
Kebakaran yang menghanguskan 43 unit rumah di Bidara Cina, Jakarta Timur, berasal dari ledakan kompor gas salah satu rumah warga.
JawaPos.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menyediakan tempat pengungsian yang lebih ramah anak, bagi korban kebakaran Kelurahan Bidaracina, Jaktim. Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat Susianah Affandy mengatakan, saat ini hanya tersedia tiga tenda pengungsian yang dibangun ala kadarnya.
Tak pelak hal ini membuat banyak warga masyarakat tidak betah, karena kondisinya yang panas. "Saya juga meminta Pemerintah Kota Jakarta Timur agar memberikan kemudahan kepada warga terdampak kebakaran dalam mengurus surat berharga dan penting seperti surat tanah, akta lahir, Kartu Keluarga, ijazah dan rapor anak," ujar melalui keterangan tertulis diterima JawaPos.com, Selasa (29/5).
Susianah melihat warga yang memiliki anak-anak masih kebingungan soal tempat tinggal mereka di nantinya. Maka, dirinya meminta Pemkot menyediakan hunian yang layak ditempati. Sebab saat ini warga terdampak mulai merencanakan tinggal di indekos atau kontrakan.
KPAI mencatat ada 221 jiwa dari 56 Kepala Keluarga dan 46 rumah yang terdampak kebakaran tersebut. Bahkan, terdapat 55 anak yang ikut menjadi korban.
"Rincian anak usia SD 23 orang, anak usia SMP sebanyak 14 orang dan anak usia SMA sebanyak 20 orang. Kebakaran membuat anak-anak bersedih, karena kehilangan tempat tinggal," ujar Susianah.
Dirinya melihat kondisi syok terjadi ketika orang tua membawa anak-anak mereka yang masih balita meninggalkan rumahnya yang akan terbakar. Apalagi, pada saat kejadian anak-anak masih tertidur lelap.
"Bayangkan langsung dibangunkan dan dibawa berlari keluar rumah, melewati gang sempit yang dijejali orang-orang yang panik menyelamatkan diri dengan disertai jeritan orang dewasa dan tangisan balita. Situasi ini yang mengakibatkan anak-anak balita mengalami trauma," terangnya.
Susianah menambahkan, indikasi trauma di antaranya anak kehilangan selera makan, kerap mengigau dan menangis ketika tidur. Meski begitu, dia melihat nampaknya anak-anak di Bidaracina cukup beradaptasi dengan bencana.
Hal itu dikarenakan tempat tinggal mereka memang daerah langganan banjir. "Anak-anak usia 8-12 tahun yang kami temui mengaku menerima kejadian ini sebagai musibah. Sebab, menurut mereka tak ada gunanya marah karena tak mengembalikan rumah dan barang-barang yg hangus terbakar," tuturnya.
Susianah pun Dinsos DKI Jakarta dan Kemensos RI untuk memulihkan trauma (trauma healing) anak-anak korban kebakaran. Anak-anak harus mendapat penanganan psikososial yang dapat mengembalikan keceriaan mereka seperti sebelum terjadinya kebakaran.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
