Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 22.52 WIB

Yadnya Kasada, Ritual Suci Umat Hindu Tengger

Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan. - Image

Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan.



Di bagian Mandala Utama atau ’’aula’’ utama tempat sembahyang di Pura Luhur Poten, puluhan dukun pandita berpakaian putih dengan selendang kuning telah bersila. Ongkek, sesaji, serta anglo kembali digelar. Di belakangnya, umat dengan pakaian serba hitam berbalut sarung –plus udeng untukpria– ikut bersila menyimak tuturan para dukun pandita.



Ritual inilah yang jadi ’’jantung’’ Yadnya Kasada. Acara dibuka oleh Sutomo, dukun pandita Desa Ngadisari sekaligus ketua Paruman Dukun Pandita Tengger. Dia membacakan sejarah upacara Yadnya Kasada dan Puja Stuti dari lembaran lontar, dalam bahasa Jawa kuno. Terselip pula doa untuk penduduk Tengger supaya selalu pinaringan padhang pengiringan lestari, rahayu slamet seger waras (diberikan cahaya yang kekal dalam hidup, tenteram, selamat, dan sehat bugar).



Setelah upacara mekakat atau penutupan, tabuhan gamelan dan slompret kembali terdengar. Rombongan pemusik itu mengawal ongkek serta umat yang akan nglabuh. Saat itulah, terasa semangat umat melaksanakan ibadahnya. Para pengusung ongkek maupun mereka yang membopong sesaji hasil bumi dan ternak berjalan cepat. Tanpa henti. Bahkan, tidak sedikit yang lantas nekat mengambil jalur trabasan di samping tangga di kaki Bromo.



’’Bisa ibadah dan ngirimi leluhur itu syukurnya luar biasa, Mbak. Apa pun isi sesajinya, nggak ada yang asal-asalan. Semuanya dipilih yang bagus, ditata rapi,’’ papar Suyitno. Umat Hindu Tengger dari beragam penjuru terlihat antusias. Dengan berpakaian serba hitam dan sarung melilit di tubuh, mereka berhenti di tiap arca.



Masing-masing memberikan sesaji. Ada yang berupa takir (nampan kecil dari daun) berisi makanan, bunga, maupun rajangan pandan dan mawar merah-putih dengan uang koin. Meski suasana ramai, mereka menyempatkan menyalakan dupa, lalu sembahyang. ’’Kalau miturut wong ngisor (orang di bawah kaki Bromo yang bukan keturunan Tengger, Red), seperti nyekar,’’ ucap Suyitno.



Lalu lalang umat tidak terhenti meski matahari sudah menyapa di ufuk timur. Hingga jelang tengah hari, banyak penduduk yang datang membawa sekresek hasil bumi. Mulai bawang daun, kentang, tomat, hingga ayam.



Kasada mengajarkan umat untuk selalu bersyukur atas jalan dan berkah yang diberikan Sang Hyang Widhi Wasa. ’’Tanpa bersyukur, apa pun yang diberi oleh-Nya nggak akan terasa, malah rekasa (sengsara). Sesedikit apa pun, berikan apa yang didapat. Sang Hyang Widhi akan membalas, bahkan lebih besar dari yang kita beri,’’ tutup Suyitno. (fam/dos)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore