Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Juni 2018 | 06.26 WIB

Cerita JK saat Puasa di Turki, Buka Cuma Disuguhi Nasi Kotak dan Kurma

Wapres JK saat menyampaikan pidato dalam pertemuan dengan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Kamis (31/5). - Image

Wapres JK saat menyampaikan pidato dalam pertemuan dengan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Kamis (31/5).

JawaPos.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mendapatkan pengalaman puasa yang tak terlupakan di dua negara berbeda. Yakni saat di Turki yang mayoritas beragama muslim dan di Spanyol yang mayoritas non muslim.


Pengalaman berpuasa di Turki itu dia lalui pada awal puasa tahun ini, tepatnya saat mengikuti agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, Turki pada 18 Mei lalu. Kebetulan saat itu, Sidang KTT digelar menjelang berbuka puasa.


”Pertemuan pertama jam 5 sore menjalang berbuka. Sampai Maghrib saya pikir tentu kita ishoma (istirahat solat makan). Kalau kita (di Indonesia), tidak ada ishoma orang protes pada hari biasa, apalagi puasa,” ujar JK saat menyampaikan pidato dalam pertemuan dengan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Kamis (31/5).


Ternyata dalam sidang itu tidak ada ishoma. Namun para peserta sidang KTT diberi kurma dan nasi kotak. Lantas sidang berjalan biasa. Kemudian JK pun menyampaikan peryataan sikap pemerintah Indonesia atas peristiwa di Palestina.


”Jangankan tarawihnya, Magribnya aja tidak. Ya betul saya jamak (karena) musafir. Tapi Erdogan (Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan) kan tinggal di Turki di Istanbul,”  ungkap JK.


Kemudian, JK menceritakan saat berpuasa di Spanyol sekitar sepuluh tahun lalu. Di sebuah kafe dia memesan kopi bersama rombongannya. sebelumnya, mereka baru saja naik pesawat dari Amerika Serikat singgah ke Frankfurt lantas ke Madrid.


”Jam 6 saya pikir sudah lewat puasa. Saya turun, teman-teman sudah banyak. Terus kemana kita ini? oh kita jalan jalan sambil cari minum kopi saya bilang,” papar JK.


Mereka pun lantas menemukan kafe. Di kafe tersebut ada seorang pelayan yang menayakan kepada JK apakah muslim atau tidak. Selanjutnya pelayan itu menuturkan bahwa saat itu belum waktunya berbuka puasa.


”Saya pikir kita ini kan musafir. Terus dia bilang avion, saya ingat avion itu pesawat terbang. Avion itu tidak dianggap musafir. Jadi dia mau ambil hakikatnya,” ungkap JK lantas tersenyum.


Dari cerita itu JK menyimpulkan,  yang dianggap sebagai musafir itu bukan lagi berkaitan dengan jarak tempuh. Tapi, lebih berkaitan dengan kesulitan dalam menjalani perjalanan itu. 


Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore