Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Februari 2018 | 02.09 WIB

Proxy Kerap Dipakai Akses Konten Porno, Kemenkominfo Pasrah?

Menkominfo Rudiantara (ketiga tiga dari kanan) dalam sebuah diskusi di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/2). - Image

Menkominfo Rudiantara (ketiga tiga dari kanan) dalam sebuah diskusi di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/2).

JawaPos.com - Situs berkonten negatif seperti pornografi menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Sejauh ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah memblokir ratusan ribu situs negatif. Namun, pemblokiran tersebut rupanya tidak semata-mata menghentikan peredaran materi-materi tak layak tayang ini.


Menkominfo Rudiantara mengungkapkan, sampai akhir 2017, pihaknya berhasil memblokir sekitar 800 ribu situs bermuatan negatif. Berdasar angka tersebut, mayoritas berisikan konten pornografi.


"Sampai akhir 2017 itu ada hampir 800 ribu, angkanya 787 ribu dan kebanyakan dengan pornografi," ungkap Rudiantara di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/2).


Di awal 2018 sendiri, lanjut dia, terhitung hingga pertengahan Januari sudah banyak sekali situs berkonten negatif yang telah diblokir. Diperkirakan jumlahnya mencapai 70 ribu situs. Sedangkan isi konten dari situs tersebut beraneka ragam mulai dari pornografi hingga kekerasan seksusal.


Efektifitas penutupan konten tersebut juga dibantu dengan alat penyaringan situs negatif milik Kemenkominfo. Berpatokan dengan fakta tersebut, Rudiantara menyebut bahwa pemerintah mampu mengelola peredaran materi tidak lulus sensor dengan baik.


"Januari baru dengan mesin yang baru ini sudah ketangkep ada sekitar 70 ribu (situs), pemerintah makin mampu memanajemen konten negatif," imbuh Rudiantara.


Namun hingga saat ini Kemenkominfo masih memiliki kendala, pasalnya masih ada oknum nakal yang menggunakan cara alternatif seperti proxy untuk membuka situs yang telah diblokir.


Rudiantara mengaku bahwa penggunaan proxy sangat sulit untuk dikendalikan oleh pemerintah. Pasalnya, teknologi selalu memiliki celah untuk dimanfaatkan oleh oknum nakal.


Meski demikian, Rudiantara menegaskan bahwa pengguna proxy terbilang sedikit, sehingga masih lebih diuntungkan jika dibanding dengan jumlah situs yang telah ditutup.


"Namanya teknologi selalu ada (kekurangan), tapi selalu kita sampaikan pakai proxy yang bisa berapa orang sih? Daripada jutaan situs yang kita (blokir) sampai akhir 2017 itu," pungkas Rudiantara.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore