Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 November 2023 | 14.20 WIB

Unik Tapi Bikin Merinding! Intip Tradisi Pemakaman di Desa Trunyan Bali

Desa Trunyan Bali, miliki tradisi pemakaman yang unik dan bikin merinding. - Image

Desa Trunyan Bali, miliki tradisi pemakaman yang unik dan bikin merinding.

JawaPos.com – Pulau Dewata Bali memang memiliki magnet tersendiri bagi wisatawan yang ingin menjalani liburan, baik warga lokal maupun mancanegara.

Selain banyaknya tempat wisata, tradisi yang kental di kota yang juga dijuluki sebagai 'Seribu Pura' ini, memang membuat wisatawan selalu terpukau.

Salah satunya adalah tradisi yang ada di Desa Trunyan yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

Selain terkenal memiliki pemandangan alam yang sangat indah, desa ini juga mempunyai tradisi dan adat istiadat yang masih terjaga hingga saat ini.

Dilansir JawaPos.com dari Dinas Pariwisata Bali, Desa Trunyan memiliki tradisi pemakaman yang unik dan berbeda dari pemakaman lainnya.

Metode pemakaman bernama “Mepasah” ini sudah dilakukan secara turun-temurun.

Bali merupakan kota yang dihuni oleh mayoritas umat beragama Hindu, yang mana dalam ajaran Hindu, orang yang sudah meninggal akan dimakamkan dengan cara dikremasi atau dalam bahasa Bali sering disebut Ngaben.

Namun, hal ini tidak berlaku di Desa Trunyan Bali yang memang sudah memiliki tradisi sendiri untuk menguburkan jenazah warganya.

Di sana warga melakukan pemakaman dengan cara meninggalkan tubuh orang yang sudah meninggal di bawah pohon tanpa perlu dikremasi.

Jenazah atau mayat tersebut sengaja dibiarkan membusuk di permukaan tanah yang dangkal, berbentuk cekungan panjang di udara yang terbuka.

Menariknya, jenazah tersebut tidak mengeluarkan bau busuk dan tidak dihinggapi serangga atau ulat.

Hal tersebut bisa terjadi karena bau harum yang dikeluarkan oleh pohon besar bernama Taru Menyan yang ada di sekitar tempat pemakaman.

Melansir Portal Informasi Indonesia, (8/11) dikatakan bahwa dalam sejarahnya, asal-usul pemakaman ala Mepasah ini bermula dari Ratu Sakti Pancering Jagat saat dahulu masih menjadi raja di Trunyan.

Perintah pemakaman itu dilakukan dengan niat untuk mengurangi dampak harum pohon Taru Menyan yang menyebar ke mana-mana.

Istilah pemakaman “Mepasah” sendiri bukanlah nama pemberian dari masyarakat Desa Trunyan, melainkan nama yang diberikan oleh masyarakat Hindu-Bali.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore