
Korban semasa hidup, Handarri (kiri) bersama sang istri Ulfa.
JawaPos.com - Seorang sopir taksi online, Handarri ditemukan tewas dengan kepala bersimbah darah, pada Selasa (12/6), pukul 09.15 WITA. Terdapat luka di bagian kepala, telinga, dan punggung lelaki berusia 27 tahun itu.
Diduga, ia menjadi korban pembunuhan. Tersangka pembunuhnya pun ditangkap PJR Ditlantas Polda Kaltim pada pukul 16.40 WITA. Pelaku bernama Darmadi Anca, yang tak lain adalah penumpang taksi online korban.
Darmadi Anca mengaku temperamental. Dia naik darah ketika Handarri tak mau mengantarnya ke tempat tujuan.
Handarri beralasan, jalan Perum Prona Lestari II becek dan berlumpur. Mendengar penolakan tersebut, keduanya pun cekcok, sama-sama ngotot.
"Dia (Handarri) langsung putar balik," kata Darmadi di Mapolres Balikpapan, dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Kamis (14/6).
Sikap itu membuat Darmadi merasa terhina. "Dia bilang enggak mau meneruskan orderan. Ongkos Rp 16 ribu tak sepadan dengan jalan yang dilewati," sambung pria kelahiran Sangatta, 1991 itu mengulang perkataan Handarri.
Perasaan terhina Darmadi kian dalam. Dia merasa direndahkan. "Dia (Handarri) bilang jangan mau enaknya pesan taksi online. Lalu, korban minta saya diantar pakai helikopter saja," kata pria berkulit gelap itu.
Kalimat Handarri itu lantas disambut dengan tembakan senjata air soft gun. Darmadi membidiknya dari kursi penumpang.
Handarri panik hingga menyebabkan mobil terperosok ke bahu jalan, lalu menabrak pohon. Mendapat serangan Darmadi, Handarri sempat melawan. Dia keluar dari mobil, tetapi Darmadi membuntuti.
"Saya tembak lagi dia. Karena melawan, saya pukul pakai dongkrak mobil," ucap pria beranak satu itu.
Tak hanya memukul dengan dongkrak, Darmadi juga menusuk korban dengan pisau. Saking kuatnya tusukan, gagang pisau patah.
Darmadi baru berhenti menganiaya Handarri setelah melihat ada warga yang melintas menggunakan sepeda motor. Darmadi langsung kabur, menjauhi lokasi, dan menelepon temannya meminta jemputan.
"Teman saya kaget lihat saya penuh lumpur. Saya bilang saya habis dikejar anjing. Terus saya minta diantarkan ke rumah teman saya itu di daerah Sepinggan. Saya mandi dan pinjam pakaian teman saya itu," bebernya.
Setelah mandi, Darmadi pulang ke rumahnya di kawasan Prapatan Dalam, Balikpapan Kota. Tak lupa dia membuang baju yang berlumuran darah dan lumpur, di bak sampah dekat Auri, Sepinggan, Balikpapan Selatan.
Sampai di rumah, dia bercerita kepada sang istri. Mengaku telah membunuh seseorang.
Bersama istri dan anaknya yang masih berumur empat bulan, Darmadi lantas menyewa mobil. Mereka akan pulang ke kampungnya di Sangatta. Namun, dia menolak disebut akan melarikan diri.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
