
KAPTEN KHARISMATIK: Ferril Raymond Hattu, dia pernah mempersembahkan medali emas SEA Games di Manila untuk Indonesia. (Angger Bondan/Jawa Pos)
Timnas Indonesia U-23 mengawali debut dengan kekalahan 0-3 oleh tuan rumah Vietnam pada laga di SEA Games 2021 Jumat (6/5). Bukan hasil yang menggembirakan tentu saja. Tapi, timnas Indonesia pernah meraih emas di ajang antarnegara se-ASEAN itu pada 1991 dengan kapten Ferril Raymond Hattu. Kepada Jawa Pos, Ferril mengungkapkan titik lemah serta taktik agar sepak bola nasional kembali berprestasi.
---
Halo, apa kabar Pak Ferril?
Baik, sehat selalu.
Kesibukan Anda apa saat ini?
Saya di Askot PSSI Surabaya. Saya juga komisarisnya Persebaya. Di askot saya kan ketua komisi kepelatihan. Saya merancang sertifikasi pelatih-pelatih harus bagaimana.
Pekan ini SEA Games Vietnam sudah bergulir. Di sepak bola, terakhir Indonesia dapat emas di era Anda pada 1991. Sebenarnya ada apa dengan sepak bola Indonesia?
Itu menunjukkan sepak bola Indonesia tidak baik-baik saja. Kalau bilang mundur, tidak juga. Hanya, kemajuannya sangat lambat dibandingkan negara lain. Majunya pelan, sedangkan negara lain kencang. Istilahnya mereka berlari, kita hanya berjalan.
Apa penyebabnya?
Kompetisi kita ini tidak berjalan dengan baik. Yang kedua, jenjang pembinaan kita asal jalan. Yang ketiga, ya memang federasi kita ini menyebabkan semua program tidak berjalan dengan baik. Begitu pula program SEA Games, semua instan. TC (training center) pun mintanya instan. Mulai era Evan Dimas yang di Manila persiapan hanya tiga bulan. Itu kalau juara, ya buyar kita. Kenapa? Karena mereka (federasi) pasti berpikir instan begini saja bisa juara. Saya ini satu tahun lho dulu persiapannya untuk dapat emas.
Persiapan tim panjang. Kenapa butuh panjang? Karena kualitas kompetisi kita rendah. Sekarang juga seperti itu. Beda dengan tim-tim di Eropa dan Amerika Latin, kualitas kompetisinya tinggi. Jadi, pemain tidak butuh persiapan yang panjang karena level bermain kompetisinya tinggi.
Berarti kualitas level kompetisi di Indonesia kasta tertingginya seperti Liga 1 ini sangat jauh dibandingkan negara lain?
Sangat jauh. Apalagi tahun kemarin itu bukan kompetisi, tapi turnamen. Format kompetisinya saja bubble-to-bubble seperti itu, persiapan timnya juga seperti itu. Mau siapa pun pelatih timnasnya, level apa saja setinggi-tingginya, memang tidak punya petanya. Jalurnya tidak ketemu.
PSSI mengeluarkan terobosan baru memakai pemain naturalisasi seperti Marc Klok dan mungkin ke depan timnas juga akan diisi pemain naturalisasi untuk mendongkrak prestasi. Komentarnya?
Sepak bola itu proses. Kalau kamu ambil comot-comot pemain dalam waktu pendek bagaimana. Menyatukan hati mereka, pemahaman mereka. Wong saya dulu di timnas persiapan panjang pun untuk juara setengah mati, harus ada faktor luck-nya juga walau hanya 1 persen.
Menurut saya, dengan adanya naturalisasi ini seperti mundur ya. Kita bisa cetak pemain hebat seperti Evan dan Asnawi. Mereka semua butuh proses. Kamu lihat saja, di klub, hampir sebagian besar tim menggunakan pemain-pemain yang sudah matang dan berpengalaman. Mungkin hanya Persebaya yang berani memasang banyak pemain muda, mau dari internal atau yang lain. Karena paham ini semua berproses.
Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan PSSI untuk bisa mendapat emas di SEA Games tahun ini?
PSSI itu sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sudah tahu bahwa membentuk timnas yang kuat itu ada jangka pendek, menengah, dan panjang. Tapi, masalahnya yang ada di dalam kepengurusan PSSI ini sibuk sendiri. Tidak concern dengan sepak bolanya.
Banyak yang mengkritik TC jangka panjang, bagaimana?
Itu konsekuensi selama kompetisi kita seperti ini. Kalau mau itu tidak terjadi, ya tentu masih sangat panjang prosesnya ke situ. Butuh banyak pembenahan. Kamu lihat Thailand untuk yang U-23 sudah dua tahun sebelumnya persiapan.
Agar timnas bisa sesuai dengan apa yang Anda harapkan, apa yang sudah Anda lakukan saat ini di Askot PSSI Surabaya dan tim internal Persebaya, HBS?
Pembinaan itu tidak melihat background pemain. Kami itu fokusnya pembinaan. Kalau dia nanti jadi pemain baik, itu nasibnya dia. Tempat saya juga merancang pembinaan secara berjenjang.
Lalu, di Askot PSSI Surabaya seperti apa?
Kita standardisasi pelatih. Askot itu anggotanya sekian, pelatihnya ada berapa, sertifikasi pelatih itu macam-macam. Empat tahun kami bikin target komposisi pelatihnya seperti apa. Lalu nanti juga melihat situasi yang ada. Saya baru masuk tahun ini.
Apakah Anda yakin timnas Indonesia bisa dapat emas di SEA Games?
Saya tidak yakin. Karena waktunya pendek. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Kalau bicara sepak bola itu proses, kita tidak punya waktunya. Tapi, melihat di Piala AFF kemarin mungkin ya bisa. Tapi, mereka ini harus diberi waktu, tidak boleh grusa-grusu. Mereka ini bukan mesin, mereka ini orang. Punya hati, punya sifat kelelahan.
Sekarang ini kita mau apa toh sebenarnya dengan kompetisi. Coba you bayangkan tiap klub Liga 1 ini butuh dana Rp 50–70 miliar per musim. Itu masih satu klub ya. Coba 18 klub, total liga ini hampir Rp 1 triliun. Itu dibuang ke laut tiap tahun karena muaranya tidak jelas.
Kalau kita sekarang masih gila semua belum sadar, tidak perlu ngomong prestasi timnas. Sepanjang internal PSSI tidak bisa diberesi, jangan bicara prestasi. Orang-orang PSSI ini mau menipu ambil pemain naturalisasi hebat agar bisa juara. Indonesia ini sebesar ini sudah bukan SEA Games kelasnya, Asia sudah. Thailand itu sudah naik levelnya, sudah Asia.
Kalau pengurus PSSI itu-itu saja, ya begini. Contoh Wakil Ketua Umum Iwan Budianto sudah berapa tahun di PSSI? Prestasi timnas ya begini-begini saja kalau anggotanya itu-itu saja.
KAPTEN FERRIL RAYMOND HATTU
- Lahir di Surabaya, 9 Agustus 1962.
- Kapten timnas Indonesia yang kali terakhir meraih medali emas SEA Games Manila 1991.
- Bermain bersama generasi emas Merah Putih seperti Robby Darwis, Eddy Harto, Aji Santoso, hingga Widodo C. Putro.
- Bermain di Persebaya pada musim 1976–1979.
- Lama membela Petrokimia Putra Gresik sejak 1988 hingga 1996.
- Pada 1997 memutuskan gantung sepatu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
