
Masa Carnian Pluvial terjadi sekitar 234 hingga 232 juta tahun yang lalu, ditandai dengan hujan tiada henti yang berlangsung selama kurang lebih dua juta tahun.(blog.everythingdinosaur.com)
JawaPos.com - Sekitar 234 juta tahun yang lalu, Bumi mengalami fenomena iklim ekstrem yang dikenal sebagai Carnian Pluvial Episode (CPE). Peristiwa ini ditandai dengan hujan yang berlangsung selama 1 hingga 2 juta tahun, mengubah lanskap planet secara drastis dan memicu perubahan besar dalam kehidupan makhluk hidup di darat maupun laut.
CPE terjadi pada masa Trias Akhir, ketika aktivitas vulkanik besar-besaran dari wilayah yang kini dikenal sebagai pesisir barat Amerika Utara melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer. Hal ini menyebabkan pemanasan global dan peningkatan curah hujan secara signifikan di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan dari University of Utah, perubahan iklim yang terjadi selama CPE menciptakan kondisi lingkungan yang basah dan berlumpur, sangat berbeda dari iklim kering yang sebelumnya mendominasi.
“Reptil mirip dinosaurus meninggalkan jejak kaki berlumpur di tepi danau selama badai hujan sekitar 234 juta tahun lalu di Argentina bagian barat laut,” ujar tim peneliti dalam publikasi mereka.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada iklim, tetapi juga memicu kepunahan massal beberapa spesies laut dan darat. Dalam waktu yang relatif singkat secara geologis, banyak spesies punah, memberi ruang bagi munculnya kelompok baru, termasuk nenek moyang dinosaurus dan mamalia.
Salah satu dampak paling mencolok dari CPE adalah hilangnya platform karbonat di lautan, yang sebelumnya menjadi habitat penting bagi organisme laut seperti spons dan koral. Penurunan kadar karbonat ini menunjukkan betapa drastisnya perubahan kimiawi di laut selama periode tersebut.
Peneliti dari Geoengineer.org menyebut CPE sebagai “salah satu titik balik paling penting dalam sejarah evolusi Bumi”. Mereka menekankan bahwa hujan berkepanjangan ini bukan hanya fenomena cuaca, melainkan pemicu transformasi ekosistem global.
CPE juga dianggap sebagai momen penting dalam sejarah geologi karena menandai transisi dari iklim kering ke iklim basah yang lebih kompleks. Perubahan ini membuka jalan bagi diversifikasi tanaman berbiji dan hutan yang lebih lebat, yang kemudian menjadi habitat bagi spesies baru.
Dalam konteks evolusi, CPE menjadi latar belakang kemunculan dinosaurus pertama. Lingkungan yang berubah memungkinkan mereka berkembang dan mendominasi ekosistem selama jutaan tahun berikutnya.
“Perubahan iklim ini memberi peluang bagi kelompok baru untuk bangkit,” ujar para peneliti dari University of Utah.
Meski terjadi ratusan juta tahun lalu, CPE memberikan pelajaran penting tentang dampak perubahan iklim yang tiba-tiba dan ekstrem. Fenomena ini menunjukkan bagaimana iklim dapat membentuk ulang kehidupan di Bumi dalam skala besar dan cepat.
Para ilmuwan kini terus mempelajari CPE untuk memahami pola perubahan iklim masa lalu dan dampaknya terhadap evolusi. Penelitian ini juga menjadi cermin bagi kondisi iklim saat ini, mengingat aktivitas manusia telah mempercepat perubahan lingkungan secara global.
Dengan memahami peristiwa seperti CPE, kita tidak hanya belajar tentang masa lalu Bumi, tetapi juga mendapat wawasan penting untuk menjaga masa depan planet ini. Sejarah hujan jutaan tahun ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan besar untuk mengubah segalanya, dan kita harus siap belajar darinya. (*)

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
