
Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan.
Di bagian Mandala Utama atau ’’aula’’ utama tempat sembahyang di Pura Luhur Poten, puluhan dukun pandita berpakaian putih dengan selendang kuning telah bersila. Ongkek, sesaji, serta anglo kembali digelar. Di belakangnya, umat dengan pakaian serba hitam berbalut sarung –plus udeng untukpria– ikut bersila menyimak tuturan para dukun pandita.
Ritual inilah yang jadi ’’jantung’’ Yadnya Kasada. Acara dibuka oleh Sutomo, dukun pandita Desa Ngadisari sekaligus ketua Paruman Dukun Pandita Tengger. Dia membacakan sejarah upacara Yadnya Kasada dan Puja Stuti dari lembaran lontar, dalam bahasa Jawa kuno. Terselip pula doa untuk penduduk Tengger supaya selalu pinaringan padhang pengiringan lestari, rahayu slamet seger waras (diberikan cahaya yang kekal dalam hidup, tenteram, selamat, dan sehat bugar).
Setelah upacara mekakat atau penutupan, tabuhan gamelan dan slompret kembali terdengar. Rombongan pemusik itu mengawal ongkek serta umat yang akan nglabuh. Saat itulah, terasa semangat umat melaksanakan ibadahnya. Para pengusung ongkek maupun mereka yang membopong sesaji hasil bumi dan ternak berjalan cepat. Tanpa henti. Bahkan, tidak sedikit yang lantas nekat mengambil jalur trabasan di samping tangga di kaki Bromo.
’’Bisa ibadah dan ngirimi leluhur itu syukurnya luar biasa, Mbak. Apa pun isi sesajinya, nggak ada yang asal-asalan. Semuanya dipilih yang bagus, ditata rapi,’’ papar Suyitno. Umat Hindu Tengger dari beragam penjuru terlihat antusias. Dengan berpakaian serba hitam dan sarung melilit di tubuh, mereka berhenti di tiap arca.
Masing-masing memberikan sesaji. Ada yang berupa takir (nampan kecil dari daun) berisi makanan, bunga, maupun rajangan pandan dan mawar merah-putih dengan uang koin. Meski suasana ramai, mereka menyempatkan menyalakan dupa, lalu sembahyang. ’’Kalau miturut wong ngisor (orang di bawah kaki Bromo yang bukan keturunan Tengger, Red), seperti nyekar,’’ ucap Suyitno.
Lalu lalang umat tidak terhenti meski matahari sudah menyapa di ufuk timur. Hingga jelang tengah hari, banyak penduduk yang datang membawa sekresek hasil bumi. Mulai bawang daun, kentang, tomat, hingga ayam.
Kasada mengajarkan umat untuk selalu bersyukur atas jalan dan berkah yang diberikan Sang Hyang Widhi Wasa. ’’Tanpa bersyukur, apa pun yang diberi oleh-Nya nggak akan terasa, malah rekasa (sengsara). Sesedikit apa pun, berikan apa yang didapat. Sang Hyang Widhi akan membalas, bahkan lebih besar dari yang kita beri,’’ tutup Suyitno. (fam/dos)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
