Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Juni 2018 | 00.16 WIB

Tadisi Grebeg Syawal, Kesultanan Kanoman dan Warga Ungkap Rasa Syukur

Ratusan Warga dan Rombongan Keluarga Kesultanan Kanoman Cirebon memadati komplek pemakaman Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Jumat (20/6). - Image

Ratusan Warga dan Rombongan Keluarga Kesultanan Kanoman Cirebon memadati komplek pemakaman Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Jumat (20/6).

JawaPos.com - Rombongan keluarga Kesultanan Kanoman Cirebon dipimpin oleh Sultan Kanoman XII, Raja Muhammad Emirudin menggelar tradisi Grebeg Syawal. Mereka menuju komplek pemakaman leluhur di Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jumat (22/6) pagi.


Ratusan orang dari berbagai daerah wilayah Cirebon berduyun-duyun mengikuti iring-iringan keluarga besar Kesultanan Kanoman untuk melangsungkan tradisi Grebeg Syawal. Hal ini sebagai simbolisasi rasa syukur dengan cara mendoakan para leluhur, khususnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati.


Pangeran Raja Mochammad Patih Qadiran Kesultanan Keraton Kanoman Cirebon menuturkan, Grebeg Syawal diperingati secara turun menurun setiap tahunnya oleh keluarga besar Keraton Cirebon sejak dari Sunan Gunung Jati. Tradisi kultural itu dirayakan bersama masyarakat Cirebon setiap enam hari setelah 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri.


"Grebeg Syawal adalah warisan tradisi yang sudah ada dari dulu, pertama kali dicontohkan Sunan Gunung Jati. Grebeg Syawal bermakna mengingat dan meneladani riwayat leluhur, terutama raja-raja Keraton Kanoman yang dimakamkan di Gunung Sembung, Astana, Gunung Jati," ujarnya usai menggelar tradisi Grebeg Syawal.


Tradisi ini dimulai dari prosesi memasuki Lawang Sanga (sembilan pintu), di antaranya Lawang Penganten dan Pintu Pasujudan, hingga ruang Pasarean yang khusus hanya boleh dimasuki oleh keluarga dan kerabat Kasultanan Kanoman.


Grebeg Syawal pun bermakna sebagai ungkapan rasa syukur Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Muhammad Emirudin dan para Keluarga Besar Keraton Kanoman kepada Allah SWT, karena sudah memberi umur panjang, yang senantiasa memberikan kekuatan Iman, Islam, untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan sampai pada perayaan Idul Fitri (1 Syawal) dan puasa Syawal selama enam hari.


Usai sebulan penuh berpuasa Ramadan, umat Islam, khususnya di Cirebon senantiasa melanjutkan puasa Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri, kemudian memperingati perayaan puncak Grebeg Syawal.


Puncak perayaan itu diwujudkan melalui prosesi ritual ziarah, nyekar, berdoa dan tawasul, serta merayakan prosesi surak (tabur koin) kepada masyarakat sebagai simbolisasi makna syukur atas nikmat Allah SWT.


"Grebeg Syawal adalah ungkapan rasa sukur setelah menjalani puasa Ramadan, Idulfitri dan puasa enam hari Syawal. Setiap prosesi ritual Grebeg Syawal ini mengandung makna syukur, dan penghormatan kepada leluhur," ujar Patih Qadiran.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore