di sana. Hal itu tecermin dari dominasi material kayu dan tata letak ruangnya. Contohnya, area laundry yang berdekatan dengan kamar mandi utama sebagaimana praktik umum di budaya Jepang.

Halaman belakang Terrascape House menyajikan tempat berkumpul yang sejuk dengan nuansa rustic. ”Desain dudukan kami buat banyak leveling untuk mengakali dinding batas bangunan yang tinggi sekaligus menjadi area naik turun dan duduk yang menarik untuk anak-anak bermain,” tambahnya.

EKSPERIMEN: Interior yang raw dipadukan dengan funitur yang polished. (Dokumentasi Samitrayasa)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore