Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Januari 2018 | 01.19 WIB

Menjawab Rumor Bahaya Kepala Ikan Mengandung Racun Ciguatoksin

Potongan gambar hoax tentang kepala ikan yang disebar lewat Facebook Page Mejiku - Image

Potongan gambar hoax tentang kepala ikan yang disebar lewat Facebook Page Mejiku

HOAX yang satu ini pasti bukan dibuat penjual nasi padang. Atau penjual sup kepala ikan Batam. Ya, belakangan banyak beredar disinformasi soal bahaya makan kepala ikan. Katanya, kepala ikan mengandung racun ciguatoksin.



Jawa Pos menemukan informasi itu dari fans page Facebook Mejiku. Fans page tersebut diikuti 712.190 pengguna Facebook. Di antara konten-konten yang disebarkan situs tersebut, banyak yang diragukan kebenarannya. Mayoritas yang dibagikan adalah link tulisan dari blog ragamberita.com. Mungkin fans page Mejiku dan blog itu dikelola orang yang sama.



Salah satu konten yang disebarkan adalah bahaya makan kepala ikan karena mengandung ciguatoksin. Racun tersebut berasal dari dinoflagellata, yakni mikroorganisme laut yang menempel dan tumbuh pada karang mati. Ciguatoksin akan terakumulasi dalam kepala dan sisik ikan.



Menurut blog tersebut, salah satu ikan yang berbahaya dan sering dikonsumsi masyarakat ialah kerapu. Blog itu mengatakan, informasi tersebut diperoleh dari booklet Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).



"Secara umum, informasi yang disampaikan blog itu hoax parah," ujar Aquaculture and Fisheries Improvement Manager WWF Habib Abdullah. Menurut Habib, ciguatera yang menyebabkan ciguatoksin hanya terjadi kalau ada red tide atau alga bloom.



Selain itu, alga bloom terjadi di daerah tengah laut. Alga bloom tercipta karena nutrient dari dasar laut teraduk dan terbawa ke permukaan, kemudian mendapatkan cukup sinar matahari. Akibatnya, jumlah fitoplankton dan zooplankton meledak. Itulah yang akhirnya disebut red tide.



Kejadian red tide itu banyak ditemukan di Florida, AS, dan Selandia Baru. "Di Indonesia jarang ada red tide," jelasnya. Lantaran red tide terjadi di tengah laut, tidak semua ikan karang mengandung ciguatoksin. Karena itu, minim kemungkinan ikan karang yang berada di pesisir terkena ciguatoksin.



Dari penelusuran yang dilakukan Jawa Pos, kemungkinan blog ragamberita yang mengunggah tulisan tersebut terinspirasi dari artikel salah satu portal berita mainstream. Ya, sebuah portal berita mainstream pernah membuat tulisan yang sama pada 30 Mei 2016. Sedangkan blog ragamberita mengunggah tulisannya pada 9 Januari 2018.



Tulisan yang dibuat media mainstream itu sumbernya hanya sebuah blog. Yakni lintaskesehatan.com. Dari konfirmasi yang didapat dari BPOM, booklet yang dimaksud sebagai referensi tentang ikan berbahaya memang pernah dibuat. Tapi lama sekali dan sudah dimusnahkan.



---


FAKTA


Sangat kecil kemungkinan ikan karang di kawasan pesisir, seperti di Indonesia, yang mengandung ciguatoksin.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore