Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Juni 2018 | 18.45 WIB

Klaim Menristekdikti, Radikalisme Masuk Kampus Sejak Orde Baru

Menristekdikti, M Nasir. Nasir menyebut kampus-kampus yang terpapar paham radikalisme sudah berkurang. Nasir mengatakan paham ini sudah ada sejak tahun 1983. - Image

Menristekdikti, M Nasir. Nasir menyebut kampus-kampus yang terpapar paham radikalisme sudah berkurang. Nasir mengatakan paham ini sudah ada sejak tahun 1983.

JawaPos.com - Penangkapan 3 orang terduga teroris di Universitas Riau (UNRI) telah mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Dengan kata lain paham radikalisme juga telah menyasar lingkup intitusi pendidikan.


Menanggapi hal itu, Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi(Menrisdiktek), Mohamad Nasir menolak kejadian di UNRI sebagi bentuk kelalaian negara. Sehingga intitusi pendidikan disusupi paham radikalisme.


Nasir menuturkan bahwa kejadian seperti ini sudah terjadi sejak 1983. Penyebabnya ketika Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) dilakukan di era pemerintahan Soeharto.


Setelah itu terjadi kekosongan di kampus dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum nakal.


"Bukan kecolongan, saya sudah berkali-kali cerita kasus ini kejadian sejak 1983 setelah ada NKK dan BKK kemudian kampus ada kekosongan kegiatan terus diisi mereka, dan ini berjalan sampai sekarang," ujar Nasir di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (4/6).


Meski demikian Nasir menolak jika NKK atau BKK dihidupkan kembali sebagai solusi penanggulangan teroris. Sebab hal itu akan membuat politik hidup di lingkup institusi pendidikan.


Di sisi lain, hal itu akan bertentangan dengan semangat pembangunan pendidikan di Indonesia. Karena pemerintah tengah berupaya membawa pendidikan ke dalam persaingan global.


"Ya (NKK/BKK) tidak akan dihidupkan kembali. Nanti kalau dihidupkan kembali kampus akan menjadi lahan politik lagi. Ini jadi masalah lagi," tegas Nasir.


"Kita itu ingin bergerak ke global. Global competitiveness ini menjadi sangat penting, bagaimana higher education to complete with other countries ini penting sekali," pungkasnya.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore