
Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana.
JawaPos.com - Hari Raya Idul selalu identik dengan berbagai hal yang menyenangkan, tradisi ini telah begitu melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan hanya lebaran saja, namun nuansa hangat telah terlihat sejak bulan puasa dimulai. Beragam kegiatan dan juga sajian akan meramaikan bulan puasa yang suci, dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan lainnya ketika Lebaran tiba.
Tradisi berbuka puasa bersama pun menjadi salah satu kegiatan rutin Wakil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Abraham Lungga atau yang akrab disapa dengan nama Lulung. Tak hanya memprioritaskan keluarga, sebagai pejabat negara Lulung juga membagi waktu luangnya untuk sekedar bersilaturahmi bersama masyarakat.
"Ada tradisi buka puasa bersama, kemudian kedua bersama masyarakat, ketiga pada reses saya mengunjungi masyarkat, tapi tentunya untuk keluarga wajib sifatnya ya. Tinggal bagaimana saya mengatur waktunya," kata Lulung kepada JawaPos.com beberapa waktu lalu.
Politikus PPP ini mengaku kebiasanyaan setiap bulan puasa wajib dilewatkan bersama keluarga terkasih seminggu pertama. Setelah itu, dia menjalankan kewajibannya sebagai anggota dewan menyampatkan waktu untuk berbagi bersama dengan warga Jakarta. Bahkan, kata Llulung, ditengah-tengah silaturahmi, dirinya kerap kali mendapat aspirasi dari warga.
"Selanjutnya saya muter sesuai dengan tugas yang saya emban hari ini. Kedua banyak undangan yang harus saya datangin, ya alhamdulillah artinya ada interaksi antara masyarakat sama kita. Kalau secara umum sih sebenarnya biasa aja ya, artinya selayaknya orang beribadah, tapi karena saya anggota dewan kadang-kadang banyak yang juga menyampaikan aspirasinya," ungkapnya.
Tak hanya saat bulan puasa, ketika hari kemenangan tiba (Lebaran) dia juga rutin menerima masyarakat (open house) sekedar untuk salang bermaafan. Meski banyak tetua yang harus didatanginya, pada pagi hingga siang hari Lulung mengutamakan waktunya melayani warga yang berdatangan kerumahnya.
"Tapi open house itu pasti, baik sama keluarga maupun sama masyarakat, pintunya dibuka lebar. Saya sulit sekali kalau lebaran itu sebenarnya masih banyak orang-orang tua yang harus kita hormati, kita datangi, tapi memang tuntutan barangkali ya, jadi rumah saya juga banyak didatangi orang, kalau rumah sudah sepi baru saya keliling ke tempat yang tua-tua," ungkapnya.
Sementara perayaan Idul Fitri bersama keluarga, biasanya Lulung merayakan seminggu setelah lebaran, dimana seluruh keluarga dari berbagai daerah akan berkumpul. Hal itu rutin dilakukannya setiap tahun, seperti saat berbuka puasa, kata Lulung, rumah sang kakak disepakati oleh keluarga besar untuk menjadi tempat kumpul. Terlebih lagi, pria kelahiran Betawi ini tidak dapat merasakan mudik atau pulang kampung seperti yang lainnya.
"Saya kan enggak punya kampung, jadi jaga kampung deh. Umunya kami keluarga besar mengadakan lebaran bersama biasa seminggu setelah lebaran, keluarga dari mana aja datang, tinggal sepakat aja nanti tahun ini mau dimana," tuturnya.
Bagi Lulung, kembali ke fitrah adalah menyediakan berbagai makanan tradisional untuk disajiakan dan dinikmati bersama keluarga ataupun masyarakat. Berbeda dengan yang lainnya, pria kelahiran Jakarta ini tidak mempunyai menu favorit saat lebaran. Seluruh sajian makanan disukainnya, namun tidak boleh pedas dan mengandung santan.
"Biasa saya kalau kembali ke fitrah itu kembali ke makanan tradisional gitu, kue semprong, banyaknya lah makanan tradisional, memang sengaja, terus jangan lupa manisan. Kalau makanan sih saya apa aja, yang penting enggak pedes, ya dinamis lah, ada yang pedes ada yang enggak, tapi saya enggak suka pedas, santan kurang, karena saya punya sakit maag," terangnya.
Sama seperti lebaran-lebaran sebelumnya, Lulung bersama keluarga besar selalu salat di Masjid Al'Anwar yang berada tak jauh dari rumahnya. Dia mengatasnamakan keluarga besar, mengucapkan selamat hari raya idul fitri bagi seluruh umat muslim yang merayakan. Tak lupa Lulung memohon maaf lahir batik jika terdapat salah yang disengaja maupun tak disengaja.
"Salat Ied saya bersama keluarga di masjid Al'Anwar, jaraknya hampir 1 kiloan dari rumah. Tentunya kepada masyarakat yang merayakan hari raya idul fitri saya atas nama keluarga Hj Lulung Abraham Lunggana mengucapkan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin," pungkasnya. (eve/evi)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
