Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Juni 2018 | 12.00 WIB

Kisah Narapidana Menjadi Penceramah

Hairul Iskandar, seorang narapidana bersama Kasat Tahti Polres Jakarta Selatan Kompol Deddy Arnadi. - Image

Hairul Iskandar, seorang narapidana bersama Kasat Tahti Polres Jakarta Selatan Kompol Deddy Arnadi.

Tak banyak yang dapat melalui fase berada di dalam jeruji besi, diasingkan orang-orang terdekat, hingga kehilangan segala kenikmatan dunia. Namun, Hairul Iskandar, seorang narapidana di Polres Jakarta Selatan bisa melaluinya. Label seorang narapidana melekat dalam stigma masyarakat sebagai orang jahat bisa diubahnya dengan cara menjadi penceramah. 


EVI ARISKA, Jakarta


Padahal bagi mantan napi, mereka tentu sudah banyak berubah. Bagi mereka, penjara benar-benar sebagai tempat untuk mengubah diri menjadi sosok yang lebih baik lagi. Salah satu mantan napi dengan kasus terduga penipuan, Hairul Iskandar adalah salah satu dari sekian banyak tahanan yang menuai perubahan dalam hidupnya selama berada di rumah tahanan Polres Metro Jakarta Selatan. Kini, namanya dikenal seluruh tahanan dan lingkungan sekitarnya sebagai penceramah.


"Kalau ditanya kenapa tersentuh jadi ustad karena memang keyakinan agama saya. Kedua, kenapa saya tersentuh untuk menyampaikan ceramah, karena pada saat titik nadir maka yang dibutuhkan orang adalah inspirasi atau semangat," kata Hairul saat berbincang dengan JawaPos.com beberapa waktu lalu.


Hari pertama mamasuki bulan puasa, adalah hari ketika dia menginjakkan kaki di rumah tahanan Polres Metro Jakarta Selatan. Ketika itu pula Hairul merasakan dinginnya jeruji besi dan kehilangan segala nikmat dunia. Sempat merasa terpuruk, tak membuatnya berhenti berjuang bertahap hidup dari sebuah keputusasaan.


"Karena ada dua pilihan, dia melanjutkan hidup atau tidak ada harapan, bahkan bisa bunuh diri. Itu yang saya rasakan. Tapi itu pengalaman untuk survival (bertahan hidup). Anda bisa bayangin pada saat titik nadir kita survive kita kenal dengan orang-orang dari macam-macam jenis kejahatan, dari kasus a,b,c, kita tidur bareng," ungkapnya.


Bahkan, selama berada di dalam penjara, banyak hal yang tidak dapat dirasakannya di dunia luar. Mulai dari cara bertahan hidup, beribadah tanpa gangguan, hingga hidup teratur. Hari demi hari dilewatinya dengan membuat biografi kegiatan sehari-hari. Tak hanya itu, di dalam tahanan Polres Metro Jakarta Selatan, Hairul terkenal dengan lapak bukunya.  


"Dan percaya enggak percaya, saya di luar kena asam urat, di dalam enggak kena asam urat. Jadi pengalaman menarik saya itu makan apa adanya, justru itu yang sebenarnya sehat. Bagi saya di sana seperti pesantren karena semua serbateratur. Bahkan di bulan Ramadan, ibadah kami enggak ada yang ganggu. Saya di sana terkenal buka lapak, kebetulan saya suka baca, saya suka bagi-bagi itu buku, mereka (tahanan) senang semua. Kemudian saya juga buat survival, saya buat rencana hidup dalam 50 hari, kegiatan sehari-hari," tuturnya.


Tak hanya sampai di situ, satu atap bersama seluruh tahanan dari berbagai kasus tak membuatnya takut atau menutup diri. Dengan modal berbahasa Inggris, dia berkenalan dengan tahanan asing dari Colombia, mereka saling berbagi ilmu dan berjuang bersama layaknya rekan. Pengalaman yang tak didapatkannya di dunia luar itulah membuatnya tidak merasa seperti berada dalam penjara, melainkan di dalam pesantren.


"Paling menarik lagi saya ketemu orang asing di situ, orang Colombia jauh dari istri dari orang tua. Bisa bayangin dia survive sama saya. Kebetulan saya bisa bahasa inggris, dia ngelatih saya bahasa Portugis. Di situ saya enggak merasakan sebagai hukuman, tetapi di situ sebagai proses pembelajaran, survive bagaimana bisa bertaruh di titik nadir. Titik yang kamu enggak punya apa-apa, teman kamu menjauhin kami, orang tua," kenangnya.


Namun, kata dia, semua itu akan mustahil tanpa dorongan dari Kasat Tahti Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Deddy Arnadi. Perkenalannya dengan Deddy lah yang mengubah hidupnya menjadi seorang penceramah. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan kesempatan untuk mengumandangkan ayat-ayat di dalam penjara di hadapan ratusan napi.


"Pertama kali saya diberikan kesempatan untuk ceramah adalah pada saat Idul Fitri, saya masih jadi tahanan di dalam. Itu semua berkat dukungan Polres Jakarta Selatan, Pak Deddy ini ngasih semua orang kesempatan untuk bisa ngisi ceramah di dalam. Jadi beruntung, Pak Deddy juga yang ngenalin kita sama ustad-ustad, pada intinya dikasih kesempatan. Kalau enggak dikasih kesempatan kita enggak bisa," ucap dia.


Hingga saat ini, terbebas dari tahanan Hairul dan Deddy sering bertemu untuk sekadar mengenang masa-masa di dalam penjara atau sekadar bersilaturahmi. Bagi Hairul, Deddy telah dianggappnya sebagai orang tua pengganti, berkat kesabaran dan bimbingannya, akhirnya Hairul menjadi sosok orang yang jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya.


"Tapi berkat petolongan Allah kita punya harapan. Pak Deddy inilah yang mengajarkan saya dengan ilmu psikologinya, pendekatan secara kekeluargaan. Jadi dia enggak nganggap penjahat sebagai penjahat, tapi dilakukan sebagai seorang anak. Makanya pas keluar saya nyarinya pak Deddy, saya sudah anggap seperti ayah. Karena Pak Deddy memberikan pendekatan kemanusiaan, sekelas teroris pun nurut sama Pak Deddy," tukasnya.


Sementara itu Deddy mengatakan, selama bertahun-tahun menjadi Tahti, waktu Deddy banyak dihabiskan bersama para tahanan hampir setiap harinya. Hal itu pula yang menjadi pengalaman berharga baginya. Berbagai pengalaman suka duka bersama tahanan telah dilaluinya. Salah satu pengalaman mencengangkan dan dipenuhi rasa takjub adalah ketika empat orang tahanan memutuskan untuk menjadi seorang mualaf semenjak ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore