
ORNAMEN KHAS EROPA: Proporsi bangunan yang tinggi dengan dua pilar penyangga fasad. Permainan cahaya keemasan menambah aurah megah. Ukiran Handmade Berpadu Lighting nan mewah. (Syadewa Architect)
Arsitektur klasik dengan influence dari Eropa pernah menempati puncak kejayaannya di Indonesia pada 2000-an. Hingga kini, arsitektur klasik masih memiliki penggemar tersendiri.
---
MEWAH, megah, dan elegan. Kesan itulah yang didapat dari arsitektur klasik bergaya Eropa. Misalnya, SG House, salah satu proyek Yuki Wijaya, principal architect Syadewa Architect. Hunian di kawasan Surabaya Barat itu sekilas tampak bergaya klasik Eropa. Namun, dari dekat, rumah itu akan terlihat klasik dan modern.
’’Kami hybrid dua style, tapi lebih condong ke klasik,’’ kata Yuki kepada Jawa Pos pada Rabu (30/3). Elemen klasik Eropa tampak jelas dari proporsi bangunan yang tinggi, simetris, dan berpusat di tengah. Lengkap dengan pintu besar yang megah. Kemudian ditambah dengan dua pilar yang menyangga wajah bangunan.
Lalu, yang terpenting adalah banyaknya langgam dan ornamen-ornamen khas Eropa, terutama Yunani dan Prancis pada periode Renaissance. Misalnya, ukiran pada fasad. ’’Kami tidak ambil mentah-mentah, tetapi diolah lagi dan dikombinasikan sesuai dengan bangunannya. Dibuat lebih simpel supaya komposisinya bagus,’’ kata Yuki. Ukiran itu pun dibuat dengan tangan, bukan cetakan. Kecuali pada area plafon, pintu, furnitur, dan pilar.
Itulah mengapa rumah yang mengusung gaya klasik Eropa membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dibangun, terutama pada proses detailing. Proses desain hingga finishing rumah tersebut memakan waktu sekitar 2,5 tahun.
Photo
’’Itu termasuk cepat jika dibandingkan dengan gaya klasik pada umumnya, biasanya 4–5 tahun,’’ terang Yuki. Cost pembangunan juga tentunya lebih besar daripada rumah-rumah bergaya minimalis. ’’Bisa hampir dua kali lipat,’’ tuturnya. Hal itu terbayar dengan hasil ukiran yang unik dan megah, tetapi tidak terlalu berat.
Sebagaimana yang dikatakan Yuki, rumah itu tidak murni mengusung gaya klasik Eropa, tetapi dibuat fleksibel dengan menyesuaikan kebutuhan ruang. Unsur modern diterapkan melalui tata ruang, bentuk tangga, dan plafon. Adanya permainan lighting juga menunjukkan sisi modern rumah tersebut. Hidden lamp ditempatkan di beberapa area untuk menambah kesan dramatis. Terlebih, rumah tersebut didominasi warna putih dan krem atau cokelat muda. ’’Sehingga kesannya tidak terlalu berat dan tetap hangat,’’ kata Yuki.
Penggunaan marmer juga menunjukkan modernisasi. ’’Marmer itu tidak murni dipakai di arsitektur klasik, banyak rumah modern saat ini juga yang menggunakan material itu,’’ katanya. Marmer jenis statuario tipe athena berwarna hitam-emas itu berhasil menciptakan kesan classy dan elegan.
Photo
Photo
PUTIH: Walk-in closet pada master bedroom. Ruang penyimpanan baju dibuat tertutup dengan pintu kaca. (Syadewa Architect)
Photo
Photo

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
