Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Agustus 2023 | 14.43 WIB

Menakar Potensi Terbangnya Satelit Satria-1, Yakin Banyak Manfaatnya?

Jumpa pers terkait potensi Satelit Satria-1. (RianAlfianto/JawaPos.com). - Image

Jumpa pers terkait potensi Satelit Satria-1. (RianAlfianto/JawaPos.com).

JawaPos.com - Satelit Republik Indonesia pertama atau yang dikenal dengan Satria-1 telah diluncurkan pada 19 Juni 2023 dan akan mengisi orbit di 146 Bujur Timur (BT). kapasitas 150 Gbps, satelit ini akan menghadirkan layanan internet di 50.000 titik fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, kantor pos, dan lain-lain.

Namun bagaimana Satria-1 bisa diandalkan dalam perannya memacu ekonomi digital di Indonesia, terutama di wilayah terdepan, tertinggal dan terluar (3T)? Ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Bakti (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dalam membuat semua warga di seluruh Indonesia dapat terkoneksi.

Data BAKTI menyebut jika penetrasi internet di Indonesia pada 2023 baru mencapai 78,19 persen dengan 87,55 persen merupakan penetrasi di wilayah Urban, sedangkan di wilayah rural baru 79,79 persen.

Project Manager Satria-1, PT Pasifik Satelit Nusantara, Nia Asmady mengatakan bahwa tidak mudah dan butuh waktu lama untuk membuat Satria-1 sampai bisa meluncur pertengahan Juni kemarin. Kini, satelit sedang bergerak menuju orbit dengan sistem propulsi elektrik, yang disebut sebagai salah satu inovasi teknologi satelit terkini.

"Satelit masih dalam masa orbit raising, sampai dengan November 2023. Setelah sampai di orbit 146E, akan dilakukan uji coba akhir untuk sistem payload (In-Orbit Testing) dan juga sistem secara secara keseluruhan (End-to-End Testing) sebelum memulai Masa Operasi. Instalasi komponen ruas bumi seperti RF equipment dan sistem monitoring masih berjalan. Perencanaan untuk deployment kapasitas masih dalam tahap finalisasi," papar Nia dalam Talkshow yang diadakan Forum Wartawan Teknologi (Forwat) di Jakarta, Senin (31/7).

Proses yang lama ini dinilai patut diapresiasi karena menurut Guru Besar Universitas Airlangga, Prof. Henri Subiakto, dampak satelit Satria-1 akan sangat luar biasa. Pasalnya, kata dia, ketika jutaan manusia terkoneksi secara teknologi, mereka juga akan terkoneksi secara sosial, politik, dan ekonomi.

Namun begitu, Henri menyebut, Satria bukan milik Kemenkominfo atau Bakti, melainkan milik Republik Indonesia. Jadi seluruh Kementerian dan Lembaga harus memanfaatkannya sesuai tren program transformasi digital.

"Segera diwujudkan unit yang bertanggung jawab dan mengoperasionalkan pelayanan dan pemanfaatan Satelit Satria secara kolaboratif. Dengan demikian, kedaulatan Indonesia di darat dan di angkasa bisa dijaga dengan Satria," ujar Henri dalam kesempatan yang sama.

Pasalnya, menurut dia, dengan 50 ribu terminal yang akan dilayani Satria tidak hanya untuk layanan ekonomi, kesehatan dan sosial politik, tapi Satria-1 bisa juga untuk menjaga wilayah NKRI, khususnya untuk penegakan hukum di laut, di hutan- hutan terpencil, dan untuk jaringan internet bagi kepentingan administrasi militer.

"Dengan Satria-1 yang merupakan milik RI dan dikendalikan Indonesia, tentu sangat relevan untuk menjaga kedaulatan internet negeri. Beda dengan kalau kita menggunakan satelit Starlink milik Elon Musk, misalnya. Apalagi satu wilayah Indonesia membutuhkan ribuan unit Starlink, berbeda dengan Satria-1 yang hanya butuh satu saja untuk saat ini," papar Henri lebih jauh.

Kepala Divisi Infrastruktur Satelit Bakti Kominfo, Sri Sanggrama Aradea juga dalam kesempatan tersebut mengungkap bahwa peluncuran Satria-1 digadang mampu menuntaskan kebutuhan sinyal internet, khususnya di wilayah 3T di Indonesia.

Pasalnya, meski Bakti telah menyediakan infrastruktur BTS di 1.882 lokasi, pembangunan Very High-Throughput Satellite (VHTS) Satria-1 masih sangat dibutuhkan untuk memberi akses internet pada 50.000 fasilitas publik yang ditargetkan selesai hingga 2025.

Ditambah pula dengan Hot Backup Satellite (HBS) yang ditargetkan dapat beroperasi pada Q4 2023 dengan kapasitas 80 Gbps melalui 7 stasiun bumi. Satelit ini disiapkan sebagai infrastruktur cadangan Satria-1.

Selain itu, pada 2024 - 2026, Pembangunan twin satellite yang masing-masing dinamakan Satria 2A dan 2B juga sudah direncanakan. Diprediksi kedua satelit itu akan memberikan total kapasitas sebesar 300 Gbps agar layanan internet yang tersedia semakin andal dan cepat.

Dipaparkan Aradea, layanan akses internet 2023 yang diusulkan Bakti total ada 163.356 lokasi. Namun tahun ini baru 14.360 jumlah lokasi akses internet yang sudah melayani. Ada 91.166 yang belum ter-cover BTS 4G atau transmisi fiber optik, sedangkan 53.198 lokasi sudah tercover dan berpotensi migrasi. Lalu ada 10.000 RTGS diproyeksikan untuk dibangun di awal COD Satria-1 sampai Q1 2024, dimana per RTGS AI mendapatkan akses 4 Mbps.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore