Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Februari 2020 | 23.53 WIB

Durian Lokal Bawean, Manisnya Terkenal Melebihi Varietas Mancanegara

TAK BERSERAT: Durian asal Bawean punya rasa yang khas. Legitnya diselingi rasa lain. Ada gurih- gurihnya hingga sedikit asam. (Guslan Giumilang/Jawa Pos) - Image

TAK BERSERAT: Durian asal Bawean punya rasa yang khas. Legitnya diselingi rasa lain. Ada gurih- gurihnya hingga sedikit asam. (Guslan Giumilang/Jawa Pos)

SELAMA ini Bawean lebih dikenal karena ragam wisata alamnya yang begitu indah. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar mempromosikan pulau yang masuk wilayah Kabupaten Gresik itu. Salah satunya lewat ajang Sail Bawean.

Pulau yang terdiri atas dua kecamatan itu cukup luas. Tak hanya berupa daerah pesisir. Bagian tengah pulau tersebut didominasi gugusan pegunungan. Karena itulah, tidak salah jika beragam tanaman bisa tumbuh subur. Tak terkecuali durian, sang raja buah.

Dari sejumlah wilayah di Bawean, salah satu yang terkenal akan duriannya adalah Dusun Balikterus, Desa Sungaiterus, Kecamatan Sangkapura. Tidak sulit menemukan pohon durian di sana. Mulai tanaman baru hingga pohon yang sudah berusia ratusan tahun.

Bukan hanya pohonnya yang menyebar, kualitas durian asal desa itu juga diakui warga Bawean. Rasanya supermanis. Bahkan, banyak yang menyebut manisnya melebihi durian montong. Namun, legitnya masih diselingi dengan rasa lain. Ada gurih-gurihnya hingga sedikit asam.

Misalnya, durian dari pohon milik Sapiudin. Warga setempat biasa menyebutnya durian balikterus. Untuk varietas itu ada dua jenis. Yang satu memiliki warna kuning jagung. Rasanya creamy dan manis, plus ada nuansa gurih.

Daging buahnya tidak berserat dan cukup tebal. Ponggenya juga khas, hanya seukuran kuku. ”Dari kulitnya juga lebih hijau kekuningan,” papar Sapiudin, pemilik pohon.

Durian berikutnya memiliki warna cenderung oranye. Varian yang satu ini tetap memiliki rasa manis yang menonjol. Namun, dagingnya lebih pulen dan ngetan. Dagingnya juga tebal. Kulitnya lebih kecokelatan.

Satu kilometer dari tempat Sapiudin, terdapat sebuah pohon durian tua. Dibutuhkan lima orang untuk bisa memeluk pohon itu. ”Kalau berbuah bisa sampai seribu lebih. Rasanya juga sangat manis. Tidak ada pahitnya,” papar Sulaiman, salah satu warga.

https://www.youtube.com/watch?v=9g4UF0j6fMc&t=

Sayang, tidak ada upaya untuk merawat pohon-pohon itu. Alhasil, banyak batang pohon yang kering dan ditumbuhi benalu. ”Sudah berkali-kali patah juga,” tambah Sulaiman.

Selain di Dusun Balikterus, durian di Bawean ditemukan di Dusun Gunung Soka. Ada pohon besar di sana. Nasibnya juga sama. Banyak yang penyakitan.

Memang musuh terbesar pohon-pohon durian raksasa adalah para pemburu kayu. Kayu tua biasa dimanfaatkan untuk membangun rumah. Para pemilik beralasan buah yang dihasilkan kurang tebal. Meski rasanya enak, itu tidak menjadi godaan untuk mempertahankannya.

Sebagian warga di sana sebenarnya cukup gencar menanam pohon durian. Namun, varietasnya asal Malaysia. Yakni, montong dan musang king. ”Bibitnya dibawa dari Malaysia langsung menggunakan kapal. Atau, kalau tidak, diambil dari Pulau Jawa,” papar Sapiudin yang sudah memiliki 100 pohon berbagai jenis.

Uniknya, meski suplai buah di pulau itu melimpah, durian asal Bawean tidak sampai dikirim ke luar. Sebab, dipasarkan di sana saja terkadang masih kurang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore