Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Juni 2018 | 18.46 WIB

Membaca Kandidat Potensial Cawapres Jokowi di Pilpres 2019

Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). - Image

Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

JawaPos.com - Belum lama ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Pertemuan itu bahkan diakui Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto untuk membahas calon pendamping Jokowi di Pilpres 2019.


Lantas siapa cawapres Jokowi yang bakal mendapat restu PDIP?


Menurut pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago, ada beberapa tokoh yang kemungkinan diajukan Jokowi atau Megawati. Pangi melihat kemungkinan keduanya bakal menawarkan tokoh pilihan masing-masing.


“Jadi, bisa perkawinan alamiah (pilihan Jokowi), bisa dijodohkan (pilihan Mega),” kata Pangi saat dihubungi wartawan, Selasa (19/6).


Jika Jokowi yang mengajukan calon pendamping, Pangi menduga, mantan Gubernur DKI Jakarta itu akan memilih calon profesional. Hal itu dilakukan untuk tetap menjaga soliditas partai koalisi atau figur partai dengan elektabilitas tinggi.


Sementara bila Megawati yang menawarkan cawapres, yang muncul kemudian adalah kader PDIP atau figur profesional yang tidak berpotensi merebut kekuasan di Pilpres 2024.


"Karena bagi Pak Jokowi (elektabilitas) itu sangat penting, tidak lagi bicara 2024. Sementara logika partai itu bicara setelah 2024. Karena itu, PDIP tidak mau kalau bukan kader mereka untuk keberlanjutan partai. Kalau panggung cawapres ini diambil oleh orang yang masih terang di 2024 itu membahayakan PDIP," katanya.


"Lalu siapa nama-nama aktornya, itu jadi menarik. Kalau saya melihat nama yang punya peluang adalah TGB Zainul Majdi (Gubernur NTB). Pak Jokowi sedang main mata dengan TGB," sambung dia.


Duet Jokowi-TGB dinilai kombinasi ideal karena perpaduan nasionalis-religius. Dari sisi historis, menurut Pangi, TGB yang menjadi gubernur dua periode memiliki rekam jejak baik.


Selain itu TGB juga memiliki visi-misi yang jelas dan mendapat dukungan luas dari kelompok Islam. "Walaupun TGB juga punya kelemahan. Beliau tidak punya basis suara yang besar karena bukan berasal dari Jawa dan lumbung elektoral di NTB itu kan sedikit," ujarnya.


Secara elektoral, kata Pangi, TGB kalah dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Cak Imin memiliki basis kuat di Pulau Jawa karena merupakan representasi kalangan Nahdliyin.


Oleh karena itulah, dia menilai, Cak Imin juga layak diperhitungkan Jokowi.
Sementara itu menyoal calon wakil presiden dari luar parpol, Pangi menyebut nama Chairul Tanjung (CT). Dia berpeluang menjadi pendamping Jokowi.


"Saya pikir CT juga bagus. Beliau tidak ambisius orangnya. Karena, terus terang Pak Jokowi kan enggak suka ada matahari kembar. The Real President. Seperti terjadi di era SBY-JK lalu," jelasnya.


Selain CT, Pangi menilai belum ada calon profesional lain yang berpotensi mendampingi Jokowi di Pilpres. Termasuk nama-nama yang sering disebut memiliki elektabilitas tinggi seperti seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.


"Pak Gatot kan nggak punya basis massa. Dan PDIP terancam kehilangan kekuasaan bila mencalonkan dia," katanya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore