Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Agustus 2026 | 06.55 WIB

Ancaman Siber Kuantum: Data yang Dicuri Hari Ini Bisa Dibaca di Masa Depan

Wamenkomdigi Nezar Patria. (Dok. Komdigi) - Image

Wamenkomdigi Nezar Patria. (Dok. Komdigi)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa perkembangan teknologi komputasi kuantum berpotensi menghadirkan tantangan baru bagi keamanan siber Indonesia. 

Salah satu ancaman yang perlu diantisipasi adalah praktik harvest now, decrypt later. Dalam skenario tersebut, pelaku siber mencuri data yang saat ini masih terlindungi enkripsi, kemudian menyimpannya hingga teknologi komputasi kuantum berkembang dan memungkinkan data tersebut dibuka.

 Pelaku tidak perlu memiliki kemampuan untuk mendekripsi informasi yang dicuri saat serangan berlangsung. Data cukup dikumpulkan dan disimpan untuk kemudian dimanfaatkan ketika teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia. 

“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Wamen Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8). 

Menurut Nezar, potensi tersebut membuat strategi perlindungan data harus mulai disiapkan untuk menghadapi kemampuan teknologi yang belum tersedia secara luas saat ini. 

Sistem keamanan digital, kata dia, tidak bisa hanya dirancang berdasarkan kemampuan komputasi yang ada sekarang. Indonesia juga perlu mempersiapkan teknologi kriptografi yang tetap aman ketika komputer kuantum memiliki kemampuan untuk memecahkan algoritma enkripsi konvensional. 

“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya. 

Persiapan tersebut dinilai penting karena informasi yang berhasil dicuri hari ini masih dapat mempunyai nilai strategis pada masa mendatang. Karena itu, rancangan infrastruktur dan arsitektur digital harus mulai memperhitungkan potensi ancaman dari teknologi kuantum. 

Selain komputasi kuantum, perubahan pola serangan siber juga menjadi perhatian pemerintah. Pengalaman serangan ransomware yang menyasar Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pembelajaran dalam mengevaluasi sistem keamanan digital pemerintah. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore