Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Juli 2022 | 12.48 WIB

Ritual Ma’nene, Bukan Mayat Ratusan Tahun Hidup Kembali

Photo - Image

Photo

BLOG clickbait rupanya punya cukup banyak konten untuk menyebar informasi palsu. Termasuk hal-hal yang kaitannya dengan adat istiadat. Katanya, ada orang yang sudah meninggal selama 100 tahun dan bisa hidup kembali.

”Subhanallah. Dua Orang Ini Sudah 100 Tahun Meninggal, Tetapi Mereka Bisa Hidup Kembali,’’ begitu judul blog FACTC.XYZ. Agar terlihat meyakinkan, blog tersebut memperlihatkan dua orang yang mirip jenazah diawetkan.

Nah, dalam keterangan blog tersebut jangan harap menemukan fakta yang sesungguhnya. Narasi blog itu hanya menyadur dari berbagai tulisan yang kaitannya dengan hadis dan Alquran. Maksudnya ingin berbagi kisah, tapi tak selaras dengan foto tersebut (bit.ly/100TahunHidupLagi).

Faktanya berdasar penelusuran, foto-foto tersebut tidak terkait sama sekali dengan judul sebagai orang yang sudah meninggal 100 tahun lalu dapat hidup kembali. Foto itu memperlihatkan sebuah tradisi dan ritual dari Tana Toraja bernama Ma’nene.

Salah satu blog yang mengunggah foto identik itu adalah Jelajah Papua pada Agustus 2014. Blog tersebut menjelaskan, Ma’nene merupakan ritual mengeluarkan mayat dari kuburan.

Mayat yang dikeluarkan dari kuburan adalah mayat yang sudah dikubur puluhan tahun. Durasi lama kuburan itu mulai 20–30 tahun, bahkan ratusan tahun. Tujuannya adalah untuk membersihkan mayat dari debu, kemudian dijemur. Bahkan, ada yang diganti bajunya. Anda dapat membacanya di bit.ly/AdatToraja.

Jawapos.com juga mengulas ritual adat tersebut. Orang Toraja umumnya memahami nene atau nenek sebagai orang tua dari orang tua kita atau orang yang sudah sepuh. Namun, di Tonga Riu, nene artinya mayat. Mau sudah berusia senja atau masih belia saat meninggal, panggilannya sama-sama nene. Dengan imbuhan ”ma” di depannya, Ma’nene bisa diartikan ”merawat mayat”.

Bagi masyarakat Toraja Utara di pedesaan, Ma’nene memang merupakan tradisi untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada anggota keluarga yang telah berpulang. Marten L. Bumbungan, salah seorang tokoh masyarakat di Tonga Riu, menjelaskan bahwa kasih sayang yang dimaksud lewat Ma’nene itu ditunjukkan dengan membersihkan atau mengganti baju dan kain jenazah.

Konteks merawat itu, antara lain, bertujuan agar tetap bersih meski jasadnya lapuk dimakan usia. Selengkapnya, Anda dapat membacanya di bit.ly/MerawatMayat.

FAKTA

Bukan hidup kembali, melainkan tradisi perawatan bagi mayat sanak keluarga di Toraja. Tradisi itu bernama Ma’nene atau merawat mayat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore