Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Maret 2020 | 20.32 WIB

Durian Lokal Tajinan Malang, Ada Yang Warnanya Mirip Gading Gajah

SUDAH MASAK: Meski ukurannya relatif kecil, tekstur daging buah lokal Randugading terkenal lembut. (Ahmad Yani/Jawa Pos Radar Malang) - Image

SUDAH MASAK: Meski ukurannya relatif kecil, tekstur daging buah lokal Randugading terkenal lembut. (Ahmad Yani/Jawa Pos Radar Malang)

Desa Randugading di Kecamatan Tajinan tidak boleh dilewatkan dari daftar penghasil durian asal Kabupaten Malang. Di sana aneka durian lokal tumbuh subur. Budi daya juga getol dilakukan.

---

POHON durian ibarat tanaman ”wajib” bagi mayoritas warga di Randugading. Di hampir semua pekarangan rumah maupun kebun milik para penduduk pasti ada pohon itu.

Umumnya, pohon durian berdampingan dengan pohon nangka dan duku. Sebab, bagi warga, selain ditunggu buahnya, pohon durian mempunyai fungsi lain. Yakni, menjadi ”pagar hidup” alias pembatas lahan mereka.

Awalnya, budi daya yang dilakukan warga sangat manual. Pohon-pohon itu tumbuh secara alami. Tak ada perawatan khusus. Kebanyakan adalah durian lokal.

Karena itu pula, durian-durian lokal tersebut tidak memiliki nama khusus. Warga menamainya sesuai bentuknya. Untuk buah yang besar dan lonjong, mereka menyebutnya durian bajul. Sementara itu, durian lain hanya disebut durian jowo atau durian biasa. ”Memang dari dulu tidak ada nama khusus. Hanya disebut durian jowo,” ujar Kasun Rambakan, Desa Randugading, Hani Siswanto.

Di luar itu, ada satu varietas lokal asal Randugading yang tergolong spesial. Mayoritas warga desa membudidayakannya karena sejumlah keunggulan. Mereka menamainya durian gading.

Nama itu disesuaikan dengan warna buah dan dagingnya, sama-sama kuning bak gading gajah. Meski ukurannya relatif kecil, tekstur daging buah yang lembut dan rasanya yang manis legit membuat durian itu banyak diminati.

Dalam perkembangannya, beragam varietas durian saat ini juga sudah dibudi daya warga. Mulai durian montong, bangkok, hingga bawor.

Selain warga, pemangku kebijakan di desa itu getol mengembangkan pembibitan durian. ”Kami memberikan bantuan sekitar 500 bibit pohon durian unggul kepada warga beberapa tahun lalu. Harapannya, selain pohon durian lokal, Randugading bisa menjadi sentra durian,” kata Kepala Desa Randugading Budi Sasmito.

Pohon Manja Jadi Ujian

Di tengah-tengah usaha budi daya yang getol dilakukan, ada sejumlah ”ujian” yang dihadapi para warga Randugading. Salah satunya, sulitnya merawat pohon-pohon itu.

Bambang Sumantri, salah seorang petani durian asal Randugading, menceritakan, merawat durian di desa itu gampang-gampang susah. Umumnya, pohon nonlokal cenderung ’’manja’’.

Misalnya, ketika terkena hujan saat malam, biasanya beberapa hari kemudian daunnya mulai mengering. Jika tidak diobati, daunnya gogrok atau rontok. Pohonnya bisa mati. ”Apalagi pas terkena embun upas, durian yang musim sebelumnya sudah berbu-ah tahun ini malah tidak panen,” katanya.

Selain itu, saat ini cukup banyak pohon durian lokal berusia tua yang ditebang pemiliknya. Selain dianggap membahayakan karena batangnya menjulang tinggi, pemiliknya kesulitan merawat dan memanen buahnya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore