Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Juni 2018 | 22.53 WIB

Lewat Skema Kemitraan, Kementan Optimistis Swasembada Bawang Putih

Inilah salah satu bawang putih petani Magelang. - Image

Inilah salah satu bawang putih petani Magelang.

JawaPos.com - Pada era 80–90-an, Kabupaten Magelang menjadi salah satu sentra bawang putih terbesar di Indonesia. Persisnya di lereng Gunung Sumbing, Kecamatan Kaliangkrik dan Windusari. Namun seiring dengan mulai masuknya bawang putih impor pada 1995-an, kejayaan bawang putih Magelang berangsur surut.


Kini, geliat kebangkitan bawang putih di dua kecamatan tersebut mulai menghasilkan. Selain cabai dan hortikultura lain, petani setempat makin atraktif dengan tanam bawang putih secara masif, sentranya di Kecamatan Kaliangkrik dan Windusari.


Data dari Kementerian Pertanian, total sampai dengan saat ini terdapat 14 perusahaan yang memiliki komitmen tanam di Magelang. Varietas lokal yang ditanam seperti lumbu hijau, lumbu kuning, lumbu putih, tawangmangu mampu memproduksi rata-rata tujuh ton per hektare.


Guna menggenjot produksi bawang putih, Direktorat Hortikultura Kementan tengah menguji benih impor Taiwan jenis Great Black Leaf (GBL). Di Temanggung, GBL cukup berhasil alias adaptif dengan produktivitas mencapai 10 ton per hektare.


Petani bawang putih di Magelang, Tunov mengapresiasi program wajib tanam lima persen bawang putih oleh pelaku usaha importir. Sebab petani cukup diuntungkan dengan pola kemitraan ini.


“Sejauh ini kemitraan berjalan lancar dan tidak ada kendala yg berarti lapangan. Baik importir maupun petani sama sama menjaga komitmen bersama," ujar dia.


Pernyataan yang sama dikatakan Awalin, ketua Poktan Sido Maju. Saat ini, dia bermitra dengan salah satu importir yang berkomitmen dengan wajib tanamnya.


“Kami mendapat Rp 50 juta per hektare untuk kebutuhan benih, saprodi, dan tenaga kerja. Ini Alhamdulillah sesuai dengan kesepakatan kerja samanya," terangnya.


Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Wijayanti mengatakan, pihaknya terbuka terhadap kerja sama kemitraan pelaku usaha importir, dengan petani bawang putih.


"Hasilnya realisasi tanam melalui APBN 2018 seluas 300 hektare dan wajib tanam importir seluas 1.356 hektare," jelasnya.


Pola yang Menguntungkan


Dirjen Hortikultura Suwandi menyatakan, pola kemitraan ini sangat bagus dan menguntungkan kedua belah pihak. Pelaku usaha menyiapkan modal dan tata niaganya. Sedangkan petani melakukan budi daya sehingga kemitraan terus berjalan secara berlanjutan.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kami terus mengembangkan bawang putih secara bertahap untuk mencapai swasembada dan kesejahteraan petani. Target swasembada pada 2021 ditanam 80 ribu hektare,” sebutnya.


Suwandi mengungkapkan, pada 2018 Kementan siap mengembangkan kawasan bawang putih dari APBN seluas 6.100 hektare lebih.


“Pelaku usaha wajib tanam 7.400 hektare, juga ada tanam petani swadaya dan investor,” terang Suwandi.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore