
Ilustrasi adonan roti.
JawaPos.com - Di balik kelezatan roti yang empuk dan aromatik terdapat faktor kunci yang seringkali terlupakan untuk digunakan yakni ragi. Ya, ragi adalah faktor kunci dari bentuk dan tekstur yang sempurna dari setiap suapan roti.
Dalam proses baking atau membuat adonan dari roti, pemilihan ragi adalah keputusan krusial yang dapat mempengaruhi hasil akhir secara signifikan. Dapat memilih jenis ragi yang tepat merupakan langkah penting dalam proses pembuatan adonannya supaya roti berhasil mengembang dan fluffy saat dikonsumsi.
Namun, tidak semua ragi diciptakan sama karena terdapat beragam jenis ragi yang masing-masing memiliki karakteristik dan kegunaannya sendiri. Kenali ragi-ragi tersebut dengan baik sangatlah vital, karena salah memilih jenis ragi bisa berdampak kurang baik pada hasil akhir roti Anda.
Dari ragi aktif hingga ragi instan, setiap jenis memiliki keunikan dan cara penggunaan yang berbeda, sehingga memahaminya dengan baik adalah kunci untuk menghasilkan roti yang lezat dan berkualitas. Mari kita telusuri berbagai macam ragi dan pelajari bagaimana cara memilih jenis ragi yang tepat untuk kebutuhan pembuatan roti Anda.
Dilansir dari Delish.com, terdapat 3 jenis utama ragi yang diproduksi secara komersial. Semua jenis ragi ini dapat digunakan untuk mengembangkan adonan dalam resep pembuatan roti yang menggunakan ragi, tetapi masing-masing memiliki sifat yang sedikit berbeda. Dan untuk penikmat roti yang memiliki indra perasa yang tajam, masing – masing jenis ragi ini juga memberikan varian rasa yang berbeda.
Berikut adalah beragam jenis ragi yang populer sering digunakan dalam proses pembuatan roti:
1. Ragi Aktif Kering
Ragi merupakan bentuk sel sel mikroorganisme yang hidup, berfungsi sebagai bahan pengembang adonan. Ragi aktif kering pada dasarnya adalah ragi hidup yang sebagian kering, diolah menjadi tidak aktif, dan dihaluskan menjadi butiran. Banyak baking resep rumahan yang menyarankan untuk menggunakan ragi aktif kering. Yang membedakan jenis ragi ini dari ragi kering lainnya adalah butirannya lebih besar dan perlu larut dalam air hangat terlebih dahulu sebelum aktif dan dapat bekerja dengan maksimal.
Anda sering menemukan ini dijual dalam paket ¼ ons atau sebuah toples kaca berwarna 4 ons di lorong bahan roti dan kue. Sel-sel ragi yang tidak aktif ini dapat disimpan pada suhu ruang selama beberapa bulan sampai tanggal kadaluarsa, tetapi perlu diingat bahwa ragi aktif kering ini sensitif terhadap panas.
Pastikan untuk menyimpannya di tempat yang tidak terkena panas, hingga saat Anda siap untuk proses baking. Ragi aktif kering akan mulai mati begitu terkena suhu di atas 120°F. Untuk memperpanjang masa simpannya, simpan dalam bungkusan yang disegel dan masukkan ke dalam kantong kedap udara kemudian taruh di freezer. Hal tersebut akan membuat ragi tetap dalam keadaan tertutup dan kering yang lebih aman.
Sebelum ditambahkan ke dalam resep Anda, ragi aktif kering harus dilarutkan dalam air atau susu hangat (antara 100°F dan 110°F) untuk memastikan tingkat aktivitasnya. Jika campuran dari ragi Anda tidak meningkat ukurannya dan menjadi berbusa dalam waktu 10 hingga 20 menit, kemungkinan besar ragi yang Anda gunakan, sudah tidak lagi dapat digunakan dan tidak lagi bermanfaat.
Kemungkinan ini tidak mustahil karena proses manufaktur atau proses produksi dalam pabrik untuk membuat ragi aktif kering dapat membunuh hingga kurang lebih sebanyak 25% sel ragi. Ragi aktif kering memiliki proses fermentasi yang lebih lama dibandingkan dengan ragi lainnya, yang berarti cocok untuk resep adonan yang membutuhkan dua kali pengembangan dan waktu pengembangan yang lebih lama.
2. Ragi Instan
Dikenal juga sebagai "bread machine", ragi instan ini lebih tahan lama dan cenderung lebih aktif secara konsisten jika dibandingkan dengan ragi aktif kering. Merk ragi instan yang paling populer di kalangan para pembuat roti profesional adalah SAF-Instant, yang dijual dalam kemasan 16 ons.
Ragi instan memiliki butiran yang lebih halus dan kecil daripada ragi aktif kering. Luas permukaan yang lebih besar ini memungkinkan proses rehidrasi yang lebih cepat, dan dapat digunakan dalam resep tanpa perlu mengembangkan ragi dalam cairan terlebih dahulu. Meskipun begitu, disarankan untuk masih mengembangkan ragi instan supaya memastikan distribusi ragi yang merata dalam adonan.
