
Ilustrasi KPK.
JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang membantah adanya tudingan yang menyebut bahwa operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan lembaga antirasuah berkaitan erat dengan nuansa politik. Saut juga membantah kalau lembaga yang dipimpinnya membidik calon kepala daerah yang dianggap memiliki elektabilitas yang tinggi.
“KPK kan bergerak atas pembuktian yang cukup. Kalau enggak begitu pelanggaran atas banyak hal seperti hukum, HAM, dan lain-lain, termasuk kode etik KPK sendiri,” ungkap Saut saat dikonfirmasi, Kamis (14/6)
Saut menyebut untuk mencegah terjadinya kepala daerah yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT), lembaga antikorupsi ini telah melakukan kegiatan pencegahan dalam bentuk koordinasi, supervisi, dan pencegahan (korsupgah).
“Semua pimpinan daerah paling tidak pernah tersentuh program apakah di daerahnya sendiri atau diundang ke daerah lain dalam program membangun integritas dan mengatur ulang tata kelola termasuk perizinan pengadaan barang dan jasa,” tutup Saut.
Sebelummya, Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto angkat bicara soal operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Termasuk mencatut Syahri Mulyo sebagai calon bupati (cabup) Tulungagung dalam pilkada 27 Juni mendatang. Dia mengklaim, adanya kejadian itu mengandung unsur politik. Sebab, elektabilitas calonnya (Syahri-Maryoto) sesuai survei terakhir terus tinggi yakni 63 persen.
“Karena itulah banyak yang menduga ini berkaitan dengan kontestasi pilkada. Sehingga dilakukan OTT dengan cepat,” ungkapnya usai apel dan buka bersama di kediaman Syahri Mulyo kemarin (10/6).
Dia menegaskan, KPK harus bisa membuktikan bahwa OTT yang dilakukannya di Tulungagung dan Blitar benar-benar terlepas dari muatan politis. Hukum harus ditegakkan termasuk prinsip keadilan.
Di tempat sama, anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan menegaskan, adanya penetapan tersangka terhadap Syahri Mulyo dan juga Samanhudi (Blitar) kental bermuatan politis.
Selain itu, juga kental oknum KPK ditunggangi kepentingan tertentu. Salah satu indikasinya, masih banyak laporan lain yang jumlahnya lebih besar, tidak dilakukan OTT oleh KPK. “Tapi yang tidak terlihat, yang senyap-senyap, yang sedang mau pemilu, justru di-OTT,” ujar Arteria Dahlan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
