
Surono
MENURUT mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, Marapi dengan sistem tubuh gunung terbuka yang membuatnya sering meletus. Walaupun begitu, tidak memungkinkan juga menutup pendakian.
Kalau Marapi sedemikian aktif, kenapa tidak ditutup untuk pendakian?
Karena hasrat masyarakat untuk mendaki itu tinggi. Lagi pula, di gunung sering ada tradisi renungan suci. Hal itulah yang tidak memungkinkan untuk ditutup. Maka, seharusnya semua pihak, baik pendaki maupun pengelola, benar-benar disiplin untuk mematuhi rambu-rambu berupa tidak mendaki dengan radius 3 km dari puncak atau kawah.
Kenapa larangan mendaki di radius 3 km sering dilanggar?
Jadi, sering kali antara nafsu untuk mendaki dengan logika risiko bahaya itu tidak akur. Mendaki gunung bukanlah perjalanan biasa. Ibarat bertamu, seharusnya mematuhi aturan sopan santun pemilik rumah, yakni Gunung Marapi. Tamu terhormat itu yang berani menghormati aturan pemilik rumah. Radius 3 km itu garis yang ditentukan yang punya rumah. Ibaratnya, Marapi telah mengatakan bahwa dirinya sering meletus. Silakan diukur daerah bahaya saya. Ingat, alat semacam apa pun tidak bisa mengetahui kapan waktu meletus.
Dalam letusan Marapi kali ini timbul korban jiwa, pandangan Anda?
Saya kaget saat mendengar timbul korban dalam letusan Gunung Marapi. Banyak orang yang menelepon saya. Saya menduga para korban beraktivitas di dekat kawah dalam radius 3 km. Kalau di luar 3 km, hampir tidak mungkin terdapat korban. Karakter setiap gunung itu berbeda. Semeru yang bisa gugur kubah kawahnya.
Korban bisa terjadi tidak hanya di sekitar puncak karena ada lava keluar dan awan panas terbawa angin sampai ke kampung. Lalu Krakatau, tsunami itu bukan karena letusannya, tapi karena longsoran tubuh gunungnya. Marapi itu hampir tidak mungkin awan panas sampai ke kampung. Maka, yang terkena korban biasanya di sekitar kawah.
Solusi mencegah timbul korban lagi?
Kedisiplinan dari pendaki atau wisatawan, dan terlebih pengelola kawasan. Pengelola jangan hanya menarik karcis. Ingatkan benar pendakinya, jangan melanggar radius 3 km. (idr/c18/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
