Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Mei 2018 | 21.55 WIB

10 Hari Pertama Ramadan, Harga Beras Cenderung Turun

Menjelang Lebaran 2018, harga beras di pasaran cenderung menurun - Image

Menjelang Lebaran 2018, harga beras di pasaran cenderung menurun

JawaPos.com - Harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, ternyata cederung turun. Suplai dari sentra beras terus mengalir, sedangkan permintaan tak kunjung naik.


Berdasar pantauan di PIBC kemarin (27/5), harga beras medium masih Rp 9.000 hingga Rp 9.500. Sementara itu, harga beras premium Rp 11.000 hingga Rp 12.500.


Menurut Tri Jono, pedagang di PIBC, pada awal Ramadan aktivitas perdagangan beras cenderung sepi. Saat stok terus berdatangan dari daerah, permintaan belum bergerak naik. Akibatnya, harga beras premium maupun medium cenderung turun.


"Sebelum puasa, masih sulit cari beras (medium, Red) di bawah Rp 8.500 (harga kulak, Red). Sekarang sudah ada yang Rp 8.300 atau Rp 8.200," ungkap Tri.


Dengan harga kulak tersebut, para pedagang biasanya melepas beras ke pasaran Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kg. Tidak ada yang melampaui Rp 10.000 per kilogram.


Selain suplai lokal tinggi, stok beras impor dari operasi pasar Bulog masih banyak. Di Tri, masih ada sekitar 5 ton beras impor yang ngendon sejak awal tahun lalu.


Menurut Tri, konsumen memang tidak terlalu suka dengan beras impor dari Vietnam tersebut. Selama masih ada beras lokal, para pelanggan tidak akan beralih ke beras impor dari pemerintah. Apalagi saat harga beras lokal masih relatif lebih murah.


"Beras Vietnam memang bagus, patahnya sedikit. Tapi, masih lebih pulen beras lokal. Selain itu, beras Vietnam nggak begitu berasa," jelasnya.


Tri memprediksi permintaan beras kembali naik sekitar seminggu menjelang Lebaran. Saat itu kebutuhan beras banyak, terutama karena menunaikan zakat fitrah.


Soal impor beras pemerintah sebanyak 500 ribu ton, Tri menyatakan belum ada tanda-tanda beras tersebut didatangkan ke Cipinang. Kalaupun ada, menurut dia, beras-beras itu tidak akan laku di pasaran karena beras lokal masih melimpah.


Sementara itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti tak memberikan banyak informasi terkait dengan alasan impor beras saat suplai di dalam negeri tinggi. "Yang jelas, beras impor dijadikan cadangan beras pemerintah," ujar Tjahya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore