
Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan.
JawaPos.com- Purnama di bulan Kasada adalah malam penuh makna bagi umat Hindu Tengger. Itu saat mereka membalas pengorbanan suci (yadnya) Puja Kusuma. Melanjutkan ritual syukur yang diturunkan oleh moyang mereka.
Hari itu jatuh pada 10 Juli. Hari Yadnya Kasada. Bertepatan dengan bulan kesepuluh kalender Tengger.
Menurut legenda, pada malam yang sama beratus-ratus tahun silam, Roro Anteng dan Joko Seger memenuhi nazarnya pada dewa. Jika dikaruniai 25 orang anak, si bungsu akan mereka korbankan untuk dewa.
Namun, tidak mudah buat orang tua untuk menyerahkan anaknya begitu saja. Apalagi, Puja Kusuma atau Kesuma, dalam dialek Jawa Tengger, merupakan putra kesayangan. Sang dewa muntab.
Tak ingin rakyat menjadi korban, Kesuma mengorbankan diri. Dia menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo. Satu permintaan diwariskannya pada anak-cucu: anak cucunya harus mengirimkan sesaji setiap hari ke-14 bulan Kasada.
Tapi, tanggal itu tak baku. Tahun ini, Yadnya Kasada jatuh pada hari (tanggal) ke-16. ’’Selama masih tengah bulan, masih purnama, upacara Kasada berlangsung,’’ kata Suyitno, dukun pandita Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Karena itu, dini hari di 10 Juli terasa beda. Hening. Tidak ada suara penduduk yang menawarkan homestay. Sejak pagi, banyak warung yang tutup.
Sunyinya malam baru pecah pada 01.45. Rombongan gamelan, diiringi alat musik tiup slompret,berara menuju rumah Mojo, pinisepuh (tetua) Desa Jetak. Dua di antara rombongan itu lantas mengusung ongkek dan tetuwuhan dari ruang tamu Mojo.
Jika ada salah satu penduduk desa yang meninggal setidaknya 44 hari sebelum hari Yadnya Kasada, ongkek pantang dibuat. Sebab, arwah mendiang yang belum mencapai alam baka bakal menjadi halangan diterimanya doa dan hajat penduduk. ’’Desanya nggak boleh nglabuh ongkek. Keluarga almarhum juga enggak. Tapi, penduduk lainnya boleh nglabuh sesaji sendiri-sendiri,’’ papar Suyitno.
Di balai desa, ongkek dibariskan. Di depan ongkek, ada anglo (tungku tanah) berikut makanan berikut hasil bumi yang diletakkan di atas tampah. Suyitno duduk bersila di hadapan sesaji tersebut, didampingi Kermat, kepala Desa Jetak. Mulutnya mengucap mantra. Menghaturkan doa buat leluhur pendahulu dan anak cucu para lurah, pinisepuh, serta penduduk desa dalam bahasa Jawa kuno.
Sekali waktu, Suyitno berhenti. Selendang kuning dengan kerincingan dia angkat. Air suci dicipratkannya ke sesaji yang ada di hadapannya. Penutupnya, dia menyatukan tangan di depan wajah lalu diangkat setinggi kepala. Ritual itu selesai sesuai perkiraannya. Pas pukul 02.00.
’’Sudah. Digawa dulu,’’ ucapnya. Ongkek diusung, sementara sesaji dikumpulkan dalam satu buntalan kain. Seluruhnya dimuat di bagian belakang pikap, bersama dengan alat musik dan umat. Para perempuan dan umat dari Desa Jetak lainnya diangkut dengan hardtop.
Ritual itu terbilang singkat. Tidak sampai 10 menit. Namun, harus dilaksanakan. ’’Kami pamit pada leluhur di sini, mengabarkan kalau kami menunaikan Yadnya Kasada,’’ ucap Suyitno. Setelah diupacarakan di balai desa, perjalanan dilanjutkan ke Dusun Cemoro Lawang. Salah satu ongkek dilabuh di punden (sanggar pemujaan) di sana.
’’Buat desa brang wetan (di timur Bromo, Red), panji atau pintu masuk ke Laut Pasir Bromo ada di Cemoro Lawang. Kami kulo nuwun, minta izin masuk di sini dengan nglabuh ongkek,’’ imbuhnya.
Perjalanan dilanjutkan ke Pura Luhur Poten di Laut Pasir Bromo. Rombongan Desa Jetak disambut dengan kabut bercampur debu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
