
Photo
JawaPos.com – Di tengah wabah Covid-19, sektor pariwisata mengalami pukulan paling kencang. Namun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya meningkatkan pariwasata tanah air. Di antaranya melalui wisata berbasis komunitas (community based tourism/CBT).
Kemenparekraf memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan CBT di tanah air. Sebab dalam arti lain, CBT bisa diwujudkan dalam bentuk desa wisata atau kampung wisata untuk di perkotaan. Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf Josua Puji Mulia Simanjutkan mengatakan, dengan nomenklatur baru Kemenparekraf maka konsep pariwisata berbasis ekonomi kreatif yang dijalankan komunitas menjadi perhatian khusus.
Terutama yang berlokasi di desa dengan akan menjadi menjadi kekuatan pendukung pariwisata nasional. Selain itu desa-desa di Indonesia memiliki banyak kekuatan keratifitas berbasis kearifan lokal. ’’Ini harus dikembangkan menjadi community based tourisme,’’ katanya Sabtu (4/4).
Puti mengatakan saat ini sedang dijalankan perencanaan untuk memperkuat potensi ekonomi kreatif di daerah-daerah termasuk di desa. Penguatan ekonomi kreatif di daerah diawali dengan pemetaan kekuatan dan potensi serta tantangannya. Kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dan penguatan potensi daerah disusul dengan pengembangannya sebagai destintasi wisata.
’’Saya sarankan untuk masyarakat pariwisata di daerah-daerah untuk tetap dan terus menggali kreatifitas dan kearifan lokal,’’ jelasnya. Menurut Puji kreativitas berbasis kearifan lokal itu akan dijadikan sebagai karya unggulan yang menarik minat pariwisata.
Keberadaan wisata berbasis komuntias atau CBT itu terus bermunculan dalam satu decade terakhir. Tidak hanya di Indonesia saja. Tetapi juga di belahan dunia lainnya. CBT itu adalah program ekowisata yang dikembangkan oleh komunitas-komunitas lokal dan harus didukung oleh pemerintah, operator tur, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Untuk Indonesia, prospek wisata di Kawasan yang bukan daerah tujuan wisata dapan tikembangan dengan baik melalui konsep wisata berbasis komunitas. Sehingga bisa meningkatkan perbaikan ekonomi masyarakat lokal sekitarnya. Ada kecenderungan wisatawan mimilih Kawasan wisata baru karena merasa jenuh dengan Kawasan wisata yang sudah ada. Peluang ini harus ditangkap masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi berbasis wisata.
Pada periode 2018 pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat mencapai 12,58 persen. Angka pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata ASEAN yang berada di kisaran 5,6 persen. Di tahun 2019 diharapkan devisa yang didapat dari sektor wisata bisa mencapai Rp 246,4 triliun. Namun untuk tahun ini, pendapatan sektor pariwisata sulit mencapai angka tersebut, karena ada wabah Covid-19.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
