Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Juli 2025 | 18.19 WIB

GSMA Sebut Ekonomi Digital Asia Pasifik Tumbuh Pesat, Tapi Masih Terhambat Biaya dan Akses Internet

Ilustrasi smartphone membutuhkan sinyal seluler untuk bisa terkoneksi. (Talk Home Blog) - Image

Ilustrasi smartphone membutuhkan sinyal seluler untuk bisa terkoneksi. (Talk Home Blog)

JawaPos.com-Kontribusi sektor teknologi dan layanan seluler terhadap perekonomian Asia Pasifik terus meningkat pesat. Menurut laporan Mobile Economy Asia Pacific 2025 yang dirilis GSMA pada Digital Nation Summit di Singapura, sektor ini menyumbang USD 950 miliar atau sekitar 5,6 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan pada 2024. 

Angka ini diperkirakan melonjak menjadi USD 1,4 triliun pada 2030, seiring meluasnya adopsi 5G, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI) di wilayah ini.

Namun, laporan tersebut juga mengingatkan bahwa kemajuan ini bisa terhambat jika tantangan mendasar seperti mahalnya biaya spektrum dan kesenjangan akses di daerah terpencil tidak segera diatasi.

5G, Lapangan Kerja, dan Ancaman Penipuan Digital

Transformasi digital yang dipicu oleh konektivitas seluler turut mendorong penciptaan sekitar 16 juta lapangan kerja di Asia Pasifik pada 2024. Itu menghasilkan lebih dari USD 90 miliar untuk kas negara, di luar penerimaan dari biaya spektrum dan regulasi.

Sejak 2019, operator telekomunikasi telah menggelontorkan dana sebesar USD 220 miliar untuk mengembangkan jaringan 5G. Rencananya menambah investasi hingga USD 254 miliar sampai 2030.

Meski demikian, adopsi 5G di kawasan ini baru mencakup sekitar 18 persdn koneksi seluler pada 2024 dan diprediksi baru menyentuh angka 50 persen di akhir dekade. Namun, laporan tersebut juga menyoroti munculnya ancaman baru berupa ekonomi penipuan digital yang menyedot lebih dari USD 1 triliun secara global tahun ini.

Semakin meluasnya penggunaan perangkat IoT dan jaringan 5G membuka celah bagi serangan siber yang lebih kompleks. Untuk menanggulangi risiko ini, operator di kawasan mengadopsi sistem deteksi penipuan berbasis AI dan model keamanan zero-trust

Salah satu inisiatif penting adalah pembentukan Asia Pacific Cross-Sector Anti-Scam Taskforce (ACAST) oleh GSMA. Melibatkan operator dan platform digital di 16 negara untuk berbagi intelijen, meningkatkan kesadaran publik, serta memperkuat inovasi teknologi dalam menghadapi penipuan.

GSMA juga mengembangkan inisiatif Open Gateway yang memungkinkan standarisasi API jaringan, memberi peluang bagi pengembang dan perusahaan untuk menyematkan fitur keamanan langsung ke dalam aplikasi digital mereka.

Tantangan Regulasi dan Investasi

Julian Gorman, Head of Asia Pacific di GSMA, menegaskan bahwa konektivitas seluler adalah oksigen bagi transformasi digital kawasan ini. Namun dia juga mengingatkan bahwa biaya spektrum telah naik tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir, sementara 48 persen populasi Asia Pasifik masih belum memiliki akses internet yang memadai.

"GSMA mendesak pemerintah di kawasan untuk menerapkan strategi spektrum yang lebih berkelanjutan, mempercepat pembangunan infrastruktur digital di wilayah yang belum terlayani, serta menciptakan regulasi yang mendukung inovasi tanpa mengabaikan perlindungan konsumen," catat Gorman melalui keterangannya.

Sebagai informasi, GSMAadalah asosiasi industri global yang mewakili kepentingan operator seluler di seluruh dunia. Organisasi ini terdiri atas lebih dari 750 operator termasuk di Indonesia dan sekitar 400 perusahaan lainnya dalam ekosistem telekomunikasi. Itu mencakup produsen perangkat, penyedia infrastruktur jaringan, perusahaan teknologi, serta pelaku digital lainnya.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore