
Meditasi menjadi salah satu strategi efektif untuk mengelola rasa frustasi secara sehat dan alami. (Freepik)
JawaPos.com – Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pernah menghadapi frustasi, baik karena pekerjaan, hubungan personal, maupun tantangan akademik. Frustasi merupakan bentuk emosi yang muncul ketika harapan tidak sesuai kenyataan. Meski wajar, jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat menurunkan kesehatan mental, memicu stres, hingga menimbulkan gangguan fisik.
Menurut American Psychological Association (APA), frustasi erat kaitannya dengan kemampuan seseorang mengendalikan emosi. Individu dengan toleransi frustasi rendah cenderung lebih mudah marah, cemas, bahkan putus asa. Oleh karena itu, strategi psikologis diperlukan agar emosi negatif tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Mengapa Frustasi Terjadi?
Psikolog dari Psychology Today menjelaskan bahwa frustasi sering muncul ketika individu menghadapi hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan. Misalnya, deadline pekerjaan yang ketat, kegagalan akademik, atau konflik dalam hubungan. Kondisi ini membuat otak merespons dengan rasa tegang, jengkel, hingga kehilangan motivasi.
Selain itu, penelitian dalam Journal of Taujih menegaskan bahwa paparan konten negatif di media sosial juga dapat meningkatkan rasa frustasi. Informasi berlebihan, perbandingan sosial, hingga kabar buruk yang terus-menerus dikonsumsi tanpa filter, dapat memperberat tekanan psikologis individu.
Dampak Frustasi pada Kesehatan
Menurut Verywell Mind, frustasi yang tidak terkendali bisa menimbulkan masalah jangka panjang, seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan psikosomatis. Gejalanya meliputi sakit kepala, sulit tidur, dan menurunnya daya tahan tubuh. Di sisi lain, frustasi juga bisa memengaruhi hubungan sosial, karena orang yang mudah marah atau tersinggung cenderung menarik diri atau menciptakan konflik.
Bagaimana Cara Menghadapinya?
Psikolog menyarankan beberapa strategi psikologis untuk menghadapi frustasi secara sehat:
Latihan Pernapasan dan Relaksasi. Menurut Mental Health America (MHA), teknik pernapasan dalam selama beberapa menit terbukti menurunkan kadar hormon stres.
Ubah Pola Pikir (Reframing). Melihat kegagalan sebagai proses belajar membuat individu lebih tangguh menghadapi hambatan.
Terapkan Coping Mechanism Positif. Siloam Hospitals menekankan pentingnya mengganti pelarian negatif (seperti marah berlebihan atau belanja kompulsif) dengan aktivitas sehat, misalnya olahraga, membaca, atau menulis jurnal.
Kelola Paparan Informasi. Psikolog UGM mengingatkan agar bijak dalam mengonsumsi berita maupun media sosial. Batasi waktu screen time untuk mencegah overstimulasi emosi negatif.
Bangun Dukungan Sosial. Membicarakan perasaan dengan keluarga, teman, atau konselor dapat meringankan beban psikologis dan memberi perspektif baru.
Latih Ketahanan Mental (Resilience). Resilience membuat seseorang lebih cepat bangkit dari kekecewaan. Cara melatihnya antara lain dengan mindfulness, gratitude journaling, dan menjaga kesehatan fisik.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
