Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 00.42 WIB

Masih Jadi Tantangan di Indonesia, 24 Persen Responden IT Identifikasi Data Mereka sebagai Dark Data

Hitachi Vantara State of Data Infrastructure mengungkap hasil survei terbaru mengenai dark data di Indonesia. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Hitachi Vantara State of Data Infrastructure mengungkap hasil survei terbaru mengenai dark data di Indonesia. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Volume dark data tengah meningkat dan menjadi persoalan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Bahkan sebanyak 24 persen responden IT di Tanah Air mengidentifikasi data mereka sebagai dark data.

Hal ini berdasarkan hasil survei terbaru dari Hitachi Vantara State of Data Infrastructure. Dark data sendiri merupakan informasi yang dikumpulkan tapi tidak dimanfaatkan untuk menghasilkan wawasan bisnis.

Persentase ini jauh di atas rata-rata global sebesar 10 persen. Survei ini juga menemukan bahwa tantangan terbesar yakni kepercayaan dan ketersediaan data. Hal ini dibuktikan hanya 14 persen responden yang menyatakan data mereka tersedia saat dibutuhkan dan hanya 6 persen yang mempercayai hasil keluaran model AI.

Survei ini melibatkan 50 responden di Indonesia dari total 1.200 responden global dan mencakup beragam industri, termasuk kesehatan dan life sciences yang mencapai 28 persen, manufaktur 20 persen dan IT 18 persen.

Di sisi lain, tentu membutuhkan langkah strategis untuk menghadapi tantangan dark data dan memaksimalkan potensi AI. Perusahaan harus membangun kerangka tata kelola data yang kokoh. Dengan hal ini, data bisa diklasifikasikan, dikelola, dan dimanfaatkan secara efektif. 

Analitik berbasis AI juga bisa dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menggali wawasan berharga dari dark data dan mendukung pengambilan keputusan yang tepat.

“Organisasi yang berorientasi pada data dan memprioritaskan tata kelola serta analitik berada dalam posisi yang lebih baik untuk mendorong inovasi dan tetap kompetitif dalam lanskap digital yang terus berkembang,” ujar Ming Sunadi, Country Managing Director Indonesia Hitachi Vantara di Jakarta, Rabu (27/8).

Sementara itu, perusahaan di Indonesia diproyeksikan meningkatkan investasi AI hingga 124 persen. Hal ini mencerminkan komitmen kuat terhadap transformasi digital. 

Sejalan dengan itu, kebutuhan penyimpanan data diperkirakan melonjak 29,6 persen dalam dua tahun mendatang, menuntut solusi yang skalabel, aman, dan mudah diakses.

Adopsi AI semakin gencar, dengan 80 persen responden bekerja sama dengan Global Systems Integrators (GSI) untuk memastikan integrasi mulus ke operasional bisnis. Pendekatan yang digunakan pun beragam dengan 74 persen memanfaatkan model AI gratis/open-source, sementara 62 persen menggunakan solusi berbayar untuk menyeimbangkan efisiensi biaya dan kustomisasi.

Meski berkembang, tantangan tetap ada, terutama di sisi keamanan dan tata kelola data. Kekhawatiran tersebut meliputi ketidakmampuan memulihkan data akibat kesalahan internal AI (50 persen), risiko serangan siber berbasis AI (32 persen), dan potensi denda regulator akibat kebocoran data (39 persen). 

Dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan penyimpanan hingga 29,6 persen, kesiapan data dan tata kelola menjadi mendesak untuk mendukung ketergantungan pada AI serta menjaga efisiensi operasional di tengah lanskap digital yang terus berubah.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore